CINTA SEMANIS COKLAT

Aku masih duduk sendiri di bangku bawah pohon kersen, taman belakang SMA ku dulu. Di tanganku ada bingkisan coklat yang masih rapi. Ini cokl...

Aku masih duduk sendiri di bangku bawah pohon kersen, taman belakang SMA ku dulu. Di tanganku ada bingkisan coklat yang masih rapi. Ini coklat pemberian Ryan untukku lima tahun lalu. Aku sangat merindukan Ryan kekasihku di SMA dulu. Anganku pun terbenag berceloteh tentang nostalgia masalalu.

Aku selalu bahagia saat pagi datang menjemputku. Rasanya ada spirit lain dalam jiwa. Sebentar lagi aku akan bertemu kekasihku di sekolah. Alangkah senangnya aku menikmati masa-masa remaja itu. Aku tersenyum mengingat berjuta kenangan masa itu. Saat dia mengutarakan isi hatinya sepulang sekolah, tepat di bangku yang sedang ku tempati ini. Dengan bingkisan coklat yang luamayan banyak, dia mencoba menganmbil hatiku. Usahanya tak sia-sia. Aku menerimanya menjadi bagian dari hatiku.

Hari-hari selanjutnya dunia terasa indah. Selalu ada senyum diantara kita. Dan ada ke khas'an pada dirinya yang tak pernah luntur. Dia selalu memberiku coklat setiap hari dan dia juga mengajakku memakannnya bersama di tempat ini. Aku pernah bertanya padanya mengapa dia selalu emberiku coklat seperti ini, "Kenapa sih kamu selalu memberiku coklat?? AKu bingung setiap hari aku harus memakan coklat-coklat darimu," kataku suatu ketika di tempat biasa saat bersamanya, makan coklat berdua.

"Kamu bosan nggak makan coklat setiap hari?" tanyanya padaku. Aku menggeleng seraya menelan kunyahan coklat dalam mulutku.

"AKu hanya ingin seperti coklat ini, tak pernah membosankan walau kita memakanna setiap hari. Aku berharap hubungan kita seperti coklat. Aku ingin cinta kita semanis coklat," katanya dengan mata merewang ke langt cerah di atas sana.

"Ohh, gitu ya?" ujarku dengan nada lugu. Dia megoyakkan rambut panjangku tanda gemas.

Waktupu beranjak sore. Tidak biasanya dia memberiku dua coklat," ini untukmu," dia menyerahkan bingkisan coklat yang rapi dan dihias padaku. Dengan tampang bingung aku menerimanya.

"Kok tumben kamu ngasih aku dua coklat hari ini?"

"Buat jaga-jaga kalau suatu hari nanti kau merindukanku," Ryan tersenyum manis. AKu sedikit aneh mendengar ucapannya kali itu, tapi tak kuhiraukan, aku menganggapnya biasa.

###

Hari berikutnya, Ryan tidak berangkat keekolah. Ku kira dia sakit. Aku mencoba menghubungi lewat sms, tak dibalas. Lewat telpon mailbox terus. Hari teus berlalu. Satu minggu sudah dia menghilang tanpa kabar. Ku tanya pada sahabat-sahabatnya mereka hanya bilang Ryan pindah sekolah. Ketika ku tanya no hape Ryan, sahabatnya hanya punya nomer lama seperti milikku. Aku sampai mencari tahu lewat guru, dan benar Ryan pindah. Mereka juga tak tahu kemana Ryan pindah. Aku lemas mendapati berita ini. Dimana Ryan sekarang????


###

5 tahun kemudian (sekarang)

Air mataku luruh dari singgasananya. Aku merindukan Ryan. Sepoi angin sore menerpa rambut panjangku. Aku mendongak menatap langit cerah sore ini. Suasananya masih seperti lima tahun lalu, saat terakhir pertemuanku dengannya. Lalu kupandangi coklat dalam kotak pink kecil di tanganku, coklat itu sudah berjamur. Hatiku sepertinya sama dengan coklat ini.

Dedaunan kering pohon kersen mulai beterbangan. Aku meletakkan kotak coklat ini di bangku panjang tempatku mengenang masa lalu tadi. Aku bangkit, aku meninggalkan bingkisan coklat itu disana. Aku pergi dan berharap semua bayang Ryan ikut serta pada bingkisan itu. AKu melangkah pasti embiarkan coklat tu sendiri. "SELAMAT TINGGAL GINTA SEMANIS COKLAT".

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images