Suatu Pilihan

Diam. Ya aku diam sudah tak mampu lagi berkata banyak. Andi pun sepertinya sama denganku. Dia diam. Rasanya aku ini orang paling berdosa saa...

Diam. Ya aku diam sudah tak mampu lagi berkata banyak. Andi pun sepertinya sama denganku. Dia diam. Rasanya aku ini orang paling berdosa saat ini. Aku baru saja mengutarakan apa mauku. Aku memilih berpisah dengannya, kekasih yang sudah 4tahun terakhir menemaniku disegala kondisi. Aku bingung dan tak yakin dengan keputusanku. Aku masih sangat mencintainya, namun sepertinya orangtuaku tak akan merestui hubungan kami. Semua ini karena pekerjaanku yang menjabat sebagai manager keuangan suatu perusahaan swasta di Jakarta dan dia hanya seorang PNS yang gajinya jauh di bawahku.
Aku sering benci dengan profesiku yang membuatku harus terpisah dari Andi. Hari-hari tanpanya adalah hari yang terberat pernah kurasakan selama ini. Sebenarnya aku tak sekalipun mempersalahkan sisi financial kita, tapi Ibu yang selalu saja tak setuju. Mau bagaimana lagi? Aku hanya seorang anak yang harus patuh.
Akhir-akhir ini aku jadi sering melamun. Pikiranku tak bisa beranjak menjauh darinya. Andi masih bercokol kuat dalam ruang-ruang dihatiku. Aku sering menitikkan air mata saat teringat dia. Teringat perhatiannya, tawanya, senyumnya, rayuannya, candanya, dan segalanya tentang dia. Aku nyaris gila dibuatnya.
***
Hari ini aku pulang lebih awal. Ku sempatkan mampir ke salon langgananku. Aku ingin creambath, setidaknya hal ini dapat mengurangi penatku di kantor tadi. Ponsel dalam saku kemejaku bordering nyaring, ada sms dari mama. Beliau memintaku segera pulang. Aku pun menunda rencana facialku, dan segera pulang setelah creambath selesai.
Tak seperti biasanya mama terlihat begitu ceria menyambutku. Aku sedikit heran, namun kutepis prasangka itu. “Sayang buruan mandi, ntar malem ada tamu special lho,” ujar mama masih dengan mimic berbinar. Aku tak menjawab, aku langsung berlalu dan masuk kekamarku untuk menjalankan perintah ibundaku tercinta.
Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 19.00, mama mengetuk pintu kamarku.
“Ada apa ma?” tanyaku seraya membukakan pintu.
“Lho, mama kan nyuruh kamu dandan kok belum dandan?”
“Memangnya mau ada tamu siapa ma?” tanyaku dengan malas.
“Ntar kamu juga tahu, buruan gih dandan,” mama berlalu dan aku lagi-lagi melaksanakan perintahnya.
Tak butuh waktu lama untukku bersolek. Aku memakai gamis elegan berwarna coklat beserta jilbabnya yang senada. Aku keluar kamar dan menemui mama.
“Duh anak kita cantik sekali ya ma,” ujar papa memujiku. Aku tersenyum simpul.
“Iya donk, anak siapa dulu,” timpal mama seraya mencium pipiku.
“Mama kenapa sih aku disuruh dandan gini?” belum sempat terjawab pertanyaanku, bel rumahku berbunyi, mama membukakan pintu. Mama masuk kembali ke ruang tengah tempatku duduk saat ini, mama memanggil ayah untuk diajak ke ruang tamu. Aku semakin bingung, rasanya ada yang ganjal. Aku memilih berekreasi ke dunia maya, saat aku sedang asyik mama menemuiku.
“Ayo sayang ke depan,”
“Ke depan ?”
“Iya, temui tamu kita,” mama meraih tanganku dituntun menuju ruang tamu. Alangkah kagetnya, saat tahu siapa tamu itu. Kak Doni dan kedua orang tuanya, ingatanku langsung tertuju pada 7tahun silam, masa-masa awal dibangku perkuliahan. Kak Doni ini pacar pertamaku, menurut kabar terakhir, sekarang dia sudah menjadi dokter spesialis penyakit dalam di suatu rumah sakit besar di Jakarta.
“Kak Doni?” kataku kaget. Sepertinya dia sama denganku, sama-sama kagetnya.
“Lhoh Rara?”
“Kalian sudah saling kenal?” tanya mamaku kemudian, aku pun mengangguk. Kemudian aku duduk berhadapan dengan Kak Doni. Dalam hatiku bertanya-tanya ada apa ini. Pertanyaanku langsung terjawab ketika ayah berkata apa maksud kedatangan mereka.
“Wah ini lebih gampang kalau kalian sudah kenal,” ujar ayahku, “Jadi maksud kedatangan mereka kemari untuk melamarmu anakku,” lanjut ayah. Perkataan ayah barusan cukup membuatku kena serangan jantung, ‘aku dilamar Kak Doni?’ gumamku dalam hati.
Aku masih dalam kekagetanku, ketika mama menyenggol tangan kananku.
“Eh, ya, emhh, gimana?” aku cukup gugup saat ini.
“Di terima atau tidak nak?” tanya ayah lagi. Aku berusaha menjernihkan pikiranku dan mencoba berpikir dengan sehat. Lalu,” Rara pikirkan dulu yah.”
“Baiklah kami rasa itu jawaban terbaik pak, buk,” ujar ayah Kak Doni kemudian.
“Begini saja, biarkan mereka ngobrol berdua dulu, sepertinya mereka sudah saling kenal juga. Siapa tahu ada cerita lama yang timbul lagi,” timpal mama Kak Doni.
Akhirnya aku dan Kak Doni meninggalkan ruang tamu dan duduk di gazebo dekat taman di belakang rumah.
“Sungguh aku tak menyangka kalau kamu yang dipilih mama Ra,” ujar Kak Doni membuka percakapan. Aku menoleh padanya dan memandangnya dalam hitungan detik, “aku pun sama Kak.”
“Ra, sudah berapa tahun kita tak bertemu?” tanyanya.
“Sekitar 7tahun Kak.”
“Ra, maafin aku yang dulu…”
“Husst, nggak usah berbicara masa itu, saat itu kamu pergi karena tuntutan beasiswa, dan aku rela,”
kataku tak memberinya kesempatan berbicara.
“Terima kasih Ra, kamu masih sama seperti dulu, malah sekarang kau makin anggung dengan jilbabmu.” katanya memujiku, aku tersenyum tersanjung. Tak dapat ku pungkiri, Kak Doni sekarang lebih tampan dari 7 tahun silam. Rambutnya dibuat berdiri menantang langit, wajahnya putih bersih, tubuhnya tinggi tegap berisi, secara fisikli, dia sempurna.
Selepas dia pulang, aku merasa ada gejolak lain yang mengalir melalui pembuluh darahku. Aku seperti jatuh cinta lagi, aku lupa akan lukaku pada Andi, mantan kekasihku. Setelah pertemuanku malam itu, Kak Doni jadi sering mengajakku keluar, entah makan, nonton atau sekedar berpatroli di jalan melepas penat. Aku semakin lupa pada patah hatiku yang belum lama. Aku menemukan duniaku lagi bersama Kak Doni. Selalu ada canda tawa disetiap pertemuan kita. Dunia terasa begitu indahnya.
***
Malam ini Kak Doni kembali datang ke rumah untuk bertanya tentang kesanggupanku menjadi istrinya. Aku sudah tahu rencana ini, sebab sebelum Kak Doni datang, dia sudah berbicara terlebih dulu padaku, dan aku sangat setuju.Aku bersolek di depan kaca meja riasku, bahagia begitu terasa menyelimuti relung-relung terdalam jiwaku. Sudah ku persiankan jawaban untuk pinangannya.
“Bagaimana Nak Rara, kata anak kami nak Rara sudah bersedia memberi jawaban malam ini,” ujar ayah Kak Doni. Aku menunduk, dan segera menjawab perkataan calon ayah mertuaku itu.
“Saya bersedia pak menjadi istri dari Kak Doni,” jawabku dengan penuh keyakinan. Semua yang ada di ruang tamu tersebut tersenyum dengan puas dan mengucap syukur Alhamdulillah, terutama mama.
Kemudian, mereka sibuk menentukan hari kapan perkawinan kami akan dilaksanakan. Sedangkan aku dan Kak Doni malah duduk bercanda tertawa di gazebo belakang rumah. Aku sangat yakin dengan keputusanku. Aku percaya, aku akan bahagia hidup bersamanya, aku hafal sifat sikapnya dan aku tahu persis semua tentangnya. Jadi ku rasa tak perlu waktu banyak untuk kami berpacaran, memang sebaiknya segera menikah saja.
***
Hari ini tanggal 05 Januari 2004, hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Tenda putih sudah berdiri megah menyambut tamu hajatan yang datang kekediaman orang tuaku. Ini hari pernikahanku dengan Kak Doni. Jam 09.00 pagi akad nikah dilaksanakan di kediamanku. Semua berjalan sempurna sesuai yang kami harapkan. Resepsi diadakan di dua tempat, di kediamanku, sekaligus di ballroom salah satu hotel berbintang di Jakarta. Ku rasa pernikahanku ini termasuk pernikahan yang termewah di awal tahun ini.
Badanku terasa begitu lelah menjalani hari bersejarah ini. Akhirnya aku telah resmi menyandang predikat seorang istri. Aku begitu bahagia.
***
3 Bulan Kemudian
Kak Doni terlihat sangat mencintaiku, dia tak henti-hentinya memamerkanku di hadapan rekan-rekan seprofesinya. Begitu pun aku, aku sangat bangga bersuamikan dia. Seorang dokter spesialis penyakit dalam yang tampan dan taat beribadah. Tak ada lagi yang aku cari di dunia ini, harta, martabat, jabatan, suami dan buah hati sudah ku peroleh. Sekarang, usia kandunganku memasuki bulan ke empat. Kak Doni semakin perhatian denganku dan aku sangat bahagia tersanjung oleh sikap-sikapnya.
Anak pertama kami lahir dengan jenis kelamin laki-laki. Aku dan Kak Doni bersepakat memberinya nama Ahmad Dzikri Al Hakim Sulistya. Kami memanggilnya dengan nama Hakim. Hakim beranjak menjadi bayi mungil nan montok. Hidungnya mancung persis ayahnya, matanya bagai fotokopi mataku, bibirnya mirip ayahnya, namun bentuk wajahnya lonjong sepertiku. Aku dan Kak Doni begitu bahagia atas kehadirannya.
Tiada hari tanpa tangis bahagia dari buah hati kami. Rumah tak lagi sepi. Aku yang hingga saat ini masih menjabat manager keuangan sering kehabisan waktu untuk bercengkrama dengan si kecilku. Kami selalu bekerja sama merawat buah hati yang dititipkan Illahi pada kami. Hakim beranjak besar. Sekarang usianya sudah menginjak satu tahun. Dia mulai bisa berjalan dan belajar berbicara. Kami jadi semakin gemas dengan tingkah polahnya.
***
2 Tahun Kemudian
Aku mengandung anak kedua dari pernikahanku dengan Kak Doni. Untuk sementara waktu aku cuti kerja, mengingat usia kandunganku sudah memasuki usia 9 bulan. Sesibuk apapun Kak Doni dia selalu memberiku perhatian yang lebih. Hal ini membuatku semakin semangat menjalani hari-hari. Aku sudah benar-benar lupa dengan kejadian sekitar 4 tahun silam, perpisahanku dan Andi. Aku sangat bahagia bersuamikan Kak Doni, mungkin hal ini yang menyebabkan aku begitu mudahnya lupa pada Andi.
Anak kedua kami lahir dengan normal dan berjenis kelamin perempuan. Kami memberi nama Aurora Dzikra Sulistya, panggilannya Aura. Hakim dan Aura terpaut usia sekitar 3 tahun. Bisa dibilang repot mengurus dua balita sekaligus, namun rasanya bahagia bercengkrama dengan dua buah cinta kami ini.
HAri-hari terus berlalu, hingga tiba waktuku untuk kembali bekerja di kantor. Terpaksa kutitipkan kedua buah cinta ini pada baby sitter. Padahal aku sebenarnya ingin mengurus mereka sendiri. Tapi aku masih bingung, mau resign atau tidak. Mengingat jabatanku, bukan jabatan main-main.
Siang ini aku ada janji untuk meeting dengan salah satu perusahaan penjual jasa. Tepat pukul 14.00 aku sudah sampai di kantor yang terletak di kawasan Thamrin itu. Sebelum memasuki ruang meeting, ku sempatkan mampir ke kamar kecil untuk memperbaiki penampilanku agar lebih PD saat meeting nanti.
Ketika aku masuk ruangan masih terbilang sepi, peserta meeting belum sepenuhnya datang. Ku telpon rumah sekedar menanyakan kabar kedua buah hatiku. Kemudian semua peserta meeting hadir dan rapat dimulai. Alangkah kagetnya aku saat mendongakkan kepala dan mendapati seorang lelaki yang sangat ku kenal duduk di hadapanku. Ku rasa dia juga tercengang melihatku.Andi, ya dia Andi mantan kekasihku yang sekitar 4 tahun lalu ku putuskan. Dia berubah sekarang, badannya lebih berisi, putih bersih, terawat dan lebih tampan. Aku yakin sekarang dia sudah menjadi seorang pengusaha, atau paling tidak dia bekerja di tempat yang bergaji lebih.
Selama rapat berlangsung otakku tak dapat fokus. Aku merasa ada gejolak lama yang hadir kembali. Berulang kali ku sangkal tapi tak membuahkan hasil. Aku jadi takut sendiri. Selesai rapat, Andi mengejarku, “Rara,” panggilnya mendekatiku.
“Hei ada apa?” tanyaku berusaha menyembunyikan gejolak yang ada.
“Ada waktu untuk ngopi bareng nggak sore ini?” tawarnya mengajakku keluar. Aku berpikir sejenak dan mengangguk seraya memberinya kartu nama sebelum akhirnya aku melesat meninggalkan lobi kantor itu.
***
Sore ini aku duduk di coffe shop dekat kantorku. Aku menunggu Andi disini. sesungguhnya aku merasa ini kesalahan tapi apa boleh buat rindu juga yang memaksaku menyenggupi tawarannya. Andi datang dengan mobil Harier hitam yang terkesan begitu mewah. Dia sangat berbeda sekarang. Sore itu kami berbincang banyak, bercerita tentang hari-hari yang kami lalui seusai perpisahan pahit beberapa tahun silam. Andi sudah memiliki istri seorang pegawai bank dan memiliki satu putri berusia sekitar 2tahun.
Sejak pertemuan itu, diam-diam kami dekat lagi. Kami seperti merajut benang-benang yang terputus dimasalalu, tentunya tanpa sepengetahuan pasangan kami. Hubungan kami tak lebih dari telpon, sms, chatting atau ngopi bareng. Namun bagiku itu sudah cukup menjadi pelanggaran sebagai istri.
Hari ini aku berbohong pada Kak Doni. Aku bilang ada lembur, padahal aku jalan keluar dengan Andi. Kami makan malam di wilayah pamtai Ancol. Suasananya romantic sekali, kian menusuk hatiku. Jiwaku terusik oleh ulahku sendiri dan ini membuatku banyak diam.
“Kamu kok diam terus sih Ra?” tanya Andi.
“Nggak papa kok,” jawabku sekenanya. Tiba-tiba ponsel milik Andi bordering nyaring.
“Iya sayang, ada apa? Heem aku lembur maaf ya sayang, apa? oh anak papa kangen ya? Yaudah papa cepet pulang.” katanya bercakap lewat telpon. Aku yakin itu telpon dari istrinya, hatiku semakin tertusuk. Membayangkan aku berada pada posisi istri Andi, dibohongi suami. Duh betapa sakitnya. Di tengah keasyikanku bergelut dengan rasa, ponselku bordering, “Halo pa, iya mama masih lembur. Emhh,, nggak usah ntar aku pulang sendiri aja. Iya pa, papa juga ya,” lalu kusudahi obrolanku.
“Dari suami Ra?” tanya Andi dan aku mengangguk.
“Kamu tadi juga kan?” dia mengangguk juga. “Ku rasa ini kesalahan Ndi, lanjutku.
“Maksudmu?”
“Harusnya kita tak usah lagi berkencan seperti ini, kita memiliki keluarga masing-masing yang sangat mencintai kita.” kataku berfilosof. Dia terlihat berpikir sejenak, “Aku mau pulang Ndi.” ujarku seraya mengambil tak tanganku dan berdiri hendak berlalu.
“Lho tapi ini,”
“Nggak, hatiku berkata aku telah berbuat serong Ndi. Aku nggak mau. Aku harus konsisten menjalani pilihan masalaluku.” kataku sambil berjalan pergi menuju mobilku.
Di perjalanan aku merasa sesak hebat dalam dada. Aku begitu berdosa pada suami dan kedua buah hatiku, Hakim dan Aura. Mereka bukti cintaku pada Kak Doni, tak sepantasnya aku berbuat sepeti tadi. Meskipun aku tak pernah bersentuhan dengan Kak Andi, tapi aku sudah memberinya ruang untuk memporak-porandakan jiwa. Ah semoga Tuhanku mengampuninya.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images