Selamat Jalan Kekasih

Mitha berdiri ditepian lautan luas dengan rambut tergerai dan kotak music di tangannya. Pandangannya lurus ke lautan bebas yang seakan tanpa...

Mitha berdiri ditepian lautan luas dengan rambut tergerai dan kotak music di tangannya. Pandangannya lurus ke lautan bebas yang seakan tanpa batas. Angin laut dengan mesra membelai rambut panjangnya, membuat rambut itu melambai-lambai. Ombak terus menerus menerjang kaki putih tanpa noda. Di pantai inilah sejuta kenangan pernah terukir bersama Putra. Mitha membuka kotak music mungil berwarna coklat keemasan yang digenggamnya. Lantunan music mengalun lembut, seakan disetiap nadanya terselip cerita-cerita roman masa silam. Mitha memejamkan mata mengenang masalalunya. Awal pertemuannya dengan Putra di pantai ini, sama-sama menjadikan pantai ini sebagai tempat favoritnya dan detik detik terakhir sebelum jarak dan waktu akhirnya memisahkan keduanya hingga kini.


Mitha mendesah pelan, melepas segala kerinduan pada sang pujaan hati. Perlahan matanya terbuka. Dilihatnya awan yang tadinya ke abu-abuan sudah berubah lebih cerah. Matahari kembali tersenyum, bagai menghapus kesedihannya. Mitha ikut tersenyum bersama matahari, belai lembut sang angin dan lambaian nyiur yang menyempurnakan suasana sore di pantai penuh kenangan ini.


“Tunggu aku, dua tahun lagi aku akan pulang dan menemuimu lagi. Kita akan kunjungi tempat ini bersama dan merangkai masa depan yang lebih serius dari ini,” kata Putra di detik terakhirnya di pantai ini sebelum meninggalkan Indonesia.

“Dua tahun? Apa kamu yakin bisa menjaga hatimu untukku?” tanya Mitha dengan rasa galau yang merongrong kalbunya.

“Pasti aku bisa, untukmu aku akan berusaha sekuat tenaga, sepenuh hati. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” Putra mengecup mesra tangan Mitha.


Kegalauan hati Mitha berangsur menghilang terhapus sikap lembut Putra.


Dan kini, saat dua tahun itu berlalu. Semua janji Putra dulu belum ada tanda-tanda akan terealisasi. Hubungan komunikasi yang memburuk berhasil membuat keduanya semakin jauh, jauh dan terus menjauh, hingga tegur sapa dunia maya pun tak dapat menyatukannya.


Kotak music di tangannya itu adalah benda yang satu-satunya kenangan dari Putra. Kini dua tahun telah berlalu sejak setahun silam. Akankah hidupnya hanya akan diisi dengan penantian tanpa ujung? Tidak, Mitha tak sebodoh itu. Dia menyerahkan semua takdir cinta pada sang kuasa. Mitha ingin melepaskan Putra. Dia tak ingin lagi berharap banyak. Mitha telah mampu memaknai cinta sesungguhnya. Bahwa cinta yang hakiki itu ialah cintanya pada Tuhan, sementara cinta pada sesama makhluk itu fana. Inilah buktinya, cintanya pada Putra harus direlakan untuk menjadi kisah yang tak sempurna.


“Aku yakin kita akan bertemu disaat yang lebih baik jika kita memang berjodoh,” gumamnya sendiri.

“Dan kini aku ingin kotak music ini bebas berenang di lautan tanpa batas, sebagai wujud dari hatiku yang berusaha mengikhlaskanmu. Aku tahu pasti ada alasan kuat mengapa kamu tak menemuiku sesuai janjimu dulu. Aku akan berusaha maklum untuk kebahagiaanmu,” katanya pada kotak music itu.


Perlahan mutiara-mutiara bening itu menetes dan membasahi wajah ayunya. Seperti serakan kaca-kaca rapuh, Mitha tak mampu lagi menahan gejolak emosionalnya yang tiba-tiba meningkat.

Dilemparkannya kotak music tadi ketengah lautan dan lenyap terbawa gelombang entah kemana.


“Selamat Jalan Kekasih” ujarnya pelan seraya menyeka airmata di pipinya.






Selamat jalan kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu, untuk selama-lamanya
Aku cinta padamu, aku masih menyayangimu
Walau hanya di hati saja
Untuk selama-lamanya…..
(selamat jalan kekasih- Rita Effendi)




21. 09. 10. 00:25 .

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images