Galau Sosial

By Erny Kurniawati - 18.03.00


koleksi pribadi
Duduk termenung di depan rumah. Menikmati sepoi angin pagi membelai lembut permukaan kulit. Mencium harus segar rerumputan, dedaunan, dan embun yang menyatu. Damai. Beberapa orang berpakaian dinas berjalan pelan melewati pelataran rumah. Lengkap dengan caping dan baju yang lusuh, mereka bersiap mencari nafkah. Kantor dinas mereka, persawahan di depan kampung sana.

Mataku mengekor pada langkah kaki santai para buruh tani itu. Ini adalah pemandangan yang tak pernah berubah semenjak aku lahir dan tumbuh di sini delapan belas tahun silam. Suatu keadaan social yang bisa disebut stagnan. Para buruh tani berjalan santai menuju sawah tempat mereka mengadu nasib.

Pesatnya perkembangan jaman memang tidak banyak menyentuh kehidupan masyarakat di kampungku. Teknologi yang disebut-sebut era ini berkembang cepat juga tetap tidak banyak mengubah sendi-sendi kehidupan yang ada. Justru yang nyangkut malah dampak negatifnya berupa cultural shock atau gegar budaya. Yaitu suatu keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang belum memiliki kesiapan diri dalam menyambut budaya asing atau budaya luar yang masuk. Akibatnya terjadilah suatu kondisi dimana jiwa atau mental seseorang atau sekelompok orang tersbut terguncang. Semua itu karena mereka belum siap menerima unsure-unsur baru ada di masyarakat yang datang dengan tiba-tiba. Pada akhirnya semua itu mempengaruhi kehidupan social mereka. 

Kenakalan remaja misalnya. Di kota-kota besar kebiasaan mabuk-mabukan, perputaran narkoba, free sex seakan menjadi fenomena lazim yang menjadi sisi lain kehidupan metropolitan. Akan tetapi pada kenyataannya hal tersebut juga bisa terjadi di daerah pedesaan seperti di lingkungan tempat tinggalku. Fenomena hamil di luar nikah, mati karena miras oplosan, bahkan perputaran narkoba juga terjadi di sini. Suatu kesalahan besar ketika dulu saya sempat berpikir bahwa masyarakat desa masih polos, karena pada kenyataannya gempuran modernisasi negative justru sangat keras mempengaruhi kehidupan generasi muda yang tumbuh di pedesaan dengan minimnya jalur komunikasi informasi.

Minimnya informasi membuat mereka cenderung mudah kagum dengan hal-hal baru dan berakibat pada sikat imitative yaitu meniru sesuatu yang diperkenalkan oleh kaum urban dari kota. Buruknya, mereka cenderung tidak menyaring pengaruh tersebut tapi menelannya mentah-mentah dan akhirnya terjadilah kenakalan remaja ataupun kerusakan moral.

Pikiran yang polos memang baik, akan tetapi kepolosan seseorang apalagi yang masih dalam usia remaja sangat rentan terhadap pengaruh sekitarnya. Maka dari itu teknologi komunikasi sangat penting untuk masuk ke pelosok-pelosok negeri seperti di daerah saya. Tapi semua itu juga butuh untuk diawasi karena teknologi canggih itu juga memiliki dua sisi baik buruk yang erat seperti  dua sisi uang logam. Jadi bila hanya ada teknologi saja itu tidak cukup. Di butuhkan tenaga ahli yang mau membimbing dan mengajari yang baik dan yang buruk.

Kondisi inilah yang memancing nurani saya. Yang saya rasakan sekarang adalah serupa kegalauan social berkepanjangan. Dimana sejauh mata saya memandang saya menemukan banyak hal-hal yang tak terduga dan menampilkan potensi destruktif di masa mendatang. 

Realita social di kampong saya di pojok tenggara Kabupaten Magelang menggelitik pikiran. Di sini, di tempat yang bisa dibilang jauh dari pusat kota, sepi, damai, dan hijau. Dimana alam masih setia menjadi komoditas utama pemenuh nafkah, saya menemukan kenyataan bahwa teknologi dan informasi belum seimbang masuk ke daerah ini. Memang benar jaringan internet dan sinyal telepon seluler lancar di sini. Akan tetapi media cetak seperti buku bacaan, majalah, bahkan korang masih jarang ditemui. Setiap pagi saya duduk di beranda rumah berharap ada loper Koran bersepeda ria dan menawarkan dagangannya, tapi tak pernah terpenuhi impian saya itu.
Jadi yang menjadi penyebab galau utama saya adalah rendahnya minat baca masyarakat dan kurang terbukanya akses media di kampong ini. Sebab, meskipun hampir setiap rumah sudah memiliki televisi, namun saya yakin notabene masyarakat kampong ini lebih senang menyaksikan acara sinetron di banding berita. Lalu informasi yang ada di Koran juga biasanya lebih beragam, namun ketidak terjangkauan daerah membuat masyarakat seakan hidup seperti seekor katak dalam tempurung. Hidup dengan dunianya sendiri.

google.com
Saya merasa prihatin dan geregetan dengan diri saya sendiri. Ketika saya tinggal di rumah kos di Jogja sana dan mampu bersosialisasi dalam berbagai organisasi, saya merasa memilik arti. Akan tetapi di tanah kelahiran saya sendiri, saya seperti mati. Saya merasa tak patut disebut calon intelektual muda bila saya sendiri tak bisa bergerak berkonstribusi untuk memajukan daerah asal saya ini. Kampung Sabrangkali, Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. 

Rasanya tersiksa mendapati diri saya hanya berpangku tangan tanpa aksi pasti. Oleh karena itu melalui blog ini saya ingin berbagi dan memohon saran atau kritik dari pembaca khususnya agar mampu memberi aksi nyata dalam memajukan daerah tempat lahir dan tumbuh saya. Agar saya bisa berkonstribusi untuk tempat dimana hidup saya berawal.

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. silahkan melakukan hal positif untuk sabrangkali, salah satunya saran saya adalah: mari gerakkan lagi ayo mengaji setelah maghrib di mushalla, masjid atau dirumah ustad bagi anak-anak dan remaja putra dan putri yang semarak, seperti tahun 90-an. karena yang tidak mengaji malu sama teman tetapi sekarang yang tidak mengaji tak tahu malu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir di blog saya. Kebetulan sekarang saya sudah pindah dari kampung tersebut. Namun, meskipun pindah saya akan berusaha untuk menciptakan lingkungan seperti masa kecil saya di tempat yang baru. :) terima kasih sarannya

      Hapus
    2. maturnuwuun. Padahal lare2 mbrangkali itu perlu ada pencerahan dari orang2 yg visioner penuh ide-ide kreatif. saya juga pengin tapi sy jg sdh lama tak tinggal di sana. sungguh indah waktu kecilku di situ.

      Hapus