Biarkan Mengalir

Biarkan Mengalir Aku duduk di pojok ruangan paling pribadiku, kakiku ku tekuk dan ku dekap dengan kedua tanganku. Aku sedang bergelut deng...

Biarkan Mengalir

Aku duduk di pojok ruangan paling pribadiku, kakiku ku tekuk dan ku dekap dengan kedua tanganku. Aku sedang bergelut dengan rasa, aku sedang berdebat dengan jiwa. Sayup-sayup terdengar music shalawatan di luar kamar tempatku menyendiri. Hari ini adalah hari terindah untuk pahlawanku, siapa lagi kalau bukan ibu. Tapi sayang seribu sayang, ternyata kebahagiaan tidak serta merta hinggap dalam hatiku. Suara shalawat yang notabene menenangkan jiwa, namun tidak untuk saat ini. Hatiku terkoyak, sakit luar biasa. Bulir-bulir air mata terus meleleh dari mata kucingku. Suara sound shalawat mulai mengecil dan hilang, hening. Aku tahu ada apa di luar sekarang, ya akad nikah ibuku akan segera di mulai atau mungkin malah sedang berlangsung. Tubuhku melemas, membayangkan ibu yang telah melahirkanku bersanding dengan lelaki selain ayahku. Aku tak lagi mampu mengendalikan emosiku. Aku terus terisak hingga mataku tertutup dan berjalan ke gerbang mimpi.

Ku picingkan mata merespon sinar matahari pagi yang dengan lancang menerobos sela-sela ventilasi. Aku mengucek mataku, wajahku sedikit lengket mungkin karena semalaman aku menangis. Aku bangkit dari tempat tidur, kusingkap gorden pink yang menutup jendela. Jendela di samping spring bed, ku buka. Ku hirup udara pagi yang masih segar belum terkontaminasi. Kemudian aku teringat upacara sacral semalam. Pikiranku melayang jauh, berjuta tanya hadir dalam benakku. Apa yang dilakukan ibu dan suami barunya? Apakah ibu mau memberiku adik baru? Apakah mereka menjalan ritual bak pengantin baru lainnya? Aku sudah lelah menghadirkan beribu tanya berjubel dalam otak. Cacing-cacing dalam perutku berdemo, riuh sekali. Wajar saja terakhir makan kemarin waktu sarapan. Ingin keluar kamar, namun ku urungkan. Aku belum juga bisa menerima orang baru yang bernama Om Heri sebagai ayah baruku. Bagiku dia tetap orang lain yang numpang tinggal di istanaku. Ku raih ponsel nokia seri N yang tergeletak disamping bantal. Ku amati layarnya, berharap ada pesan singkat dari Erwan kekasihku. Nyatanya, tak satupun pesan nangkring di ponsel yang sedang ku genggam ini.

Aku menghela nafas pelan. Betapa malang nasibku akhir-akhir ini, saat ku butuh Erwan sebagai penguat dikala sakit melihat kenyataan hidup, dia tidak ada. Entah kemana ku hubungi tak pernah digubrisnya. Mungkin dia sibuk kuliah’ pikiran ini yang selalu melindungiku dari rasa takut di tinggal olehnya. Berusaha positif thinking dan tak berprasangka. Aku berkaca di meja rias, wajahku pucat, mataku bengkak, dan aku kusut sekali. Tiba-tiba mataku berintrusi lagi, mengeluarkan magmanya yang berwujud air mata. Di tengah nikmat luka yang sedang lahap, pintu kamarku diketuk dari luar. “Nia, sudah bangun nak?” suara di balik pintu yang ku kenali itu suara Bude Asti.

“Sudah bude, nanti Nia keluar,” jawabku seraya menyembunyikan isak dalam suaraku. “Bude boleh masuk nggak nduk?” aku diam tak menjawab, “ya sudah kalau nggak boleh, jangan lupa makan ya nduk.” lanjutnya.

“Bude, tolong anter makanan ke kamar Nia, Nia males keluar.” ujarku menghentikan langkahnya. Tak berapa lama, bude kembali mengetuk pintuku serta membawa satu nampan berisi sepiring nasi goreng dan the hangat. Bude duduk disampingku. Aku tak memerdulikannya yang terus menerus membelai rambutku dengan rasa ke’ibu’annya.

“Yang sabar cah ayu,” katanya sambil terus membelai rambut panjangku. Aku diam saja hingga hidangan di hadapanku sudah berpindah ke dalam perutku. Kemudian aku beranjak mengambil handuk dan berjalan gontai ke kamar mandi. Aku berusaha menghilangkan bebanku dengan menikmati guyuran segar air shower. Sejenak aku merasa tenang dan fresh.

****

Hingga hari kelima pernikahan ibu, aku masih setia dengan aktivitas mengurung diriku. Yah namanya juga orang lagi di mabuk cinta, ibu sepertinya tak kunjung sadar dengan tingkah dinginku menanggapi suami barunya. Setiap hari sepulang sekolah aku tak pernah keluar kamar. Aku mengurung diri hingga pagi datang dan berangkat ke tempat belajar. Hal ini terus dan terus ku lakukan hingga detik ini, dua minggu pasca pernikahan ibu.

Lama-lama aku merasa hidup seorang diri, Erwan tak pernah lagi menghubungiku. Berkali kucoba mengontaknya tak satupun ada balasan. Aku merasa hampa. Ibu yang seolah asik dengan hidup barunya, dan pacarku Erwan yang seketika mengacuhkanku tanpa kabar. Aku bingung harus bagaimana. Selama ini hanya Bude Asti yang selalu siap sedia untukku.

Siang ini sepulang sekolah ku putuskan untuk bertemu Rian, dia sahabat Erwan sekaligus sahabatku juga. Walaupun aku masih terhitung baru mengenalnya, namun keakraban kami sudah seperti teman lama. Dia menganggapku sebagai adik, tak jarang aku berkeluh kesah tentang masalah keluarga maupun sikap Erwan yang selalu berubah-ubah penuh teka-teki.

“Ni, kamu kenapa kusut banget gitu?” komentarnya ingin tahu keadaanku.

“Ibu udah nikah,” jawabku pelan seolah berbisik.

“Lhoh kapan Ni? Pantes dari wajahmu, kau terlihat tak bersemangat.”

“Bagaimana mau bersemangat kalau seperti ini. Mas tahu kan bagaimana aku membenci Om Heri? Dan yang paling membuatku sakit, Erwan tak ada untukku saat ini.” Rian sepertinya kurang mengerti kalimat terakhirku.

“Maksud kamu tak ada gimana Ni? Dia support kamu kan?” tanyanya sedikit berhati-hati.

“Nggak, dia hilang, cuek, acuhkan aku.” ujarku seiring ambruknya pertahanan emosiku. Aku menangis. Aku hanya bisa leluasa berkeluh kesah dengan Tuhanku dan dengan dia Mas Rian. Rian menenangkanku, dia membiarkan aku meluapkan seluruh emosi yang sedang ku pendam.

“Mas, aku butuh dia mas,” gumamku lirih di sela tangisku. “Mas apa kamu tahu ada apa dengan dia?” Rian menggeleng dan aku kembali menundukkan kepala menikmati aliran air yang membasuh wajahku.

“Ni, aku nggak tahu. Mungkin dia sedang ada masalah atau sibuk.” jelas Rian dan tak berpengaruh bagi emosionalku.

“Bukankah aku ini kekasihnya mas? Dia bisa berbagi denganku atau karena usia kami yang terpaut delapan tahun hingga membuat dia tak percaya untuk berbagi padaku?” tangisku terus meledak-ledak. Hatiku saat ini begai teriris sembilu. Aku yakin semua pasti pernah merasakan bagaimana tersayat pisau tanpa sengaja dan perihnya bukan main. Rian menepuk pundakku, dia terus berusaha menenangkan kejiwaanku.

Sepulang bertemu dengan Rian hatiku cukup tenang, setidaknya ada sebagian beban yang telah ku bagikan dengannya. Aku lagi-lagi mengurung diri dalam kamar. Sekitar pukul 19.00 malam pintuku di ketuk. Aku diam saja, sebab aku tahu mungkin yang mengetuk pintu ibu atau om brengsek itu. “Nia sayang buka donk pintunya.” terdengar suara ibu dimanis-maniskan.

Tanpa mengurangi rasa hormatku, aku menjawab, “untuk apa berbicara kalau akhirnya ibu memaksa kehendak ibu sendiri? Mau nambah beban Nia bu? Makasih tapi Nia sudah cukup menderita dengan kehadiran lelaki BRENGSEK pujaan ibu.” ucapku dengan menegaskan kata ‘BRENGSEK’. Ibu di luar diam tak membalas ucapanku.

Rumah tangga ibu dan Om Heri sudah memasuki bulan ketiga, aku masih setia dengan sikap antipatiku. Aku menjalani hari-hari berat seorang diri. Sudah sebulan ini aku memilih putus dari kekasihku. Bukan karena aku tak cinta, tapi aku hanya tak sanggup untuk terus terluka. Erwan adalah lelaki yang sangat kudamba. Aku mencintainya dengan setulus hatiku, meski harus kuterima balasan pahit darinya. Dia memang tak pernah bilang kalau cintanya padaku telah terkikis, namun sikapnya itu membuatku serba salah. Dia menggantungkan hubungan kami disaat keadaanku seperti ini. Sungguh pekerjaan tetapku bulan-bulan ini adalah terisak menangis, aku menjelma menjadi gadis cengeng.

Ku kira orang rumah sudah pergi minggu pagi ini, karena tak terdengar aktivitas apapun diluar kamarku. Aku yang sudah berbulan-bulan mengurung diri di kamar, kini keluar. Tadinya aku ingin mekan dan sekedar menghapus rasa bosanku di minggu ini dengan menonton tv, tapi niatku itu tak berjalan sesuai keinginanku. Ternyata ibu ada di ruang tamu, sedang sendiri dan melamun. Sungguh ini kali pertamaku melihat wanita ini berwajah demikian murung. Bahkan saat perceraian dengan ayah pun ibu tak sesedih ini. Aku mulai menebak-nebak apa yang terjadi. Mungkin dia rindu dengan Irfan adikku satu-satunya. Irfan tinggal bersama ayah di kota gajah, Lampung. Aku berniat kembali kekamar setelah melihat ibu disana.

“Jangan kembali nak, duduklah sejenak bersama ibu.” ujar ibu dengan suara dingin. Sekeras apapun sifatku, aku tidak mampu membiarkan ibu menangis atau menderita. Bahkan itu pula yang jadi alasanku untuk merestui pernikahan ibuku dengan Om Heri, walau sakit di hati tiada henti. Kami bercakap sebentar, ibu mengisak dalam bicaranya. Beliau mengaku menyesal menikah dengan Om Heri.

“Ya sudahlah, untuk apa disesali. Bukankah ibu sudah tahu ini resikonya, aku jadi seperti ini bukan karena ibu, namun karena memang mauku.” timpalku sambil berdiri dan berlalu kekamarku.

***

Aku terus berlari dalam duniaku, menikmati masa-masa kesepian yang senantiasa menjadi sahabat terbaikku. Rian yang sudah ku anggap kakak, dia harus pergi meninggalkan kota Magelang untuk bekerja di ibu kota. Sementara Erwan, hingga kini aku belum berjumpa lagi. Rinduku padanya sesungguhnya sangat membuncah. Erwan tetap selalu jadi pangeran dalam hatiku, aku tak pernah sekalipun berniat berhenti berdoa untuknya. Erwan masih mencengkram erat kalbuku, dia masih memeluk mesra rasaku. Ah Erwan, andai engkau disini untukku’ ujarku membatin. Aku terus melamun mengenang beberapa bulan lalu saat-saat terkhir bersamanya. Saat mendaki bukit kecil kaki gunung Merapi, saat berteduh di bawah pohon, saat nonton bareng, saat bercanda dengannya, saat kecemburuan menyergapku. Semua itu silih berganti hadir dalam pikiranku, dia seakan mengerjaiku, membuatku mati gaya karena memikirkannya.

Seberat apapun cobaan hidupku, harus tetap kulalui. Perlahan aku mulai menemukan semangat hidup yang sempat hilang. Aku berniat akan lebih menata hidup. Ku kurangi frekuensi melamunku. Aku lebih banyak membaca dan mengerjakan sesuatu yang lebih berguna. Sikapku kini menjadi acuh, acuh pada kondisi keluargaku dan acuh pada slentingan-slentingan masalaluku yang sering mengusikku.

Pagi ini aku dipanggil guru bahasa Indonesia yang sudah satu semester mengajarku. Aku berjalan keruang guru setelah mendapat panggilan lewat telpon barusan.

“Ibu memanggil saya?” tegurku sesampainya di meja Bu Warni.

“Iya Erny, bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan senyum ramah mengembang.

“Baik Alhamdulillah. Bu sebenarnya ada perlu apa saya dipanggil?”

“Oh iya, ini ada mandate dari ibu untuk kamu.” Bu Warni menyerahkan beberapa lembar kertas padaku, ku baca tulisan itu, “Itu undangan untuk diklat jurnalistik se-propinsi DIY. Ibu mengharap kamu jadi wakil sekolah, keterangan lebih lengkap kamu baca sendiri.” lanjutnya.

“Baik bu, terima kasih sekali telah mempercayakan tugas ini pada saya, saya permisi dulu.”

Ku baca seksama setiap kata di surat yang diberikan Bu Warni tadi. Aku menyanggupi perintahnya dan dua hari lagi aku akan berangkat ke tempat. Tanggal 06 April 2010, aku berangkat sekolah dengan membawa tas koper berisi pakaian ganti selama diklat nanti. Setelah bel pulang berbunyi aku beragkat menuju Jl. Pakel No.36 Yogykarta, daerah Taman siswa. Setelah registrasi aku memperoleh kunci kamar. Kamar yang kutempati berukuran sekitar 5x3, cukup lebar menurutku. Selain itu di kamar tersebut akan di tiduri 4 peserta, ada dua springbed, satu unit almari, sofa, meja rias dan ada toilet dalamnya juga. Aku pun berkenalan dengan teman-teman sekamarku.

Tak terasa hari ini sudah masuk hari terakhir. Rasanya baru kemarin aku datang kemari. Materi diklat hari ini tak sepadat hari sebelumnya. Agenda hari ini hanya presentasi hasil pembuatan koran oleh kami sendiri. Semua agenda telah selesai tepat pukul 11.00 siang. Ku bawa koper keluar kamar menunggu jembutan sekolah. Ada banyak pengalaman yang ku dapat dari diklat ini. Aku jadi doyan menulis sekarang, bahkan menulis seakan telah menjadi bagian hidupku.

***

“bebb… bebb… bebb…” ponsel dalam saku celanaku bordering. Sambil berjalan ku ambil ponsel tebalku. Aku tak mengenali nomor pengirim sms itu, namun tetap kubaca isi pesannya. Aku girang bukan main karena ternyata isi pesan itu undangan agar aku menghadiri rapat salah satu redaksi majalah remaja di DIY.

“Kamu kenapa girang banget gitu?” tanya Azi yang saat itu berada di sampingku sedang menunggu antrean tiket bioskop.

“Dapet panggilan kerja.” jawabku dengan wajah penuh suka cita.

“Dimana?” timpal temanku lainnya, Icha. Kujawab semua pertanyaan teman-temanku yang kebetulan sedang jalan bareng denganku. Aku mentraktir mereka sepulang nonton. Senang rasa dapat berbagi kebahagiaan bersama mereka teman-temanku.

Sejak aku bergabung dengan majalah, kegiatanku semakin padat. Aku tak lagi memikirkan kondisi keluargaku. Sedangkan Erwan hanya kadang datang sepintas dalam pikiranku. Tapi aku langsung mengusirnya dengan kembali memusatkan pikiran pada majalah. Kesibukanku terus bertambah, tak jarang aku pulang hingga petang, padahal paginya aku sekolah juga.

Aku tak kenal waktu, hingga tak terasa minggu ini aku akan mengikuti test kenaikan kelas. Aku belajar dengan serius, bukan karena aku ingin masuk jurusan IPA seperti teman lainnya. Aku justru ingin menekuni dunia social dan ku putuskan untuk masuk jurusan IPS. Selama test berlangsung konsentrasiku sedikit terpecah, mungkin aku sudah terlalu lama mencoba cuek dengan segala urusan batinku. Malam ini aku berusaha mencerna isi buku paket sosiologi dihadapanku, tapi nihil. Pikiranku berkali-kali berbelok pada wajah tampan mantan kekasihku. Ku hitung berapa bulan kami berpisah dan ternyata sudah enam bulan lebih, pantas sekarang aku begitu merindukannya.

Test akhir semester selesai, waktu liburan pun tiba. Beberapa hari yang lalu ayah kandungku yang bermukim di Lampung memberiku kabar, bahwa beliau akan pulang ke Jawa dan sampai di rumah kakek sore ini. Katanya aku mau diajak berlibur di Lampung. Ku iya kan saja ajakannya. Benar, sore ini ayah sampai di rumah kakek. Sesuai rencana pagi hari berikutnya aku berangkat ke Lampung dengan pesawat dari Jogja dan aku tiba di rumah ayah siang sekitar pukul 11.00, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam di pesawan dan 1jam dari bandara ke rumah ayah.

Aku hanya tinggal tiga hari disana karena aku memiliki tugas di majalah yang menuntut untuk segera ku selesaikan. Ayah memaklumiku. Setibanya di Magelang aku langsung beraktifitas seperti sebelumnya. Musim liburanku kuhabiskan untuk magang di salah satu koran local di DIY. Ku nikmati semua kesibukkan yang semakin menenggelamkan duniaku. Aku benar-benar menemukan duniaku disini, di dunia jurnalis, liput sana liput sini, tulis berita dan seminar. Berkali-kali aku mengikuti seminar bersama rekan kerja magang dikantor, bahkan aku dipercayai untuk membimbing peserta kunjungan dari Ngawi dalam peliputan lapangan.

Karierku semakin meningkat, aku bersemangat menata masa depanku. Keluargaku semakin baik pula, ibu sudah mulai uring-uringan dengan om brengsek dan terus terang ini membuatku lebih bahagia. Aku semakin dekat dengan ibu, semua kegiatanku di luar rumah ku ceritakan padanya. Sore ini aku pulang sedikit telat, saat ku parkir motor matic di garasi, ku dengar suara ibu sedang bertengkar. Aku tersenyum, aku memang jahat tapi aku menyukainya. Aku hanya ingin ibu berpisah dengan laki-laki itu, itu saja.

***

Ku aduk-aduk se gelas es teh di depanku. Pandanganku menerawang ke keramaian jalan Kaliurang. Kendaraan merayap di sekitar UGM ini. Pikiranku sama halnya kendaraan itu, ya pikiranku macet. Entah mengapa aku tiba-tiba ingat Erwan, rasanya rinduku tak sanggup lagi ku bendung. Andai saja dia masih bersamaku, pasti aka nada banyak waktu yang ku sediakan untuknya’ gumamku dalam hati. Perasaanku sore ini begitu melankolis, pas dengan cuaca Jogja sore ini yang mendung walau tak hujan. Adzan magrib bergema dengan lantangnya, memanggil umatNya untuk sejenak bermanja dan menghentikan aktifitas. Di rumah makan tempatku melamun ini ada musholanya, aku segera menunaikan sholat magrib. Alhamdulillah perasaanku lebih tenang setelah bercurah padaNya. Setelah itu akupun melajukan motor mio hitamku menembus angin malam, aku pulang.

Tiada hari tanpa menulis, itulah peribahasa yang serasi denganku. Berjam-jam dalam sehari ku habiskan waktu di depan laptop Lenovo berwarna pink kesayanganku. Bahkan aku sudah menghasilkan satu novel dan banyak cerpen. Sayangnya aku belum berani untuk mencoba menerbitkannya.

Sepulang sekolah aku mengendarai motorku ke kantor tempatku rapat biasanya. Setelah rapat selesai aku tak segera pulang. Ada rapat tambahan untuk aku dan beberapa rekan, tentunya tak semua.

“Laptopnya tak pinjem buat edit tulisan dulu ya Ni.” ujar salah satu atasanku. Aku hanya mengangguk dan berlalu menuju ruang kerja pemimpin redaksi. Aku tak tahu file apa yang dibuka Pak Yudi, atasanku tadi.

“Tulisanmu bagus, kenapa nggak diterbitin?” ujar Pak Yudi.

“Tulisan apa sih pak, bukannya sudah terbit di majalah.” timpalku.

“Ini lho.” Pak Yudi menunjuk tulisan dalam layar laptopku. Itu novelku’ kataku membatin.

“Kok bapak buka-buka ini.” ucapku sedikit gusar.

“Kenapa? Justru saya malah tertarik dan ingin menerbitkan novel ini, saya memang belum membaca seluruhnya. Tapi bedasarkan synopsis dan beberapa paragraph yang sempat ku baca sangat menarik Ni.”

“Ah bapak bikin saya jadi berharap.” aku mulai membereskan buku dan laptopku.

“Lho bapak serius Ni, nanti akan saya tunjukkan ke bapak pemred. Udah sore nih pulang yuk Ni.” ajak Pak Yudi dan aku pun keluar ruangan berjalan di belakang atasanku.

Selama perjalanan pulang perasaanku tak karuan, aku senang tapi takut berharap. Sepertinya sebentar lagi cita-citaku akan tercapai, itu yang aku pikirkan. Erwan, aku akan tunjukkan padamu aku ini mampu membuatmu bangga’ ujarku dalam hati seraya tersenyum. Sejak aku putus dari Erwan aku belum menemukan tambatan baru. Erwan sangat besar pengaruhnya dalam hidupku, walaupun kami tak bersama. Bagiku erwan adalah inspirator dalam menulis, bahkan cerita dalam novel yang dibaca Pak Yudi tadi dia yang jadi pemeran utama.

Di rumah kuceritakan pada ibu tentang novelku kemarin. Ibu terlihat senang mendengarnya. Jam menunjukkan pukul 20.00 ketika telpon di nakas ruang tamu berbunyi. Kuangkat ternyata dari pemimpin redaksi. Alangkah bahagianya diriku saat mendengar kabar ternyata bukuku telah disetujui penerbit akan diterbitkan. Aku langsung sujud syukur seusai meletakkan ganggang telpon ketempat semula. Ibu sempat bingung melihat tingkahku. Setelah ibu tahu mengapa aku demikian, ibu ikut sujud syukur.

***

Bukuku sudah terbit, kegiatanku meningkat. Sepulang sekolah aku promo buku dan yang membuatku tambah semangat saat aku promo di Gramedia. Siapa yang menyangka kalau Erwan ada di sana, berdiri di barisan pertama. Aku beberapa kali tersenyum padanya. Ketika acara sudah berakhir aku pamit kebelakang pada panitia, padahal aku ingin mengejar Erwan.

“Erwan.” panggilku setengah teriak. Dia menoleh.

“Aku senang kamu datang.” ujarku. Dia hanya tersenyum.

“Kamu hebat Ni.” tambahnya lagi.

“Karena kamu juga, kamu sudah punya novelku tadi kan?” dia mengeluarkan novelku dari tasnya, “sure, makasih namaku ditulis di novel ini sebagai inspiratormu.” timpalnya. Tiba-tiba ponselku bordering, dari panitia.

“Erwan, aku harus kembali kesana. Terima kasih sekali lagi.” kataku sebelum berlalu, dia tersenyum penuh arti padaku. Senyumannya adalah obat lelahku.

***

“Nia, ibu sudah bercerai.” kata ibu membuatku tersedak.

“Ibu bercanda.” jawabku seraya meneguk air putih.

“Ibu nggak bohong, sebentar ibu ambilkan suratnya.” tak berapa lama ibu kembali dengan map berisi surat cerainya. Aku jadi bingung sebab aku benar-benar tidak tahu dengan hal ini.

“Ibu bercerai beberapa bulan lalu, saat kamu sedang sibuk-sibuknya promo.” aku tersenyum mendengar penjelasan ibu. Ternyata ibu bercerai dengan Om Heri karena Om Heri hanya menjadi benalu di keluarga kami, terlebih setelah dia diPHK dari pekerjaannya. Om Heri jadi sering mabuk dan judi dan ibu tidak tahan dengan itu. Kini aku hidup berdua dengan ibuku. Untung saja royalty dari tulisanku lumayan besar, ditambah kontrak penulisan nocel yang sedang ku kerjakan.

Hidupku serta merta berubah, walau hidup berdua dengan ibu itu sudah cukup bagiku. Soal hatiku pada Erwan masih sama, konstan. Aku tak pernah mati rasa padanya. Akhir-akhir ini kami mulai dekat lagi, namun aku masih ingin seperti ini. Berteman saja tak lebih. Aku ingin meraih semua cita-citaku dulu. Bukan berarti aku tak cinta pada Erwan, tetapi aku yakin pilihanku ini yang terbaik. Aku sedang sibuk dengan sekolah dan kerjaanku, sementara dia sibuk dengan skripsinya. Biarkan saja air mengalir, aku akan mengikutinya . Kalau aku berjodoh dengannya ku yakin kita akan bersama ‘nanti’.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images