Bukan Idaman Mamamu

Tak ada banyak kata. Aku diam, diapun juga. Kepulan asap dari cangkir kopi dihadapan kami seolah menjadi kehangatan diantara sikap dingin in...

Tak ada banyak kata. Aku diam, diapun juga. Kepulan asap dari cangkir kopi dihadapan kami seolah menjadi kehangatan diantara sikap dingin ini. Tak ada suara. Sejak mendengar ucapannya tadi hatiku kecewa. Pada akhirnya ini harus terjadi. Sudah kusangka sejak sediakala. Dia memang bukan lelaki yang baik untukku. Sikapnya yang manja seperti anak mama menjadi petaka utama dalam jalinan ini. Lagi-lagi dengan alasan mama dia rela meninggalkanku. Padahal bukan baru kemarin kami bersama. Tapi sudah lama, sudah 3tahun lalu. Dia berdeham. Aku tak tertarik untuk mengeluarkan suara. Kecewaku sudah membuncah dalam dada, hingga gairahku padanya sirna begitu saja.

google


“Maafkan aku Ara, tapi mama menginginkanku berjodoh dengan gadis Solo itu,” telingaku gatal mendengar penjelasan tak bermutu itu.
Aku masih dengan diamku.

“Kamu marah Ara?”
Hanya orang bodoh yang bisa-bisanya bertanya demikian. Tentu aku marah. Tentu aku kesal. Tapi aku juga bersyukur, setidaknya Tuhan menunjukkan padaku bahwa dia memang bukan jodoh yang baik untukku. Bagaimana mungkin aku membina rumah tangga dengan lelaki chicken seperti dia. Apapun harus dengan campur tangan mama.
Aku beranjak dari dudukku menghindari ucapan yang mungkin akan semakin merongrong

“Mau kemana Ara?”
Aku diam saja dan tetap melenggang pergi tanpa suara. Muak sudah aku padanya. Kecewa tentu ada, tapi apa mau dikata, aku bukan gadis Solo lemah lembut idaman mamanya.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images