Yang Pertama

By Erny Kurniawati - 16.12.00


Yang pertama sering kali berkesan lebih lama. Yang pertama sering kali berkesan susah dilupa. Yang pertama sering kali berkesan istimewa. Mengapa? Kata Mario Teguh karena kita membuat persepsi yang pertama bukan hal yang biasa. Coba bila kita menganggapnya seperti yang kedua, ketiga atau kesekian kalinya, mungkin yang pertama tak akan ada arti spesialnya.


Hujan rintik-rintik sedang gemar membasahi kota budaya Jogjakarta. Seperti sore ini, cuaca mendung menjadi warna langit kota gudeg ini. Belum lagi gerimis turun menciptakan genangan-genangan air disana-sini. Dengan tas jinjing berwarna coklat tua mengkilat Arini melindungi kepalanya dari tetesan gerimis, ia berlari kecil menuju motor matic kesayangannya diparkiran samping mall Galleria. Setelah memberi ongkos parkir, motor itu membawanya ngacir menuju rumah sementaranya di daerah Jalan Kaliurang. Sebelum sampai di kostnya, dia berhenti di lapak PKL yang menjajagan koran dan berbagai tabloid. Dia mengambil satu majalah fashion dalam negeri sebagai pilihannya. Diraihnya dompet dalam tas jinjing yang ditentengnya. Lalu kejadian tak disengaja itu terjadi.
Satria, dia berdiri di samping kiri Arini. Keduanya sama-sama tak mengenali siapa yang ada di dekat keduanya.  Keduanya sadar saat pandangan mereka bertabrakan ketika Arini memutar tubuhnya hendak meninggalkan lapak tersebut.
“Satria,”
“Arini,”
Keduanya tampak kaget. Maklumlah, baik Arini maupun Satia sudah lama tak berjumpa. Terakhir lebaran tahun lalu atau sekitar satu setengah tahun. Serentetan pertanyaan langsung memberondong Arini. Arini pun tak kalah crewetnya, banyak pertanyaan keluar dari mulutnya.
Satria dan Arini dulunya sepasang kekasih. Saat itu sudah lama berlalu. Sekitar tiga tahun yang lalu. Satria merupakan pacar pertama Arini. Waktu itu Arini masih duduk di SMA dan Satria masih berstatus mahasiswa semester muda. Keduanya memilih mampir di kedai kopi. Mereka berbincang hangat disini. Sepertinya rindu benar-benar menyergap mereka berdua, hingga obrolan seru tak sulit diciptakan. Jujur saja ini pertama kalinya mereka berbincang sedekat ini selepas kandasnya hubungan mereka. Dulu Satria sering menghindar dari Arini. Entah alasannya apa, Arini sama sekali tak mempermasalahkan itu.
“Oh ya, sekarang udah kerja di perusahaan itu? Keren donk,” puji Arini.
“Iya Alhamdulillah, denger-denger kamu juga berhasil masuk kampus impianmu dengan beasiswa penuh,” kata Satria tak mau kalah serunya.
Obrolan mereka lebih bersemangat dari biasanya. sampai sampai telpon Arini berdering menjadi tanda bahwa dia harus pulang secepatnya.
Perjumpaan singkat hari ini cukup berkesan bagi Arini. Sejak awal pertemuan tadi diam-diam jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Seperti ada rasa lama yang hadir kembali. Satria pacar pertama. Arini senyum-senyum sendiri di kamar kost mini bernuansa ungu manis. Ingatannya melayang pada beberapa tahun lalu. Saat banyak kenangan bersama Satria tercipta. Saat-saat paling manis dalam hidupnya.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar