Terbunuh Rindu

Coretan-coretan gravity disepanjang tembok Jogjakartamenjadi pemandangan tersendiri bagi indraku. Coretan pembuktian eksistensi generasi mud...

Coretan-coretan gravity disepanjang tembok Jogjakartamenjadi pemandangan tersendiri bagi indraku. Coretan pembuktian eksistensi generasi muda kota gudeg ini. Mungkin beberapa abad lagi karya vandalisme ini menjadi artefak penting bagi generasi manusia selanjutnya, begitu katamu dulu. Aku sengaja meluangkan waktuku untuk menelusuri sepanjang trotoar tak berujung ini. Tanpa tujuan. Yang jelas aku sedang ingin membunuh. Membunuh rindu. Rindu pada awalnya sebuah rasa yang khas unik dan indah. Lambat laun dia bermetamorfosa menjadi rasa yang pahit dan menjengkelkan. Aku benci rindu. Terlebih rinduku pada lelaki itu.

Setahun lamanya kutahan dalam dada. Berusaha menetralisirnya, tapi selalu saja aku gagal. Ditengah kesibukan mungkin aku lupa, namun sejurus kemudian rindu menghantam hatiku bagai debur ombak pesisir selatan. Kadang aku berpikir bagaimana caraku menebus kangen? Bertemu tak mungkin, mendengarkan suaranya pun hanya khayal. Hanya seperti inilah yang bisa ku lakukan. Menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lewati dulu. Meskipun dinding kotor itu tertawa cekikikan melihat tingkahku. Tak ku hiraukan. Aku yang merasakannya, biar aku yang menikmatinya.

Dengan cara apalagi aku bisa menebus rinduku? Aku takut mati konyol karena terinveksi virus ini. Rindu, rindu dan rindu. Oh ya, memelukmu. Bila tak bisa dalam nyatamu, biar kulukis wajahmu. Lalu kutempel dikepala gulingku. Kan kupeluk guling itu, dan menganggapnya itu kamu. Ya, karena mengharapkanmu dalam mimpi saja sulit, apalagi dalam kehidupan nyata. Terlalu jauh untuk bisa ku rengkuh.



google.com



*26 12 2010 [ditengah kerinduan yang menjemu]

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images