Di Pojok Sekolah

By Erny Kurniawati - 12.22.00

Di Pojok Sekolah



Banyak cerita yang terukir disini. Ada tawa ada tangis. Disini di pojok sekolah tempat favoritku bersama sahabat menikmati jam istirahat atau pulang sekolah.
Sore ini aku sengaja mengunjungi gedung tempatku menuntut ilmu dulu. Entah mengapa aku merasa sangat ingin mengunjunginya. Mungkin karena ada banyak kenangan manis masa ABG disini. Di pojok SMA ini, belum banyak berubah. Masih ada Mang Dadang penjual somay dan Mas Abi penjual dawet ayu. Waktu SMA aku berlangganan dengan somay dan es dawet ayu ini.
Mang Dadang dan Mas Abi tersenyum melihat kedatanganku.
“Eh non Amira,” sapa Bang Dadang. Aku tersenyum dan segera duduk di bangku panjang.
“Somay ya bang,” ujarku dengan senyum mengembang.
“Beres non,” Mang Dadang mengerlingkan matanya, “ Es dawet ayu juga kan non,” tawar Mas Abi. Aku mengangkat ibu jari tanda ‘iya’. Sambil menunggu pesanan aku melihat lalulalang kendaraan yang melewati pojok ini. Semakin ramai saja. Aku jadi ingat 8 tahun lalu di tempat ini saat aku bercanda tertawa bersama Wisnu. Wisnu pacar pertamaku dulu. Aku menghela nafas panjang. Teringat Wisnu rasanya rindu juga. ‘apa kabarnya sekarang ya?’ tanyaku dalam hati.
“heh, non, non, jangan ngelamun donk,” tegur Mang Dadang, aku segera sadar.
“Eh udah ya Mang, aduh maaf heehee..” jawabku tertawa seraya meraih piring berisi somay favoritku.
“Kok ngelamun kenapa non?” kali ini giliran Mas Abi yang bertanya sambil meletakkan segelas es dawet di banggu panjang tempatku duduk.
“Nggak papa sih mas, kangen aja sama tempat ini. Jadinya bernostalgia deh,”
“Alah si non mah bisa aja jawabnya. Kangen sama Mas Wisnu kan non,” goda Mang Dadang. Aku hampir saja tersedak mendengar ucapan Mang Dadang.
“Iya tuh mang, si non aja ampe hampir keselek,” tambah Mas Abi. ‘ah sialan aku digodain’ teriakku membatin.
Mang Dadang dan Mas Abi tak lagi menggodaiku, mereka sibuk melayani anak-anak sekolah yang baru saja keluar sehabis mengikuti ekskul.
Aku sengaja berlama-lama duduk disini, meskipun santapanku sudah habis dari tadi. Akhirnya jajanan mereka habis. Mereka bersiap membereskan dagangannya. Mang Dadang ikut duduk di sebelahku selepas membereskan dagangannya.
“Non, kok tumben main-main ke pojok sekolah lagi?” tuturnya seraya mengelap buliran keringat di dahinya.
“Iya mang saya kangen tempat ini,” kataku dengan pandangan menerawang ke jalanan di hadapanku. Kenangan-kenangan masalaluku bersama Wisnu dan kedua sahabatku mengisi rongga-rongga otakku.
“Mang, selama ini Anin dan Silvi pernah kesini nggak?” aku menanyakan kedua sahabatku.
“Nggak non, cuma non sama Mas Wisnu aja yang kemari,” aku kaget mendengar penjelasan Mang Dadang.
“Kapan mang? Sering nggak?” tanyaku dengan penasaran.
“Mang, non saya duluan,” kata Mas Abi sambil mendorong gerobak es dawetnya berlalu. Kami hanya tersenyum dan mengangguk.
Mang Dadang melanjutkan, “ nggak non, Cuma sekali kaya non gini. Katanya dia juga kangen tempat ini. Lha memangnya non Mira sudah em putus ma Mas Wisnu?” tanya Mang Dadang dengan intonasi tak enak hati.
“Udah mang, udah lama. Kalau belum putus mungkin kami sudah menikah,” tuturku berseloroh.
***
Sore hari berikutnya aku datang lagi ke pojok sekolahku dulu. Aku ingin bertemu Wisnu. Tadinya aku hanya ingin bernostalgia sendiri disini, namun setelah tahu bahwa Wisnu juga pernah kemari, aku jadi berharap dapat bertemu dengannya tanpa sengaja.
“Eh non datang lagi,” Mas Abi tersenyum melihatku datang lagi.
“Iya nih Mas, mumpung masih sempat,” aku celingukan mencari gerobak siomay Mang Dadang, “Mang Dadang mana Mas?” lanjutku.
“Mang Dadang nggak jualan non,”
“Oo, yaudah esnya satu Mas,”
“Sip non,”
Aku kembali menerawang ke banyak kendaraan yang berlalu lalang. Aku sengaja mengunjungi tempat ini sebelum aku menikah dengan Tyo. Ya, seminggu lagi aku akan menikah, makanya aku ada di Jogja sekarang.
Aku berharap bisa bertemu dengan Wisnu dan bertegur sapa dengannya. Kalau mungkin aku ingin mengundangnya ke pernikahanku nanti.
“Non, jangan biasa ngelamun,” Mas Abi datang menghampiriku dengan es dawetnya.
“Ah mas bisa aja,” ujarku sambil mengaduk es dawet di tanganku. “Mas, Wisnu pernah kesini nggak?”
“Oh Mas Wisnu, iya pernah kesini,”
“Sekali ya mas?”
“Nggak non, dua kali sih. Tapi yang terakhir dia cuma sebentar, cuma beli es dawet doing, soalnya pas itu Mang Dadang nggak jualan.”
“Oh ya, kapan Mas?”
“Yang terakhir baru sekitar 4 hari yang lalu. Eh non Mas Wisnu udah nikah ya?”
“Lho, saya malah nggak tahu Mas, udah lama nggak ketemu, saya kan selama ini kerja di Bandung.”
“Oh gitu non? Kayaknya udah nikah soalnya pas terakhir kesini Mas Wisnu ngajak wanita cantik berjilbab dan digandeng.”
“Pacarnya kali mas,”
“Saya rasa tidak non, mereka memanggil dengan sebutan mama papa gitu non,”
Aku diam mendengar berita itu. Berarti aku dan Wisnu benar-benar sudah menemukan dunia masing-masing. Obrolan sore itu segera ku sudahi.
***

Hari ini aku sudah tak berniat datang ke pojok sekolahku dulu. Aku sudah mantap menikah dengan Fajri. Tak ada rasa ingin bertemu Wisnu, setelah tahu dia juga sudah berkeluarga. Yah, inilah hidup, terus berlalu. Sama persis seperti kisahku. Wisnu sudah menemukan rusuknya (wanitanya) dan aku juga sudah menemukan belahan jiwaku.
Pojok sekolah tetap menyimpan kenangan khas tersendiri bagiku. Sekedar kenangan manis dimasa lalu. Kenangan yang mampu membuatku tersenyum mengingatnya.
Di Pojok Sekolah . . . . 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar