Malam Malam

By Erny Kurniawati - 11.30.00

Gadis itu tampak begitu ayu. Dandanannya begitu simple, make up tipis natural. Hanya saja pakaiannya tampak terbuka dan duduk bersama wanita serupa. Gadis itu bernama Aminah. Nama yang menurut paham modern jauh dari kata gaul. Sehingga sejak tiga bulan lalu namanya diganti dengan Femina. Mirip seperti nama majalah wanita nasional. Pergantian nama itulah yang mengawali derita panjang hidupnya.
***
Sore itu, sepulang mengajar anak-anak kecil mengaji di surau Aminah pulang bersama teman-temannya. Di pelataran rumahnya yang sempit terparkir mobil Suzuki kapsul, menurut warga sekitar tempat tinggalnya merupakan kendaraan kelas atas. Aminah masuk. Dan dia diperkenalkan dengan sang tamu yang mengaku bernama Anita itu. Wanita itu berusia sekitar empat puluhan, namun gurat kecantikan masih melekat erat pada wajah putih bersihnya.
Melalui wanita tadi, Aminah mendapatkan pekerjaan. Menurut perjanjian Aminah akan dipekerjakan sebagai karyawan salah satu rumah makan di Jakarta. Tanpa pikir panjang kedua orang tua Aminah yang memang kolot dan kurang pengalaman mengiyakan saja tawaran Anita. Apalagi Aminah selama ini menganggur. Sehingga Aminah pun turut mengiyakan. Semua karena himpitan ekonomi. Jadilah Aminah hijrah ke ibukota.
Sore berikutnya dia dijemput wanita ayu itu. Aminah mencium tangan bapak ibunya yang sudah tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Perjalanan ke ibukota membutuhkan waktu yang cukup lama. Sekitar setengah hari. Dan pukul 22.00 mereka sampai di tempat tujuan. Ibukota yang menyilaukan mata dengan harapan palsunya.
Aminah merasa aneh saat melihat begitu banyak wanita malam malam begini duduk di pinggiran jalan dengan putung rokok di tangan mereka. Satu dua diantaranya malah sedang mesra bercanda dengan lelaki. Pemandangan ini benar-benar asing baginya. Di daerahnya seorang perempuan tak ada yang bertingkah sedemikian ini. Aminah hanya bergeleng.
"Masuk Minah," suara Anita membuatnya menyudahi pengamatan pada lingkungan baru tempat tinggalnya.

***

Malam itu…
"Pakai ini Aminah," Anita melemparkan dress bercorak bunga dengan lengan you can see.
Aminah mengamatinya sejenak.
"Tapi bu, ini bajunya pendek sekali," kata Aminah dengan nada takut.
Anita melirik gadis disampingnya, "mini? Kalau nggak mini nggak dapet duit," kata wanita itu dengan nada tinggi.
Nyali Aminah menciut. Mau tak mau dia harus memakai baju tadi, meski ajaran Kyainya di kampung tentang cara berpakaian wanita muslim terus berpendar dalam pikirannya. Dia risih dengan pakaian kurang bahan seperti ini. Baru saja pakaian itu dipakainya, Anita masuk kekamarnya.
"Namamu sekarang Femina bukan Aminah,"
"Lhoh bu kok diganti?" tanya Aminah bingung.
"Oh ya satu lagi, panggil saya mami,"
Belum sempat Aminah bersuara mami Anita sudah meninggalkannya di kamar.
Femina atau Aminah keluar dari kamar. Mami Anita sedang duduk di ruang tamu bersama seorang lelaki. Sepertinya lelaki itu seumurannya. Begitu menyadari Femina datang, Anita tersenyum lebar. Firasat buruk menghampiri gadis belia berusia tujuh belas tahun itu.
"Ini lho mas yang aku bilang barang bagus," ujar Anita.
Lelaki itu memandang Femina dengan tatapan keranjang. Femina risih.
"Kok lihatnya gitu amat sih?" cetus Femina.
"Heh, yang sopan kamu," bentak Anita, "oh ya mas, selamat bersenang-senang ya," Anita keluar.
Tinggal Femina dan lelaki itu. Berdua. Lelaki itu mendekatinya. Pandangan penuh nafsu menguatkan firasat buruk itu. Tiba-tiba dia ingat tentang berita human trafficking yang ngetren akhir-akhir ini. Femina sendiri tak begitu memperdulikan berita itu, karena dia hanya tahu sekilas saja tanpa sengaja. Dan pertanyaan besar itu muncul dibenaknya detik ini juga, saat  lelaki itu menyentuh lengannya. "Apa aku korban penjualan wanita?"
"Jangan pegang saya mas," bentak Femina risih.
Lelaki itu seolah tak mendengarnya, dia tetap mencoba meraba apapun yang bisa disentuhnya dari gadis polos dihadapannya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Femina lebih keras.
Bentakannya kali ini malah membuat lelaki itu mencengkeramnya. Femina tak mampu banyak bergerak. Tubuhnya tak sebanding dengan lelaki itu. Dia seperti rusa yang diterkam seekor singa lapar. Lelaki itu berbuat kurang ajar. Femina, gadis lulusan SMP dipinggiran Semarang. Malam ini dia harus rela perawannya dinikmati lelaki hidung belang. Dia hanya mampu menangis sesenggukan. Merasa begitu kotor dan hina. Sementara lelaki tadi sudah berlalu dengan meninggalkan segepok uang yang memang bernilai lumayan. Namun tetap saja dia merasa begitu terluka hatinya. Pertanyaan besarnya tadi terjawab sudah.

***

Tiga bulan itu sudah berlalu. Malam malam selanjutnya mau tak mau Femina harus menuruti kata mami Anita. Betapa hatinya terasa perih jika ingat ajaran kyai tentang larangan zina. Ditambah lagi bapaknya yang mewanti-wanti dirinya untuk menjaga diri. Andai bapak tahu sejak awal pasti dia melarang Aminah bekerja di kota. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.
Setiap malam Aminah atau yang kerap dipanggil Femina ikut dengan wanita lainnya duduk dipinggir jalan dengan busana minim menggoda. Baru tiga bulan dia tinggal di tempat prostitusi ini, tapi entah berapa lelaki sudah menidurinya dengan silih berganti. Beda dengan Aminah polos yang dulu. Yang tak pernah berhubungan dengan lelaki dan selalu menjaga pandangannya. Kini, dia menjelma menjadi bidadari malam yang siap dinikmati siapa saja.
Femina menatap bulan bundar diatas sana. Ingin melarikan diri, tapi apalah daya. Mami Anita pasti akan menghukumnya dengan segala cara. Bahkan mungkin membunuhnya. Dia hanya bisa berharap ada keajaiban yang dapat membebaskannya dari malam malam kelam penuh nista seperti ini.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Kalau sudah begini, tuhan berada di pihak mana.. sementara tuhan masih memberi dia umur panjang. atau mungkin iman yang kurang sehingga dia memilih menjalaninya daripada mati... bagaimana kalau ini terjadi di pihak erny...!!
    (Bercanda lho..jangan marah) dengan iman yang kuat pasti akan melawannya dengan sekuat tenaga atau kalau perlu nyawa taruhannya...

    BalasHapus