AISYAH

By Erny Kurniawati - 12.06.00

“Sekolah iku ora penting, sing penting kowe biso masak. Tugase wong wedok kui ana ing dapur. Ojo melu-melu wong kutho lanang wedok ora ana bedane,” ujar ibu dengan suara tinggi.
Aisyah hanya diam menunduk. Tak ada niatan untuk membantah omongan ibu, meski jauh dalam hatinya merasa sakit mendengar ucapan itu.
Tak ada semangat lagi untuknya melangkahkan kaki menuju sekolah. Toh ibunya sudah bilang kalau sekolah itu tak penting. Itu artinya ibu ingin dia tak melanjutkan setelah lulus SMP dua bulan lagi. Rasanya sakit harapannya dipangkas habis begitu saja. Rasanya hidup pun tak bersemangat. Cita-citanya menjadi perawat harus lenyap dan ia harus ikhlas sebab, “…Tugase wong wedok kui ana ing dapur…” ia mengingat ucapan ibunya.
Pagi ini setelah memarkirkan sepeda onthelnya, Aisyah berjalan menuju kelasnya yang berada di ujung lorong. Kelas yang sebenarnya tak layak untuk belajar. Ternit sudah amblong disana sini, jendela pecah terkena bola, cat memudar dan sempit. Tapi beginilah adanya, seburuk-buruknya harus disyukuri, begitulah paham yang dipegang gadis remaja itu. MTs Daarul Islam, sekolah satu-satunya yang ada di kecamatan Ngluwar. Itu pun berada pada pusat Kecamatan yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari rumahnya. Aisyah harus rela naik sepeda setengah jam lebih setiap pagi untuk berangkat sekolah, namun tak sekalipun semangatnya memudar.
Kerumunan siswa di depan majalah dinding menghentikan langkah Aisyah. Ia mendekat dan membaca pengumuman disana. Senyumnya mengembang penuh tanda tanya. Mendung yang menggelayut di wajahnya sepanjang perjalan tadi lenyap oleh pengumuman di mading depan kantor guru. Lalu ia meneruskan jalannya dan masuk ke kelas reyot di ujung sana.
Bel berbunyi nyaring. Semua anak berhamburan menuju parkir sepeda dan sebagian berjalan santai pulang kerumah masing-masing. Disini angkot masih jarang, tariff pun mahal jadi nyaris tak satupun murid di MTs Daarul Islam memanfaatkan kendaraan public itu. Aisyah kembali memancal pedal sepedanya. Kali ini ada api semangat berpendar dalam dirinya. Tampak jelas dari rona wajah sawo matangnya.
“Jam semene kok lagi bali nduk,” tegur ibunya sambil menyapu teras rumah.
“Inggih buk, nyuwun ngapunten wau wonten les,” Aisyah mencium tangan ibunya.
“Halah nduk, ngko ki yo mung jadi koyo aku kok le sregep-sregep banget. Ibuk ora kuat yen nyekolahke kowe,”
Aisyah lagi-lagi menunduk. Tapi kali ini semangatnya tak lenyap tergerus ucapan pedas ibunya.
“Nduk, kowe kui kudu ngerti keadaan wong tuwo. Awak dewe wong cilik ojo ngarah koyo anak pak lurah,”
Aisyah mengangguk angguk.

***

Ujian tinggal seminggu lagi. Aisyah belajar setengah mati. Siang malam ia terus membaca buku pelajaran. Semangatnya berkobar meski ibunya terus menyiraminya dengan kata-kata yang justru tak mendukungnya. Dalam pikirannya ia masih punya satu kesempatan. Pengumuman di mading tempo hari. Apapun yang terjadi cita-cita tak boleh lenyap begitu saja. Aisyah tersenyum sendiri. Semangat dalam dadanya berkobar.
“Buk, aisy minta do’a. Aisy mau ujian semoga aisy lulus dengan nilai baik,”
“Iyo nduk, muga-muga lulus,”
Kemudian gadis itu memancal sepeda onthelnya dengan semangat empat lima.

***

“Buk niki wonten serat kagem ibuk saking sekolah,” Aisyah menyerahkan amplop putih di tangannya kepada ibu.
“Alah, surat apa iki nduk,”
“Dipun bikak mawon buk,”
Lalu ibunya membuka hati-hati. Wanita paruh baya ini tak lulus SD. Membaca saja masih patah-patah. Keningnya berkerut membaca deret tulisan ditangannya.
“Iki apa tho nduk? Ibuk ora mudeng,”
Aisyah menghela nafas berat. Ada beban dan juga kekhawatiran dalam hatinya.
“Kula angsal beasiswa nerasaken sekolah buk,”
“Beasiswa kui apa tho? Wes tak omongi ora usah sekolah, SMP kui wes duwur,”
“Nanging kula angsal beasiswa buk. Sekolah gratis,”
“Ah ngapusi, ngendi ana sing gratis. Nang pasar pipis wae mbayar limangatus lho nduk, podo sangumu. Apa maneh sekolah,”
Aisy menunduk. Rasanya ia ingin menangis. Sakit sekali mendengar ibu terus menerus tidak menyetujui keinginannya. Bahkan saat usahanya berhasil, ibu masih berdiri dengan pikiran kolotnya.
Gadis itu akhirnya meneteskan air mata. Ia menunduk sesenggukan.
“Ora usah nangis, wes takdire dadi wong cilik,”
Untuk pertama kalinya Aisyah berlari kedalam rumah dan meninggalkan ibu yang bingung melihat sikap anak gadisnya.
“Sekolah kok gratis, orak mungkin, NGIMPI,”

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar