Optimis Vs Pesimis

By Erny Kurniawati - 13.54.00


Karakteristik kedua orang tuaku yang kadang membuatku bingung. Ibu dengan optimisnya, ayah dengan pesimisnya.
Setelah perceraian kedua orangtuaku, aku harus puas tinggal dengan salah satu di antara mereka. Ibu. Hampir dua tahun ini aku tinggal bersama Ibu. Sedang ayahku jauh di pulau Sumatera sana. Setiap peristiwa memang ada hikmahnya. Baru aku bisa menyadarinya setelah hidup terpisah seperti ini. Antara karakter ayah dan ibu yang jauh bertolak belakang. Andai mereka masih bersama, mungkin aku tak bisa tumbuh seperti saat ini. Terlebih dulu aku akan bercerita tentang ibuku.
Ibuku wanita paling kuat se-dunia. Wonder woman, catwoman, Kartini, Putri Diana, kalah semua dengan ibuku. Selama hampir dua tahun, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhanku, sekolah, makan, dan lainnya. Tak pernah kenal lelah. Sering ibu tampak tak peduli dengan aku dan adikku. Setiap hari bekerja dari pagi hingga malam. Saat pulang ibu hanya sempat bergabung dengan kami beberapa saat saja, tak lama. Tapi jauh pandanganku, akhirnya aku sadar. Beliau terlalu mencintai kami. Optimisme nya untuk memenuhi kehidupan kami dengan layak mengalahkan segala rasa lelahnya. Tersenyum selalu.
Ibu begitu mandiri. Dia menunjukkan pada dunia bahwa wanita bukan makhluk lemah yang takluk pada kekuatan lelaki. Ibu selalu mengajariku tentang hidup mandiri. Kata ibu, aku harus biasa hidup mandiri. Tak bergantung pada orang lain apalagi lelaki. Bukan berarti wanita tak butuh lelaki, namun menurut ibu jika kita (perempuan) masih mampu kenapa harus meminta pada lelaki. Dan sikap mandiri itu tertanam di jiwaku mulai aku remaja.
Ibu memang sosok yang sangat menakjubkan bagiku. Saat aku mengeluh kecewa karena kalah, ibu menenangkanku jika yang terjadi itu yang terbaik. Lantas ibu membangun optimisme dalam hatiku. Selalu berpandangan mungkin kedepan. Tiba saatnya aku gelisah selepas SMA nanti. Aku rasanya tak tega menambah lebih beban ibu. Apalagi aku sangat mendambakan bisa masuk PTN ternama yang biayanya tak sedikit. Jadilah aku berusaha sejak kini. Aku optimis bisa.
Di tengah ke optimisanku pada hidup beberapa tahun lagi, ayah yang jauh disana menawariku untuk tinggal bersamanya di Lampung. Ayah memintaku kuliah di PTN di Lampung sana, padahal idamanku masuk PTN di Jogja. Sesuatu yang membuatku kecewa adalah alasan ayah memintaku kesana. Aku teringat betul jaman SD dulu. Saat itu aku ingin sekali sekolah di SMP favorit di Magelang. Ayah dengan sifat pesimisnya seakan kurang mendukung cita-citaku. Karena kekeras kepala-anku aku nekat mendaftar di SMP itu. Ibu yang dengan optimisnya mendukungku penuh. Hasilnya, aku tercatat sebagai siswa di SMP tersebut. Aku bisa membuktikan pada ayah kemampuanku. Begitupun saat aku mau masuk SMA lalu. Mungkin jika ayah dan ibu tidak berpisah, aku tak bisa sekolah ditempatku sekarang. Kembali ke awal, ayah beralasan takut tak mampu membiayai kuliahku di Jogja. Alasan yang tak jauh beda saat aku masuk SMA. Aku terpukul bercampur iri. Dimana orang tua teman-temanku rela mati-matian memenuhi impian anaknya, ayah seperti menyerah sebelum bertarung. Apalagi semasa aku SMA ini aku sudah mati-matian berusaha membangun karier untukku selepas SMA nanti. Aku berusaha belajar setekun mungkin, hanya satu harapanku, masuk PTN itu dengan potongan biaya. Aku juga berusaha membangun optimismeku seorang diri. Bahkan pikiran khas remaja masa puber, aku kesampingkan. Untuk apa? Untuk membangun jembatan masadepanku. Aku selalu berkaca pada ibu yang begitu optimis dengan hidup. Aku tak mau kalah dengan ibuku.
Ayah, jujur saja aku sangat kecewa. Nyaris optimisku luruh oleh pesimis ayah. Namun ibu, memberiku nasehat untuk tetap menatap hidup di depan dengan semangat. Ibu berkali-kali meyakinkanku bahwa aku mampu merentas semua mimpi-mimpiku. Ibu selalu menyuruhku untuk berdo’a dan berusaha. Menurut ibu, perkataan pesimis ayah itu cobaan bagi optimisku.
Optimisme semakin memuncak, kala aku melihat ibu begitu keras berusaha untukku. Aku tahu mungkin kalau aku diterima di PTN impianku, ibu tak mampu membiayai seluruh kebutuhanku. Tapi ibu selalu yakin, hidup itu penuh keajaiban. Jika Allah berkehendak maka semua harapku senantiasa terwujud. Aku hanya berharap, setidaknya ayah juga mendukung impianku. Bukankah membanggakan baginya jika putri kecilnya dulu mampu meraih semua citanya? Aku berjanji pada ibu, aku akan serius dalam menuntut ilmu, aku akan berusaha meringankan beban ibu. Karena aku tak ingin menjadi beban yang berat bagi pahlawanku. Lalu pada ayah, aku berjanji akan mematahkan pesimismu. Akan ku buktikan aku mampu meraih semua mimpiku. Tanpa membebani ibu dan juga ayah. Sesuai dengan ajaran ibu. Aku akan berusaha mandiri memenuhi kebutuhanku. Jika aku mampu berusaha, mengapa aku harus mengemis meminta? Sekalipun itu ku lakukan pada orangtuaku, aku tetap tak ingin.  

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar