"Apa yang Mau Kamu Lakukan Setelah Lulus Nanti?"

By Erny Kurniawati - 07.58.00

Menjadi seorang mahasiswa, itulah titel yang melekat pada diriku saat ini. Bukan lagi siswa sekolahan yang belajar karena disuruh, bukan anak-anak yang masih selalu diatur ini dan itu, dan juga bukan anak yang layak bermanja lagi.

Kata Mahasiswa, di telinga memang terdengar biasa saja. Bisa dikatakan tak ada yang istimewa. Identik dengan kampus dan calon sarjana. Di tengah menikmati judul baru yang melekat pada diri, kegundahan akan hidup itu mulai merasuki jiwaku. 

Ini minggu kedua aku menjadi mahasiswa Komunikasi-UGM. Ini minggu-minggu pertama dan awal yang katanya adalah minggu yang sangat menentukan kita kedepannya nanti. Kenapa? Kata kakak-kakak senior sih minggu-minggu awal adalah minggu-minggu pondasi. Ya ini minggu dasar yang apabila aku serius dan bersemangat dari awal, maka selanjutnya akan lebih mudah jalan lulusnya. FYI, minggu-minggu awal pada semester pertama gini memang diisi oleh kuliah wajib yang penting banget untuk membantu kita melangkah selanjutnya, so ya wajar kalau pada masa awal ini aku harus bener-bener survive. Namun ternyata survive pada saat seperti ini bukan hal yang mudah. Di tengah adaptasi terhadap berbagai hal baru yang meliputi suasana kampus, cara belajar, teman, kakak tingkat, dan masih banyak lainnya, beberapa pertanyaan dosen yang sering diutarakan di kelas sedikit demi sedikit mengusik ketenangan diriku.

Kusebut ini semacam kegalauan akan hidup. Terlepas dari urusan hati, tapi ini soal bagaimana nanti aku menjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang dosen utarakan dan mampu mengusik kebahagiaanku karena bergabung menjadi keluarga besar Fisipol UGM itu antara lain adalah "Kalian mau apa di sini?" Pertanyaan yang retoris tapi aku justru bingung harus menjawab apa. Aku mau apa? Kuliah? Iya aku mau kuliah, tapi ada pertanyaan lagi yang selanjutnya. "Kalau mau kuliah, kenapa membaca aja malas?" *ting-tong* seperti pintu yang diketuk. Kenapa membaca aja malas? Kenapa? Pertanyaan itu semakin membuatku galau tingkat dewa. Melihat tumpukan buku di sudut kamar, buku tebal dengan bahasa inggris semua. Benar-benar harus bercumbu dengan kamus. Namun, ada dosen yang membuka pikiranku yang kebetulan sedang bebal. Bang Abrar, dosen pengantar ilmu komunikasi itu sering bilang, "tugas seorang mahasiswa itu mudah, hanya mau membaca, menulis, cari pengalaman, dan lulus cepat dengan nilai memuaskan. Pasti orang tua kalian akan sangat bangga." Pikiranku pun mulai bekerja memberi respon. Dalam hati terlibat percakapan kecil. Ini dia yang disebut komunikasi intrapersonal, komunikasi dengan diri sendiri. Hatiku membenarkan kata-kata Bang Abrar tersebut. Lalu tidak sampai di sini, pertanyaan masih terus mencecarku. "Apa yang mau kamu lakukan setelah lulus nanti?" Ini benar-benar pertanyaan yang bisa membuatku dalam sekejap jadi speechless. Dulu waktu SMP ditanya seperti itu jawabku cepat. Aku mau lanjut SMA. Saat SMA apalagi, tiap ditanya seperti itu aku bersemangat menceritakan harapanku yang ingin kuliah di kampus biru tempatku menuntut ilmu kini. Akan tetapi, pertanyaan itu sekarang bisa membuatku menjadi tak bisa berkata apa-apa. 

Berhari-hari aku terus terngiang akan salah satu pertanyaan dosen mengenai apa yang akan aku lakukan setelah bergelar sarjana komunikasi nanti. Aku seperti seorang nelayan gagu yang tak tahu arah mata angin dan tak mampu membuat prediksi. Aku tiba-tiba buta akan hidupku. Aku mau jadi apa? Aku mau kerja apa? Kalau aku bertukar pikiran dengan Dhimas, dia dengan mantap bercerita alasannya mengambil konsentrasi media dan jurnalisme karena akan jadi wartawan. Lalu aku? Ini memang masih awal, tapi kurasa aku harus segera tahu arah mana yang kutuju agar aku di ujung semester dua nanti tidak bingung memilih konsentrasi. Akan tetapi ternyata Alloh terlalu peduli denganku. Dia tidak membiarkanku terlalu lama menderita kebutaan akan masa depan. Perlahan tanganNya meraihku, membimbingku, dan membukakan jalan bagiku.

Dua hari yang lalu om-ku datang kerumah. Dia baru saja mengadakan pameran nasional seputar perumahan di Jakarta. Kebetulan bapak yang jadi sopirnya. Iya bapak tiriku seorang sopir, tapi tak masalah bagiku. Terus om-ku yang kebetulan adalah dirut salah satu perusahaan real estate di Jogja itu mulai berbincang dengan ibu. Aku sendiri tak terlalu menyimaknya karena aku hanya keluar membawa nampan berisi gelas dengan teh kemudian kembali masuk dan berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Baru pada keesokan harinya Ibu bercerita kepadaku. Inilah cerita yang kuanggap seperti pertolongan dari Alloh. PertolonganNya yang membuka mataku, menjadikanku berarah, dan tentunya lebih semangat menyambut hidup.

Entah prolog-nya bagaimana, aku lupa. Ibu bercerita padaku bahwa perusahaan om itu sekarang sudah berskala nasional. Beberapa daerah di Indonesia sudah mulai ditanganinya. Tender juga mulai mengalir dan intinya perusahaan ini berprospek kedepannya. Tiba pada saat ibu menceritakan inti dari semua cerita itu. Ibu menanyaiku soal pekerjaan. Its like a damn thing. Pada saat aku juga galau akan hal itu, ibu malah ikutan bertanya. Namun berbeda dengan dosen yang hanya bertanya saja. Ternyata di ujung pertanyaan itu ibu menambahi pertanyaannya, "kalau kamu kerja di perusahaan saudara kamu mau nggak?" Aku menoleh. Dari dulu aku ingin menentukan karirku sendiri. Aku tak ingin bekerja di perusahaan keluarga karena kebanyakan susah untuk berkembangnya. Nampaknya ibu mampu membaca air mukaku. Ibu lekas menambah pertanyaannya dengan pernyataan untuk menjawab keningku yang mengernyit tiba-tiba. "Om-mu sudah menawarimu. Dia bangga punya keponakan sepertimu. Dia ingin sekali kamu bergabung dengan perusahaannya setelah kamu selesai kuliah nanti. Ibu tahu kamu nggak ingin kerja di perusahaan keluarga, tapi om-mu sudah menjanjikan karirmu. Tugasmu sekarang adalah kuliah yang bener, pilih konsentrasi yang benar-benar jadi minat dan bakatmu, lalu pertanggung jawabkan pilihanmu itu. Om-mu sudah menyiapkan satu kursi untukmu bila kamu memang mampu terus membuat track record yang baik dan menanjak," aku cuma diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku mencerna setiap penjelasan dari ibu. Lalu ibu menambahkan lagi, "soal gaji kamu paling tidak akan digaji 6juta/bulan, bila kamu benar-benar memiliki kualitas seperti yang diharapkan, gaji itu juga bisa bertambah sesuai dedikasimu serta omset perusahaan." Khusus momen ini aku harus memunculkan raut muka terperanjat. Wow? aku baru kuliah dua minggu dan sudah dipesan untuk kerja dengan gaji yang lumayan besar juga, apalagi tugasku hanya belajar. Belajar seperti kata-kata Bang Abrar sebelumnya. 

Aku lantas bertanya sekali lagi dengan ibu, "tapi aku bisa menanjak karirnya? Aku bisa berkembang? Aku tak mau kerja bayar banyak, tapi aku kurang menguasainya. Sia-sia seperti nggak balance." Ibu lalu menjelaskan lagi panjang lebar yang intinya karirku bisa menanjak dan ibu juga berpesan padaku. Jika aku ingin seimbang yaitu gaji besar yang sesuai dengan kerja kerasku, maka mulai detik ini aku harus benar-benar fokus kuliah, belajar dengan baik, lulus cepat syukur bergelar cumlaude, dan aku harus terus semangat. Aku manggut-manggut. Ya benar juga semua yang Ibu sampaikan padaku.

Selanjutnya, ini adalah hasil komunikasi intrapersonalku. Meskipun tawaran itu gurih sekali, tapi aku tetap mempertimbangkannya. Berusaha melihat dari berbagai aspek. Ada positif dan negatif. Namun bukankah hidup memang seperti itu? Segala sesuatu memiliki dua sisi yang saling melekat erat yaitu baik dan buruk. Kupikir ini tawaran yang nggak main-main. Bukan KKN kan kalau aku dapat posisi bagus tapi aku udah usaha mulai saat ini? Ini juga menjawab pertanyaan yang sempat membuatku galau setengah mati. "Apa yang mau kamu lakukan setelah lulus nanti?" Mas Dosen, aku sudah punya jawabannya. Aku sudah punya tujuan. Aku sudah punya tanggung jawab. Aku sudah punya penyemangat. Sekarang, adalah waktuku untuk belajar layaknya yang dicontohkan Bang Abrar. Aku harus rajin untuk membuktikan bahwa tawaran itu bakal kujawab dengan setimpal beberapa tahun lagi, selepas skripsi.

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Wah, enak banget mb udah dapet tawaran 'selevel' itu. Aku masih galau masa depan nih ckc. Eh terus kalau ditanya mau jadi apa stlh lulus nanti, jawabanmu apa mb? Gabung di perusahaan saudara?

    BalasHapus
  2. hai bells :D iya alhamdulillah ya, nggak nyangka juga e, emhh kalo ditanya nggak bilang gitu donk, jawabku lain. aku pengen punya usaha dewe. ga selamanya aku mau jadi karyawan

    BalasHapus
  3. Oh, gitu. Tapi tetep enak bgt tuh mb, bisa jadi motivasi tersendiri kalo masa depanmu itu nantinya bakal gimana. Huhu andai aja aku ada saudara gitu ya. Pengeeen haha

    BalasHapus