Sahabat Sesungguhnya

Akhir-akhir ini aku sering keluar masuk ruang BP. Bukan karena pelanggaran yang kulakukan, melainkan keadaan psikisku yang sedikit terganggu...

Akhir-akhir ini aku sering keluar masuk ruang BP. Bukan karena pelanggaran yang kulakukan, melainkan keadaan psikisku yang sedikit terganggu belakangan ini. Sejak kedua orang tuaku bercerai bulan lalu aku seakan kehilangan semangat hidup. Gairah belajarku lenyap. Indeks nilaiku menurun drastis. Inilah alasan aku sering masuk ruang BP. Hari ini aku kembali ke ruang BP menemui Bu Hanifah. Meski sudah berkali-kali aku dipanggil tapi aku belum juga menceritakan keadaanku. Tapi entah kenapa siang ini mulutku mau menceritakan kejadian yang menimpa diriku.
“Orang tua saya cerai bu.” Kataku menjawab pertanyaan yang selama ini selalu beliau lontarkan. Bu Hanifah Terperanjat mendengar ucapanku. Direngkuhnya diriku. Beliau menenangkanku. Selama ini aku memang dekat dengannya.
Seperti sebelumnya, aku belum juga bersemangat. Raut muka murung masih membingkai wajahku.Bel istirahat yang baru saja berbunyi membuat seluruh siswa berbondong ke kantin. Aku terdiam di bawah pohon rindang depan kelasku. Tania menepuk pundakku.
“Jangan ngelamun donk.” Ujarnya sembari duduk disampingku.
Aku menoleh dengan wajah yang tetap datar.
“Alma, semangat lagi donk.” Pintanya menatap wajahku.
“Alma sudah berapa lama kamu nggak senyum?” Akupun menoleh mendengar pertanyaanya.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku ingin tahu.
“Tuh ada keriput di bawah matamu. Pasti itu karena kamu nggak pernah senyum lagi.” Akupun tersenyum mendengar perkataan yang sedikit konyol itu. Bel berbunyi dengan nyaringnya, akupun kembali ke kelas bersama Tania.
Pelajaran fisika memang selalu menyiksaku. Terlebih dengan mood yang sedang buruk ini. Aku berkali-kali menguap. Akhirnya pelajaran usai juga. Aku menghela nafas lega.
“Alma tunggu,,” Tania berlari kearahku dan menggamit tanganku.
“Ada apa?”
“Temeni aku yuk.” Pintanya merayuku.
“Kemana?”
“Panti Asuhan, mau yah.” Ku iyakan saja rayuannya dengan anggukan.
Dengan motor beatnya kami melaju menuju Panti Asuhan Budi Sentosa. Tadinya aku tak tahu apa maksudnya mengajakku kemari. setelah menyerahkan sedikit sumbangan, kami berjalan keliling panti. Aku melihat banyak anak dengan segala keterbatasannya disini. Hatiku trenyuh melihatnya. Aku sadar betapa lebih menderitanya mereka. Hidup di panti dengan cacat bawaanya. Sedang aku baru mendapat cobaan sedikit saja sudah seperti ini. diam-diam aku meneteskan air mataku.
Sepulang dari panti aku segera sholad mohon ampun padaNya dan bersyukur atas nikmatku. Hari berikutnya aku berangkat sekolah dengan semangat. Tak ada lagi raut murung diwajahku.
“Semangat banget.” Tegur Tania.
“Karena panti kemarin aku jadi sadar.”
“Sesuai harapanku.” Tuturnya dengan senyum lebar.
Bu Hanifah masuk kekelas. Kebetulan hari ini ada jam BK. Jadi beliau masuk kekelasku. Disela-sela mengajarnya, beliau mendekatiku.
“Saya lihat kamu sudah kembali bersemangat?”
aku tersenyum lebar, “berkat Tania bu, dia menyadarkan saya jika keadaan saya masih belum ada apa-apanya dengan yang diluar sana.”
Bu Hanifah tersenyum, “Saya ikut senang Alma.” lanjutnya, “Terima kasih Tania kamu sudah mengembalikan sengat sahabatmu.” Tania tersenyum dan mengangguk.

You Might Also Like

4 komentar

  1. (T_T) semangat dhek, adhek sepupuku jg udah dtinggal bapaknya ke sisi maha PENCIPTA, sedih jika aq melihatnya, mggu ini aq ajak dia liburan kjogja, semoga memberinya secuil kebahagiaan, begitu jg dgn adhek, semoga selalu diberi kebahagiaan olehNYA, amiien

    BalasHapus

Flickr Images