Ini (surat) Untuk Dia

Tak butuh waktu lama untukku mengenalmu dan akhirnya mengakui terpikat olehmu. Jatuh cinta. Sempat heran juga perasaan itu datang secepat...


Tak butuh waktu lama untukku mengenalmu dan akhirnya mengakui terpikat olehmu. Jatuh cinta. Sempat heran juga perasaan itu datang secepat kilat. Tapi kini setelah waktu itu lama berlalu, saat cinta itu tak lagi menyatukan aku dan kamu, aku tahu alasannya.
Wahai lelaki, bagaimana aku tak jatuh hati dan terpikat begitu erat pada pribadimu? Dirimu orang yang benar-benar mampu menghormatiku dengan sangat sempurna. Bila ada pepatah ‘tak ada yang sempurna didunia ini’, kurasa hanya dirimu yang nyaris mendekati kata sempurna itu. Hingga jauh kakiku melangkah, belum juga kutemui pelabuhan seindah dermagamu. Tempatku menyandarkan lelah setelah lama berlayar mencari pulau kecil yang ia sebut hati.
Sungguh semua yang kau miliki senantiasa bisa kucari pada pribadi yang lain, tapi tutur kata, sikap dan penghormatanmu, aku pesimis mampu menemukannya ditempat lain. Kalau saja kamu masih sendiri, kan kukumpulkan seluruh tenagaku untuk kembali melabuhkan rasa di dermagamu. Manismu rasanya begitu pas dengan seleraku. Ah kamu lelaki harapanku, andai kamu tahu hancurnya hatiku kala itu. Ups tapi aku harus sadar dan berbesar hati menerima  semua. Termasuk kebahagiaanmu yang ternyata tak kau temukan pada diriku.
Sebenarnya aku sendiri terlalu sakit mengucap kata-kata mutiara ini, “cinta tak harus memiliki” klise sekali kata-kata itu. Aku yakin orang yang pertama kali mengucapkannya pasti belum pernah merasakan cinta sehingga ia dengan mudahnya mampu berargumen demikian. Hei cintaku, aku ingin melepas rindu padamu. Tepatnya sebelum kamu resmi menjadi milik wanita itu. Detik ini aku sedang tak berselera menggunakan akal sehatku. Biarkan aku gila sejenak. Hitung-hitung ini akibat dari rasa lelah yang luar biasa. Karena aku belum juga mendapat pelabuhan yang setidaknya nyaris sama seperti pelabuhanmu. Aku lelah lelaki, aku lelah. Aku ingin memutar kapalku ini dan berbalik menujumu. Namun rasanya semua itu semu. Seperti semunya dirimu yang tak bisa kurengkuh lagi saat ini. Lelaki semoga kau baca sedikit kata dalam suratku ini. Aku sengaja menulisnya sebab aku tak bisa mengucapnya dihadapmu. Lelakiku, kusampaikan rasa kagumku padamu.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images