Antara Jogja-Lampung

By Erny Kurniawati - 15.54.00

google


Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai memang begitu menyakitkan. Berpisah dengan orang yang selalu menemani kita memang sangat perih. Tapi bagaimana kalau itu sudah takdir?? Ya, begitulah perasaanku saat harus menerima keadaan bahwa Melani tak lagi menjadi milikku.
Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Sesuai rencana, siang nanti tepat pukul 10.00 WIB aku akan pergi ke Lampung, tempat kakakku menetap. Aku sudah tak mampu lagi menahan perang batin sejak berpisah dengan Melani. Antara aku dan Melani memang belum terikat pernikahan, tapi kami sudah bertunangan dan hampir lima tahun ini kami menjalin hubungan. Aku Rendra Maheswara, segenap hati mencintai Melani Mutia. Tinggal lima bulan lagi pernikahan yang kami rencanakan dulu akan terlaksana. Ahh… tapi mau bagaimana lagi, takdir berkata lain.
Jam 10.00 hari Minggu  22 Juni 2008 menjadi saksi bisu keberangkatanku meninggalkan kota Jogja yang sudah bertahun-tahun memberiku banyak cerita suka dan duka. Karena aku ingin menikmati perjalananku lebih lama, aku pun pergi ke Lampung dengan bus patas executive. Ku nikmati perjalananku kali ini. Ku nikmati saja luka yang sedang parah-parahnya di hatiku. Mungkin bila dibandingkan dengan luka tusukan ini lebih menyakitkan. Sangat menyakitkan. Kebetulan aku mendapat tempat duduk di deretan depan, jadi aku bisa memandangi kota Jogja yang berlari pergi di belakangku lewat kaca spion. Sebisa mungkin aku mencoba membuang berjuta kenangan manis dan perihku di kota gudeg itu. Aku berusaha untuk bertahan dari amukan sang air suci di mataku. Hatiku sangat sesak.
Bus Putra Remaja yang ku tumpangi terus membawaku menjauh dari kota penuh sejarah itu. Sudah tak kudapati pantulan gambar kota penuh cerita tersebut di kaca spion yang sedari tadi ku pandangi. Semakin jauh bus ini berjalan, semakin keras usahaku meninggalkan kenangan-kenangan itu. Ku pandangi pemandangan di luar kaca jendela yang seakan berlari kencang. Hingga hari mulai gelap dan matahari tenggelam tertelan indahnya senja di hari yang cerah ini. Aku jadi ingat kalau dulu Melani sangat menyukai saat-saat siang beralih menjadi malam. Sejenak Melani melintas dalam otakku. Kemudian dengan sendirinya dia pergi. Entahlah… Aku mencoba menepisnya, menghapusnya.
***
Kudapati hari sudah berganti menjadi siang kembali, ketika aku memicingkan mataku yang terkena silauan matahari. Aku menggeliat. Tubuhku terasa nyeri di beberapa bagian. Mungkin karena tidur di bus jadi badanku remuk begini. Untung pikiran tentang Melani sudah tak hadir lagi. Akhirnya bus berwarna Biru tua ini berhenti di rumah makan padang. Aku ikut turun bersama rombongan lainnya. Cacing-cacing di perutku sudah mulai menggelar demo. Keroncongan sekali. Aku meraih piring dan mengambil sedikit nasi, tapi aku tertahan saat melihat menu di depanku. Cumi goreng kesukaan Melani. Dia merasuk lagi dalam ingatanku. Dan aku muak.
Bus yang ku tumpangi terus membawa tubuhku ke kota di luar jawa. Hingga akhirnya sampailah di pelabuhan Merak. Aku menghembuskan nafas berat. Lautan selat sunda sudah ada di depan mataku. Sebentar lagi aku akan menyebranginya dan meninggalkan seluruh luka di pulau Jawa. Semua masuk ke dalam kapal feri penyebrangan. Begitupun tubuhku. Aku keluar seperti beberapa orang lainnya. Ku nikmati hembus angin laut yang dengan lembut menerpa diriku. Segar. Kebetulan bus yang ku tumpangi mendapat jatah nyebrang sore jadi tanpa sengaja aku dapat menikmati senja. Senja ini begitu indah dimataku. Menikmati mega keemasan yang membingkai suasana laut di hadapanku. Tiba-tiba aku tanpa sadar menitikkan air mata. Hatiku tak juga mampu menghapus Melani meskipun telah ku hapus jejak-jejak kebersamaan kami dulu dengan meninggalkan Jogja.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar