Begitu Mencintaimu

By Erny Kurniawati - 13.19.00

Malam terus beranjak. Putraku Reza sudah terlelap. Mataku masih enggan terpejam, aku memandangi wajah Aini. Wajah cantik berbalut jilbab hijau dalam bingkai di dinding hadapanku. Gambar dirinya cukup membuatku merindu. Aku beranjak dari tempat tidurku. Reza masih mendengkur pelan, dengkur khas balita. Ku pandang wajah ayu Aini dari kedekatan, hatiku semakin miris. Untung saja putraku sudah terlelap, aku jadi bisa menangis tanpa sembunyi-sembunyi. Bagi segelintir orang, laki-laki menangis itu suatu hal yang salah, tetapi tidak untukku. Aku tak sungkan menangis. Namun selama 32tahun ini hanya Aini yang mampu membuatku menangis.
Ku seka buliran air mata di pipiku, ketika Reza memanggilku. Reza masih berusia 5tahun. Mungkin dia takut aku tak menemaninya. Ku dekati dia, lalu ku belai lembut wajah jagoanku ini. Hidung dan matanya mengingatkanku pada Aini. Dia kembali ke alam mimpi. Aku teruskan mengenang istriku.
***
Hatiku terkoyak saat mendapati kenyataan bahwa Aini mengindap tumor hati. Aku merasa dunia ini mau kiamat. Bagaimana tidak, Aini itu wanita terindah yang ku miliki. Dia istri yang sangat sholeha di mataku. Dia juga ibu terbaik untuk putra kami, Reza. Aini masih terbaring lemah di kamar rumah sakit. Matanya terpejam karena pengaruh obat. Dia tampak lebih kurus dan pucat. Sungguh pemandangan seperti ini sangat menyiksaku. Terlebih lagi saat mendengar istriku mengeluh sakit. Andai aku bisa, aku sangat bersedia menggantikannya. Hidupku tak lebih berarti daripada nafas dan senyumnya.
Setiap hari, aku selalu menemaninya di ruang berbau obat menyengat itu. Reza ku ajak karena permintaannya. Reza masih berumur 3tahun. Tawanya menjadi obat mujarab untuk mamanya. Aini tak pernah terlihat sakit ketika ada Reza. Aini dan Reza adalah harta paling berharga yang ku miliki.
Hari-hariku tak pernah lepas dari rumah sakit. Di tengah kesibukanku menjadi dosen, aku tetap menyediakan waktu banyak untuk bersama Aini. Aku takut kehilangan bidadariku ini. Sangat takut. Apalagi ketika dokter memvonis usia Aini tinggal beberapa bulan lagi. Air mataku selalu tumpah diantara sujud-sujudku padaNya. Aku memohon kepanjangan usia untuk rusukku, Aini. Dia wanita limited edition, dia harus mendapat umur panjang agar dapat mendidik putra kami bersama dan tetap menyuguhkan senyuman kala menyambutku sepulang kerja.
Sudah hampir sebulan lamanya dia berbaring disini. Tubuhnya semakin kurus, cahaya wajahnya semakin memudar. Hanya satu yang tak pernah berubah, senyumnya saat menyambutku. Senyum itu yang membuatku tak rela kehilangannya. Setiap dzikir yang ku baca ku khususkan untuk wanitaku.
***
“Pa, kalo mama nanti pergi, tolong jaga putra kita ya,” ujar istriku. Aku masih menggenggam tangannya, aku benci mendengar dia berkata sedemikian.
“Kenapa mama ngomong gitu? Papa nggak mau mama pergi, mau jadi apa hidup papa tanpa mama?” kataku dengan menahan airmataku agar tidak menetes. “Mama inget nggak obrolan kita dulu saat masih pacaran, mama bilang pengen punya dua anak kan? Kalo mama pergi, terus obrolan kita dulu nggak direalisasikan dink,” kataku dengan merajuk.
Istriku terlihat terhibur oleh perkataanku, dia tersenyum dan kembali, senyumnya melumpuhkan hatiku. Dia cantik sekali, sangat cantik.
“Pa, mama pengen bersama papa terus. Dan kalau mama pergi, mama mau dipeluk papa,” air matanya menetes. Ku kecup keningnya dan menenangkan hatinya.
***
(sekarang)
Buliran mutiaraku semakin deras menitik. Hatiku perih mengingat percakapan itu.
“Aku rindu mama, aku ingin melihat mama tersenyum menyambutku, aku ingin dipeluk mama lagi, ingin bercanda bersamamu dan putra kita,” gumamku lirih seraya memeluk foto Aini dalam bingkai kecil yang selalu kuletakkan di nakas samping tempat tidur.
Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Rasanya semua galau dalam hatiku sudah tercurahkan melalui airmata tadi. Ku seka wajahku yang basah dan ku basuh dengan air wudlu. Lalu ku dirikan sholat malam. Tak lupa ku panjatkan do’a untuk almarhum istri tercintaku. Semoga dia tenang disana dan semoga dia menantiku dengan senyum khasnya di dunia yang berbeda. Aku masih sangat mencintainya, meski sudah 2tahun dia meninggalkan kami.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar