Intan Mahesa Putri

Ini memang kesalahanku sendiri. Aku yang telah menyia-nyiakannya dulu. Jadi tak ada yang salah bila akhirnya dia benar-benar pergi dari hidu...

Ini memang kesalahanku sendiri. Aku yang telah menyia-nyiakannya dulu. Jadi tak ada yang salah bila akhirnya dia benar-benar pergi dari hidupku, dan meronce butir-butir mutiara kehidupannya dengan lelaki lain.

Lama ku pandangi kartu undangan di tanganku. Kertas bewarna perak dengan corak merah hati ini terasa berat dalam genggamanku. Nama Intan tertulis jelas disana dengan tinta emas beserta nama seorang lelaki yang tak ku kenal. Yah, aku merasakan apa yang pernah dikatakannya dulu. Intan pernah menangis dan berkata, " kau akan tahu rasanya nanti. Aku tak pernah mendendam akan sikapmu. Hanya saja aku pastikan esalmu akan datang, nanti saat aku benar-benar pergi," Dan ternyata benar, aku merasakan itu. Sesal yang membuatku dadaku sesak.

Jujur aku tak bisa memastikan bahwa diriku mampu menahan pilu saat bertemu dengannya nanti. Aku gamang. Ingin rasanya hadir dan menjadi bagian dari pesta perkawinan itu, meski hanya menjadi tamu. Namun aku takut kehadiranku malah akan merunyamkan pestanya. Segera ku tenggelamkan pikiran itu, "toh dia mengundangku. Berarti dia mengingnkanku untuk hadir dalam pestanya," gumamku sendiri.

****


Hari pernikahan Intan tiba. Aku datang sesuai waktu yang tertera dalam undangannya tempo hari. Semua ku persiapkan, termasuk hatiku. Hari ini aku bahagia sebab akan bertemu dengan mantan kekasihku. Sekaligus menjadi saksi bahwa dirinya telah mendapat kebahagiaannya tanpa aku. Tapi jauh dalam relung terdalam jiwaku, perih itu terus meninju setiap dinding hatiku. Aku sakit mengingat ulahku dulu. Aku meninggalkannya hanya karena rasa bosan sesaat, dan ulahku itu berdampak kini.


Aku mematutkan diri di depan cermin. Masih ada foto Intan yang terpasang di pojok atas cermin. Foto itu kuambil 6 tahun lalu. Dia tersenyum. Diam-diam kaca dalam mataku meretak dan akhirnya pecah. Rasanya Intan berada di sampingku, sayang aku tak bisa menyentuhnya. Bahkan bayangannya pun semakin menjauh, tanpa mampu ku rengkuh. Aku sadar dan segera menyeka air yang tadi sempat merembes dari mataku. Aku tak ingin terlihat sedih di hari bahagia Wanita Terindahku (dulu). Aku harus tersenyum untuknya, senyuman terakhir.


****


Tenda putihtelah berdiri dengan megahnya. Tamu-tamu terlihat mulai berdatangan. Ku perkirkan mobil jazz biruku. Tak lupa ku raih bingkisan kecil sebagai kado pernikahan untuknya. Aku sengaja datang lebih pagi. Sebab aku ingin melihat prosesi ijab qabulnya. Aku kembali menata hatiku. Ku rasa aku sudah siap, ku langkahkan kaki memasuki ruangan prosesi sakral itu. Darahku rasanya berdesir kencang. Sebebtar lagi aku akan menyaksikan mantan kekasihku yang masih sangat ku cintai duduk berdampingan dengan lelaki lain. Lelaki yang selangkah lagi akan menjadi suaminya.


Entah mengapa aku begitu ingin mengikuti prosesi ini. Padahal aku tahu, hatiku sakit melihatnya. Mungkin karena aku dulu sekali pernah bercita-citaa menjadi seperti lelaki di depan penghulu itu.


Aku duduk di baris kedua dari depan. Wajah Intan begitu terlihat jelas. Tak henti-hentinya senyum itu mengembang. Dia begitu cantik dengan kebaya putih muslinya. Aku yakin bila ada bidadari yang melihatnya saat ini, pasti bidadari itu akan iri. Aku menahan air mata yang ingin menyeruak dari kelopak mataku. Aku laki-laki yang cengeng, tapi itulah aku. Melihat laki-laki itu dengan fasihnya menirukan ucapan sang penghulu membuat hatiku semakin tak karuan.


****


Acara Resepsi dimulai. Intan bersama suaminya berdiri di panggung pelaminan. Mereka sangat serasi. Kebaya gold muslim yang di kenakannya kini menambah aura kecantikannya semakin memancar. Aku berdiri seperti antrean untuk bersalaman dengan mempelai. Jantungku berdetak keras dan darahku mengalir melebihi kecepatan biasanya. Sesaat lagi aku akan menjabat tangan Intan dan mengucapkan 'Selamat menempuh hidup baru'. Setelah sekian lama kita terpisah dan setelah aku berharap mampu memilikinya lagi, hari ini aku harus terima bahwa Intan sudah menjadi milik orang lain. Tiba giliranku untuk berjabat tangan dengannya.

"Selamat menempuh hidup baru Intan," ujarku dengan senyum dan menahan sesak dalam dadaku.

Dia mengangguk tersenyum, "Terimakasih Arman, semoga kamu cepat nyusul dan kedatanganmu merupakan kado bagiku," aku hanya mengangguk saja, lalu bersalaman dengan suaminya.


Sungguh aku heran mengapa aku sekuat ini di hadapannya. Aku bisa tersenyum di balik luka batin yang menganga bernanah. Akhirnya aku tak tahan lagi menahan sesak itu. Ku putuskan untuk meninggalkan pesta ini. Aku tak ingin ada yang tahu bahwa aku menangis. Aku harus mampu mengikhlaskannya. Apalagi semua ini terjadi karena kesalahanku dimasalalu.


Sambil menyetir, ku setel lagu-lagu memori saat kami bersama. Alunan musik dan suara merdu sang penyanyi menambah suasana syahdu dalam mobil ini. Hatiku berkata, "aku harus bisa berdiri. Aku harus mampu berjalan tanpanya," kurasa itu benar. Buat apa lagi aku menyesal. Aku harus bisa terima kenyataan. Bukan Arman bila terus hanyut dalam masalalu. Aku harus bisa berdiri dan mencoba hidup tanpanya. INTAN MAHESA PUTRI.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images