Perempuan Itu

www.google.com Perempuan itu duduk sendiri dipinggir jembatan kali. Duduknya membelakangi jalan dan menghadap kehamparan sungai dibawa...

www.google.com



Perempuan itu duduk sendiri dipinggir jembatan kali. Duduknya membelakangi jalan dan menghadap kehamparan sungai dibawahnya. Aku tak pernah melihatnya seperti ini. Tidak pernah. Kecuali hari ini, tepat tahun kelima setelah perpisahanku dengannya. Dari sahabatnya, aku mendapat cerita, perempuan itu memang suka menghabiskan waktunya dijembatan tempatnya berdiam saat ini. Rasanya aku ingin mendekatinya, lalu menepuk pundaknya dan ikut duduk bersamanya, mungkin mengajaknya berbagi cerita seperti sediakala. Tapi kakiku enggan melangkah. Betapa aku sadar, akulah yang membuatnya seperti ini. Selalu merasa sepi. Selalu membuat perempuan itu sendiri. Ku pandangi punggungnya. Tak bergeming. Tentu dia tak tahu aku ada disini. Mengamatinya. Sedang mengamatinya.
Entah energy apa yang menggerakkan langkahku. Tahu-tahu aku sudah ada disampingnya. Dia masih tak menyadari kehadiranku. Aku berdiri mematung, memandangnya, lalu ikut melihat kebawah sana. Ternyata tak hanya sungai, aku menemukan keindahan yang dinikmati perempuan itu. Kerlip lampu rumah warga yang menjelma bak sinar kemilau bintang di angkasa. Perempuan itu menoleh ke arahku. Tatapannya beda, seakan dia tak mengenaliku. Matanya kembali ke sajadah bintang yang tersaji di depannya. Lalu, dia menoleh ke arahku lagi. Kali ini tatapannya lebih seksama dan lama. Layaknya orang yang sedang meyakinkan diri
“Irfan?” gumamnya pelan, lirih.Aku tersenyum dan ikut duduk di sampingnya, menjulurkan kakiku seperti kakinya.
“Ada apa kau datang kemari?”
“Kata Diana, kamu sering merasa sepi,”“Diana? Kenapa dia bercerita kepadamu?”
“Karena aku sering mengintrogasi dia, bertanya ini-itu tentang kamu. Termasuk tentang hobi barumu.”
“Apa pedulimu padaku?”
“Aku masih peduli padamu, kepada semua tentangmu,”
Perempuan itu beranjak.
“Mau kemana kamu?”
“Aku tak menemukan sensasi itu lagi saat kau datang tadi,”
Aku tercengang pada ucapannya. Apa benar dengan kata-katanya barusan? Entahlah aku tak tahu.
Perempuan itu terus berjalan menjauh. Ingin sekali aku mengejarnya. Namun hatiku kelu. Aku tak ingin membuatnya sakit lagi. Sakit kedua kalinya. Sudah cukup jahat diriku meninggalkannya sendiri lima tahun lalu. Dan kini saat aku kembali, wajar bila dia sudah hilang rasa. Sudah menggantinya dengan benci membara.





Magelang 14 oktober 2010

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images