Nyanyikanlah Sekali Lagi

By Erny Kurniawati - 18.03.00

(Sinta Maharani)
Nyawaku belum sepenuhnya berkumpul saat aku sadar dari pinsanku. Ada banyak orang yang sedang mengerumuniku sekarang. Aku sadar ternyata aku berada di UKS. Ada Fatia, Erika dan Bu Hana, sedang yang lainnya aku belum mengenalnya.
Namaku Sinta Maharani, baru dua bulan bersekolah di SMA Bhakti Mulia ini. Namun jangan salah, walaupun baru dua bulan aku sudah terkenal. Terkenal dengan penyakit di tubuhku yang selalu membuatku pinsan, seperti hari ini. Ku lihat Fatia cemas memandangiku. Dia sahabatku yang selalu ku repoti dengan urusan sakit ini.
“Sinta, udah sadar? Mau minum?” tawar Fatia. Aku menggeleng, kepalaku masih sangat pusing. Tak berapa lama Bunda datang. Aku sudah biasa membuatnya menangis saat melihat diriku tergolek lemah.
Penyakit kanker hati ini memang sudah lama bersemayam di ragaku. Namun selama ini dia jinak. Selama 7tahun aku hidup melawan sakit ini. Dan aku selalu berhasil, tidak seperti dua bulan belakangan. Di umurku yang masih 17tahun aku harus menerima vonis jika hidupku takkan lama lagi. Awalnya aku takut mendengar ucapan dokter itu. Dunia seakan menghujatku dan akan segera mengusirku. Tapi itu dulu. Kalau sekarang sudah tidak lagi. Malah aku berharap segera mati agar orang-orang terdekatku tak akan merasa repot serta khawatir mendapati kankerku mengamuk. Di samping itu, aku tahu jika aku mati berarti aku tak perlu memikirkan Adrean lagi.

Adrean Aldiansyah mahasiswa UGM Fakultas Kedokteran. Dia-lah obat yang membuatku bisa bertahan, tapi dia juga racun yang membuat sakitku semakin parah seperti saat ini. Dia orang pertama yang membuatku optimis hidup. Bukan berarti sebelumnya aku tak pernah optimis, tapi setidaknya kehadirannya membuatku semakin yakin bisa melawan takdir hidupku. Dulu aku selalu dibimbingnya untuk merajut hidup ke depan. Dia selalu membuatku tertawa, membius rasa sakit di tubuhku dan dia juga yang selalu tampak paling khawatir saat aku merasa pusing hebat yang disebabkan kankerku. Adrean memang sosok lelaki dewasa yang memberiku semangat dan obat termujarab.
Hari ini lagi-lagi aku harus opname di rumah sakit. Aku bosan dengan aroma obat yang menyengat indra penciumanku setiap waktu. Mau bagaimana lagi? Aku ini tak lebih dari gadis belia yang penyakitan dan harus selalu bersahabat dengan obat. Aku nikmati perih di urat nadiku yang tertembus jarum infus. Tadi samar-samar ku dengar penyakitku semakin nakal. Semakin liar. Aku juga mendengar ibu terisak pelan. Sejenak aku diam memandangi langit-lagit kamar rumah sakit yang kutempati. Pikiranku melayang jauh. Kembali ke Jogja tempat dimana aku bersekolah dan mengenal Adrean dulu.
Keadaanku memnag terus memburuk sejak berpisah dengan Adrean. Bahkan aku pindah ke Lampung pun karena aku berharap bayang-bayang Adrean akan hilang ditelan Selat Sunda. Tapi ternyata tidak. Meski ragaku jauh darinya tapi hatiku masih terikat erat oleh bayangnya. Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Dalam hati aku menhujat diriku yang seketika jadi lemah begini. Aku merasa bodoh mendekatkan kematianku dengan terus memikirkan seorang lelaki yang belum tentu meluangkan otaknya untukku. Bunda masuk kekamar dengan tersenyum. Ku yakin senyum itu hanya sabotase untuk membuatku merasa senang dan tenang. Aku segera menghapus jejak aliran sungai bening dari kelopak mataku.
“Sinta masih sakit?” tanya bunda cemas seraya mengelus kepalaku. Aku menggeleng. Bunda tiba-tiba menagis. Dia terus mengecupi keningku dan membelai rambutku.
“Bunda kenapa?” tanyaku bingung.
“Sayang kita besok harus kembali ke Jogja.” Jawab bunda sambil terus terisak.
“Lho kenapa bunda? Sinta nggak mau ke Jogja.”
“Sinta, bunda minta kamu optimis ya.”
“Maksud bunda apa?”
“Sinta, kanker kamu semakin parah.” Suara ibu terpotong oleh tangisnya yang semakin keras. Aku hanya diam saja. Dan pikiranku kembali terbang ke kota gudeg itu. Jujur aku tak ingin menginjakkan kakiku disana. Terlalu banyak kenangan manis yang sekarang berubah menjadi duri-duri tajam menusukku.
***
Aku menurut saja apa yang di kehendaki bunda. Ayah terlihat sama seperti bunda. Sama-sama cemas melihatku yang semakin hari semakin memucat saja. Pesawat Garuda Airlines membawa terbang tubuh penyakitanku ke kota kelahiranku dulu. Hanya di butuhkan waktu enam puluh menit untuk menempuh jarak antara Lampung-Jogja. Akhirnya tiba juga aku di kota budaya itu. Baru dua bulan aku meninggalkannya tapi aku sudah sangat , merindukannya. Aku tersenyum menghirup hawa khas kota ini. Diam-diam perih itu menyelinap dalam hatiku lagi. Aku masih tak habis pikir berada di sini lagi. Adrean hadir lagi. Menjengukku dalam imajinasiku. Aku diam dalam taxi yang akan membawaku ke RS. Internasional Jogja. Aku memandangi suasana jalan yang masih sama seperti bebrapa bulan lalu. Lamunanku terus berkelana, hingga aku mendapati alasan bahagia untuk berada disini. Ya, aku akan cepat mati disini. Sebab luka batinku semakin hebat saja sama persis dengan kanker hati yang dengan ganas mengalih fungsikan hatiku.
Akhirnya aku dipapah bunda memasuki ruang register pasien. Dari luar aku memang nampak biasa saja, hanya sedikit pucat. Namun aslinya aku sedang dalam keadaan yang begitu kritis. Dengan kursi roda aku memasuki kamar VIP rumah sakit ini. Sebelumnya aku belum pernah di rawat disini jadi bagiku ini suasana baru. Selama aku di Jogja aku tak pernah di rawat berkali-kali layaknya di Lampung. Penyakitku semakin menjadi sejak aku berpisah dengan Adrean tiga bulan lalu. Padahal saat itu aku langsung minta pindah ke kota asal ayahku.
Aku merasa bosan memandangi taman belakang rumah sakit dengan kursi ini. Bunda masih di belakangku. Dia begitu setia mendorong kursi ini kemanapun aku mau.
“Bunda, aku pengen dengerin radio disini.” kataku pada bunda.
“Sebentar sayang bunda ambilin headsetnya dulu ya, kamu jangan kemana-mana.” Bunda berlalu menuju kamar rawatku. Tak lama kemudian bunda sudah kembali dengan permintaanku. Dia menyerahkan handphone dan headsetnya.
Aku duduk menikmati suasana sore di rumah sakit paling bagus di kota gudeg ini. Matahari mulai beranjak dari kerajaannya. Dia mulai berubah warna menjadi ke-emasan. Senja datang. Tanpa ku tahu lagu yang sedang ku dengarpun berganti. Dan lagu best of me milik Daniel Powter menggema rongga telingaku. Aku seperti tertusuk-tusuk sembilu. Lagu ini lagi favoritku. Lagu yang Adrean beri untukku saat memintaku untuk menjadi bagian hidupnya. Kepalaku tiba-tiba pening. Aku sudah hafal. Keadaanku selalu saja memburuk setiap otakku mulai sibuk berkutat dengan bayangan Adrean. Dan lagi-lagia aku tak sadarkan diri.
****
Aku memicingkan mataku. Tanpa dikomando ayah dan bunda langsung menciumiku. Oh aku ingat, aku baru saja pinsan. Tapi jam di dinding ruang rawat ini menunjukkan pukul 17.00. Aku bingung. Apa aku pinsan selama sehari semalam? Entahlah…
“Sinta akhirnya kamu sadar juga.” Kata ayah seraya menciumi pipiku dan ini pertama kalinya ku lihat ayah menangis.
“Sinta pinsan berapa jam yah?” Tanyaku dengan suara tertahan.
“Kamu hampir sehari semalam tak sadarkan diri sayang.” ujar bundaku.
Aku merasa sangat bersalah membuat mereka cemas seperti ini. Bunda dan ayah tak pernah tahu mengapa aku seperti ini. Yang mereka tahu, kankerku memuncak karena sudah lama berkembang. Padahal tidak.
Hari berikutnya, teman-teman sekolahku dan teman sekompleksku datang silih berganti menjenguk. Aku tersenyum melihat kepedulian mereka. Tapi aku merasa kurang karena tak ada dia, obatku. Aku diam mengamati setiap jengkal langit-langit ruangan ini. Malam sudah larut, ayah dan bunda sudah terlelap di sofa samping pembaringan. Mataku belum juga menutup. Aku sangat merindukan Adrean.
****
Masih seperti hari sebelumnya. Aku tergolek lemah di ranjang sempit ini. Sejak kejadian pinsanku dua hari lalu, aku jadi dilarang duduk terlalu lama. Aku disarankan untuk terus berbaring seperti ini. Sore ini aku memaksa bunda untuk mengajakku berkeliling taman rumah sakit. Aku senang melihat bunga-bunga yang mekar dan tersenyum padaku.
“Bu, tolong mbak Sinta di bawa ke kamar. Sebentar lagi dokter akan memeriksa.” Perintah suster pada bunda. Bunda mendorong kursi rodaku. Saat kursi rodaku memasuki ruagan sudah ada seorang dokter yang berdiri disana memandang keluar jendela. Dia membelakangi kami. Aku memandangnya beberapa saat. Aku mengenali tubuh itu. Ah tapi mana mungkin. Ku hapus pikiran yang sempat terlintas dalam benakku. Dokter itu membalikan badannya dan alangkah kagetnya aku. Yang di hadapanku saat ini adalah Adrean. Ya dia Adrean. Aku mengucek mataku berkali-kali, sekedar memastikan penglihatanku tidak salah. Dan benar aku tidak salah. Adrean pun sama kagetnya seperti aku. Dia setengah tak percaya melihat pasiennya saat ini. Aku dan dia sama-sama kehilangan alam sadarnya. Hingga dokter Herman memasuki ruanganku. Aku tak tahu bunda seperti apa melihatku dan Adrean sama-sama terpaku.
“Lho dokter Adrean udah dipriksa kan pasien kita ini?” Tanya dr.Herman memecah kekakuan ini.
“Be.. belum dok.” Jawab Adrean terbata
“Periksa dulu saya ingin berbincang dengan ibunya.” Perintah dr. Herman. Adrean melaksanakan tugasnya. Sejuta rasa itu tiba-tiba hadir begitu saja. Debar jantungku tak mampu ku sembunyikan, keringat dinginku pun terus keluar. Aku grogi setengah mati.
“Bu.. buka sedikit ya Sin. Aku mau periksa.” Suruhnya dengan mimic canggung. Aku hanya mengangguk. Dia memeriksa detak jantungku. Tentu saja tak teratur. Bagaimana mau konstan kalau yang menjadi dokternya dia.
Aku menahan airmata yang menyesakkan kelopak mataku. Aku ingin bicara banyak padanya. Aku sangat-sangat merindukannya. Tapi aku malah diam. Bibirku seketika jadi bisu dan aku kalah. Air mata itu melesak keluar. Dia menang berperang dengan perisaiku. Adrean melihatku menangis. Aku ingin teriak dan berlari, sebab aku tak tahan berada satu ruang dengannya. Bunda masih berbincang dengan dr. Herman di luar ruangan. Sementara aku masih ditemani Adrean.
Adrean terus melihat air mata yang mengalir di kedua pipiku. Dulu dia selalu tak tahan melihatku menangis jika kankerku mengamuk. Memang sama aku menangis juga saat ini, namun sebabnya berbeda. Adrean mendekatiku. Dia merogoh saku celana kain hitamnya. Sapu tangan pemberianku dulu masih dia jaga. Dia menghapus aliran sungai kecil di depannya. Aku diam. Aku menikmati lembut sentuhan sapu tangan itu.
“Jangan nangis sayang. Kamu pasti sembuh.” Ucapnya pelan sambil terus mengeringkan wajahku. Aku tercengang mendengar ucapannya. Itu ucapannya yang selalu menjadi semangat hidupku. Adrean tersenyum padaku. Pintu kamarku dibuka oleh bunda, di belakangnya ada dr. Herman.
“Udah kamu periksa?” tanyanya pada Adrean.
“Sudah dok. Ini hasilnya.” Adrean menyerahkan kertas catatan hasil periksaanku pada dr. Herman. Lalu dr. Herman memeriksakau ulang. Dan dia tersenyum kemudian berlalu.
Malam sudah semakin larut. Aku belum juga merasa lelah. Aku masih ingin membiarkan mataku tetap terbuka. Ku lihat bunda sudah memejamkan mata, ayah juga. Aku masih mengingat kejadian sore tadi. Kepalaku tiba-tiba pusing lagi. Aku mencoba menutup mataku sebelum aku benar-benar pinsan. Tapi usahaku patah saat pintu kamarku diketuk dari luar. Ayah bangun dan membuka pintu kamarku.
“Om, saya mau jenguk Sinta.” suara itu terdengar samar-samar, sebab orang yang mengetuk tadi memang belum masuk. Tapi tak berapa lama sosok itu muncul. Adrean. Dia tersenyum padaku dan di tangannya ada rangkaian bunga-buga indah. Dia menyerahkannya untukku. Seperti terhipnotis, aku menerimanya tabpa sepatah katapun. Aku hanya mampu tersenyum. Dia membelai rambutku. Ayah membiarkannya. Ayah sudah tahu bahwa dulu kami pernah bersama. Hatiku bergemuruh. Ku genggam tangannya yang membelai wajahku. Aku merasakan dalam-dalam setiap aliran listrik dalam tubuhnya. Entah kenapa, saat aku menggenggamnya aku merasa pusing sekali. Kepalaku pening. Wajah Adrean lambat laun menjadi buram. Aku berusaha mengedipkan mata, tapi hasilnya sama saja. Aku semakin bingung saat penglihatanku kabur dan pusing ini lama-lama membuatku tak sadarkan diri lagi. Selanjutnya aku sudah tak tahu apa yang menimpaku.
****
(Adrean Aldiansyah)
Aku bingung mendapati Sinta yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Tangannya masih menggenggam tanganku. Aku semakin takut kalau sampai terjadi apa-apa. Selama ini aku memang sudah membuatnya menderita tapi sungguh aku terpaksa melakukannya. Aku hanya tak ingin Sinta berharap banyak padaku. Padahal aku sendiri juga memiliki sakit yang sama ganasnya dengan penyakitnya.
Aku berlari keluar memanggil dokter jaga malam ini. Aku berusaha secepat mungkin membuat Sinta bisa sadar. Aku sangat mencintainya, sangat. Tapi aku takut tak bisa bersamanya, sebab penyakit yang berdiam di paru-paruku sudah sangat parah. Melebihi parahnya penyakit Sinta.
“Dok, Sinta kenapa?” tanyaku cemas. Aku tak ingin gadis cantik di hadapanku ini kalah dengan penyakitnya.
“Adrean panggil tim dokter suruh untuk menyiapkan perawatan yang lebih intensif lagi.” Memdengar perintah dr. Herman aku langsung melaksanakannya. Yang ada di otakku sekarang adalah membuat Sinta dapat hidup. Saat ku kembali keruangannya, tante dan om sudah terisak. Wajar, Sinta adalah putri mereka satu-satunya. Aku membantu dr. Herman menangani Sinta. Sama seperti orang tuanya, aku juga tak kuasa menahan buliran airmata ini tumpah.
***
Enam hari lamanya Sinta mengalami koma. Setiap hari aku selalu datang untuk menemaninya, meskipun dia tak tahu kehadiranku. Aku jadi semakin merasa bersalah. Aku yang menyebabkannya seperti ini. Kankernya dulu tak seganas sekarang. Tapi semenjak aku meninggalkannya keadaan terus memburuk. Aku berkali-kali menghujat diriku sendiri. Aku membenci diriku. Sebagai seorang lelaki aku tak malu-malu menitikkan air mataku di hadapan orang tua Sinta. Bahkan aku pernah menangis meminta maaf karena membuat Sinta seperti saat ini. Dia tergolek lemah, tak sadarkan diri dan jarum infuse menusuk pergelangan tangannya. Dia terlihat tak berdaya. Miris aku mendapatinya kini.
Sejak semalam aku tidak pulang ke kost. Aku memilih tidur di rumah sakit menemani gadis istimewaku melewati hari-hari beratnya. Aku ingin selalu ada untuknya, sebab aku takut kehilangan sedetikpun saat-saat bersamanya.
Dr. Herman datang ke kamar Sinta. Dia mengecek keadaan pasiennya. Menurut dr. Herman, keadaan Sinta masih sama. Rencananya siang ini Sinta akan di operasi. Pukul 13.00 Sinta di masukkan ke ruang operasi. Dadaku sesak. Aku takut kehilangan gadisku. Om dan tante sama halnya denganku. Kami bertiga menunggu Sinta dengan perasaan cemas dan penuh harap. Operasi hati yang dilalui Sinta berjalan baik-baik saja. Operasi memakan waktu sekitar tiga jam. Sekitar pukul 16.05 tim dokter yang mengoperasi Sinta keluar dari ruang bedah. Kami langsung menyambut dokter-dokter itu dengan berbagai pertanyaan. Dr. Herman meminta om dan tante untuk berbincang di ruang terpisah denganku. Aku mengantar Sinta yang dipindahkan ke kamar rawat ICU-nya. Untung aku sekarang sedang praktek sebagai asisten dokter jadi aku leluasa berada di ruangan ini menungguinya.
Sinta akhirnya sadar dari komanya setelah lima jam pasca operasi. Aku sangat bahagia karena menjadi orang pertama yang dilihatnya setelah lama tertidur. Ku belai keningnya. Aku tersenyum padanya berusaha menyalurkan energy positif untuk cintaku ini. Sinta pun tampak begitu bahagia.
***
(Sinta Maharani)
Tiada hal terindah yang ku rasakan, selain melihat Adrean ada disisiku saat aku bangun dari tidur panjangku. Nyeri di bekas operasiku terbius oleh kehadirannya. Aku menggenggam erat jemarinya. Aku berjanji tak akan melepasnya. Senyumannya menjadi kekuatan lain dalam tubuhku. Aku merasa sudah sembuh. Tak bosan-bosannya aku memandangi Adrean yang terus mengecupi tanganku. Ayah dan bunda sepertinya ikut bahagia bersamaku.
Sore ini aku sudah mulai diperbolehkan untuk menghirup udara luar. Dengan kursi roda Adrean mengantarku berkeliling di taman rumah sakit ini. Adrean memetikkan bunga untukku. Aku jadi terharu, adegan ini mirip dengan sinetron-sinetron di tv.
“Adrean, wajahmu terlihat lelah sekali.” Tegurku melihat wajahnya yang mulai layu.
“Ohh, nggak papa kok. Tenang aja.” Jawabnya menenangkanku. Tiba-tiba Adrean batuk dan tanpa sengaja aku melihat ada darah yang keluar dari mulutnya.
“Adrean kamu batuk darah?” aku panic melihatnya batuk seperti itu. Yang ku tahu batuk darah merupakan tanda penyakit kanker paru-paru.
“Eh, nggak kok Sin.” ujarnya menyembunyikan telapak tangan dari mataku.
“Aku mau lihat tanganmu Adrean.” aku memintanya dengan setengah memaksa.
“Sinta, aku nggak papa.”
“Tapi aku mau lihat, aku mau lihat Adrean.” aku semakin merengek padanya. Dia pun menyerah dan membiarkanku melihat darah di tangannya.
“Adrean, kamu sakit apa?” tanyaku dengan isak tangis. Aku takut sekali kehilangan Adrean. Aku takut Adrean sepertiku. Aku tidak mau Adrean punya penyakit sepertiku.
“Nggak papa kok Sin.” dia mencoba menenangkanku. Dia jongkok di depanku seraya menggenggam erat kedua tanganku.
“Aku nggak papa sayang, aku memang punya penyakit tapi aku yakin aku akan mampu melawannya. Kita kan bersam melawan penyakit kita.” ucapnya dengan penuh kelembutan. Aku hanya bisa diam dan terisak. Ku rengkuh bahunya. Aku memeluknya, tiba-tiba rasa nyeri itu datang lagi. Dan lagi aku tak mapu menahan. Di tengah isakanku aku tak sadarkan diri tuk kesekian kalinya.
***
(Adrean Aldiansyah)
Tubuhnya masih merengkuhku. Sinta terisak pelan dalan pelukanku. Mau bagaimana lagi, akhirnya dia tahu rahasia penyakitku. Isakan Sinta lama-lama menghilang.
“Sinta, Sinta.” Aku mengoyak bahunya. Dia diam.
“Sinta, Sinta.” Dia tetap tak bergeming. Kulepas pelukannya. Alangkah kagetnya aku mengetahui Sinta pinsan dalam pelukanku. Perasaanku tak karuan. Aku takut di kenapa-napa. Tanpa pikir panjang ku bopong tubuh mungilnya dan ku bawa lari ke ruang rawatnya. Aku tak peduli terlihat seperti orang gila menjerit memanggil dokter untuk kekasihku ini. Air mataku tak bisa lagi ku tahan. Ku biarkan dia mengalir di kedua pipiku. Tante yang melihatku berlari membopong putrinya pun turut kaget. Dia menangis. Aku merasa bersalah sekali lagi. Penyakit paru-paruku sering membuatku bertindak yang berbahaya untuk Sinta. Tante menangis dengan kerasnya. Dia sama takutnya denganku. Tak berselang lama dokter sudah menanganinya. Tante di ajak dr. Herman untuk berbincang di ruang terpisah. Aku menunggui Sinta yang kembali lemah.
Tante masuk kembali ke ruang inap putrinya. Dia diam, mungkin kesal denganku yang berulang kali menyebabkan putrinya seperti ini.
“Tante, saya minta maaf.” ujarku memecah kesunyian.
“Kamu nggak salah nak, ini sudah takdirnya.” tante terlihat mencoba menhilangkan raut sedihnya. Tante yang duduk di sampingku tiba-tiba memlukku dan menangis.
“Nak, tolong bahagiakan Sinta. Hidupnya tak akan lama lagi.” kata tante dengan suara sumbang menahan emosi di setiap katanya. Aku hanya mengangguk. Tante melepaskan pelukannya padaku.
“Tante percaya kamu bisa menjadi obat buat anak tante.” tante tersenyum lagi padaku. Tiba-tiba aku batuk dan seperti Sinta, tante kaget melihat aku batuk darah.
“Nak Adrean kenapa?” tanyanya cemas melihat aku membersihkan darah yang keluar dari mulutku.
“Tidak apa-apa tante.”
“Nggak mungkin, nak Adrean sakit kan? Kamu sakit apa nak?” tante mencercaku dengan pertanyaan yang sama persis dengan pertanyaan Sinta. Aku menunduk dan dengan lirih menyebutkan nama sakitku.
“Kanker paru-paru tante.” jawabku pelan. Tante terlihat bingung mendengar ucapanku.
“Yang menyebabkan Sinta pinsan tadi juga saya tante, karena saya batuk di depannya dan dia tahu penyakit saya.” aku menjelaskan pada tante.
***
Malam ini aku menginap dan menjaga Sinta lagi. Aku merasa lebih nyaman tidur di kursi berhadapan dengan wanita cantik ini dari pada aku tidur di kasur empuk namun jauh dari sisi Sinta. Ku rasakan tangan Sinta yang sedang ku genggam bergerak pelan. Aku menatap tangannya dan wajahnya. Dia sadarkan diri. Aku tersenyum, tante yang tertidur di sofa ruang itu kubagunkan. Sinta mengedipkan matanya. Rupanya dia berusaha mengumpulkan kesadaran dan pandangannya. Tante langsung mendekat ke tempat Sinta berbaring.
“Adrean.” panggil Sinta lirih.
“Iya sayang?” aku menjawabnya dengan wajah berbinar.
“Nyanyikan lagu kita dulu. Nyanyikan lagu itu untuk terakhir kalinya.” aku sedikit kaget mendengar permintaannya.
“Lagu best of me?” dia mengannguk. Lagu best of me memang lagu favorite kami. Lagu ini dulu kunyanyikan untuknya saat memintanya untuk kembali jadi kekasihku setahun lalu. Aku melirik ibunya. Tante mengangguk. Akupun bernyanyi pelan dan meresapi setiap syairnya yang ku lantunkan untuk Sinta.

I was made the wrong way
Won’t you do me the right way
Where you gonna be tonight
’cause i won’t stay too long
Maybe you’re the light for me
When you talk to me it strikes me
Won’t somebody help me
’cause i don’t feel too strong
Was it something that i said
Was it something that i did
Or the combination of both that did me wrong
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Baby that’s the best of me
Everything’s behind you
But the hope still stands beside you
Living in every moment
Have i wasted all your time
Was there something that i said
Was there something that i did
Or the combination i broke that did me have
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Baby that’s the best of me
Baby that’s the best of me
Wajah Sinta terlihat berbinar dia tersenyum mendengarku bernyanyi untuknya. Namun lama-lama matanya terpejam.
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Baby that’s the best of me
hingga bait terakhir selesai ku dendangkan, dia masih tersenyum tanpi matanya terpejam. Dan yang membuatku kaget setengah mati alat pendeteksi jantungnya memberi tanda bahwa jantung Sinta tak lagi berdetak. Tangis sudah pecah dari tante Amalia ibunda Sinta. Aku berdiri terpaku memandangi monitor itu. Entah apa yang aku rasakan, ini lebih sakit dari kanker paru-paru yang setiap hari menikamku. Aku menangis. Aku menciumi pipi dan tangan Sinta seperti yang di lakukan tante.
Detik ini juga aku kehilangan Sinta untuk selamanya. Sinta Maharani gadis SMA yang sangat ku cintai melebihi diriku sendiri. Aku masih larut dalam tangisku hinggs petugas rumah sakit hendak membawanya ke kamar mayat.
***
(Sinta Maharani)
Aku kembali sadar dan aku kembali melihat Adrean di hadapanku. Namun entah kenapa, aku merasa sebentar lagi akan meninggalkannya. Dengan menahan sakit di ulu hati, ku minta Adrean untuk menyanyikan lagu favorit kami.
I was made the wrong way
Won’t you do me the right way
Where you gonna be tonight
’cause i won’t stay too long
Maybe you’re the light for me
When you talk to me it strikes me
Won’t somebody help me
’cause i don’t feel too strong
Was it something that i said
Was it something that i did
Or the combination of both that did me wrong
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Baby that’s the best of me
Everything’s behind you
But the hope still stands beside you
Living in every moment
Have i wasted all your time
Was there something that i said
Was there something that i did
Or the combination i broke that did me have
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Aku sangat menikmati suaranya, meskipun tak sebagus penyanyi aslinya. Aku terus tersenyum padanya hingga tiba-tiba pandanganku semakin tak jelas. Hanya syair yang berbunyi,
Baby that’s the best of me
Baby that’s the best of me
yang masih dapat ku dengar. Selanjutnya aku tak tahu lagi. Kupingku menjadi tuli dan mataku buta. Semua gelap, aku tak sempat mendengar bait terakhir lagu itu.
You know i’m hoping you sing along
I know it’s not your favorite song
Don’t wanna be there when there’s nothing left to say
You know that some of us spin again
When you do, you need a friend
Don’t wanna be there when there’s nothing left for me
And i hate to thought of finally being erased
Baby that’s the best of m

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar