AURA SEPI

By Erny Kurniawati - 13.05.00

Sepi memiliki arti tersendiri bagi Aura. Bukan waktu yang singkat, dua belas bulan lebih dia melewati hari-harinya sendiri. Tanpa sandaran hati, tanpa perhatian lebih, dan selalu mandiri. Sore ini langit tampak begitu cerahnya. Aura sedang mematutkan diri di depan cermin. Bayangannya tampak cantik dengan busana simple yang chick dan trendy. Setelah pamit Aura bergegas pergi dengan notor bebek kesayangannya. Beginilah Aura, gadis itu tampak begitu mandiri. Kemanapun dia pergi dia lakukan sendiri.


Aura memarkir motornya, lalu kakinya melangkah memasuki café berlantai dua di Jalan. Affandy. Dixie Café. Sepertinya dia terlalu awal datang kemari. Meja yang dijanjikan menjadi tempat reuni teman-teman SMAnya masih sepi dan kosong. Benar saja Aura datang terlalu awal. Dia duduk sendiri ditemani segelas lemon tea. Matanya melirik menyapu seluruh ruangan. Hanya sekitar 5 meja yang terisi. Selebihnya kosong. Mata Aura terpaku pada sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari mejanya. Entah rasa apa, tiba-tiba hati Aura bergetar hebatnya. Pasangan dihadapannya biasa saja, mereka hanya sedang berbincang saja. Sesekali suara tawa kecil menghiasi obrolan mereka. Aura iri. Jauh dalam hatinya dia merindukan masa seperti itu. Lepas dari rutinitas, berbincang dengan pujaan hati dengan canda menyelingi. Raut mukanya sedikit lebih datar. Dia menunduk, kerinduan akan kehadiran pujaan hati membuatnya seketika begini. Kosong. Dia sedang mencoba menyelami perasaan tak nyaman yang beberapa waktu terakhir sering mengusiknya. Nafasnya dihela panjang menandakan bahwa kelelahan telah benar-benar menjalari hatinya.

“Aku lelah sendiri, aku capek sendiri, aku bosan sendiri,” teriak hatinya lantang.


Aura masih menunduk. Dia merasa ngilu sekali. Pikirannya baru saja memflashback seberapa jauh dia menjadi gadis mandiri. Ini itu sendiri. Selama ini dia selalu menepis akan rasa sunyinya karena tanpa lelaki. Namun sore ini, dia tak lagi mampu berdalih. Sekuat apapun wanita, sehebat apapun dia, dia tetap butuh seorang lelaki. Begitu pula Aura, gadis cantik, enerjik dan mandiri. Dalam hati dia membenarkan syair lagu “sang dewi” Titi Dj,


“Wanita mana yang sanggup hidup sendiri di dunia ini,” dia menarik nafas berat.<

Dari belakang pundaknya ditepuk seseorang. Fia teman SMA nya telah datang, gejolak hatinyapun sedikit demi sedikit kembali normal.





*curhat.com ernykurnia : 2 : 12 : 3:21

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar