Ketika Sinyal Membatasi Eksistensiku

Terhitung sejak nyaris dua bulan yang lalu, aku dan keluarga pindah rumah tinggal di sekitar Jogja. Konon, di sini lebih ramai daripada di...

Terhitung sejak nyaris dua bulan yang lalu, aku dan keluarga pindah rumah tinggal di sekitar Jogja. Konon, di sini lebih ramai daripada di rumahku yang dulu. Setelah sampai di pinggiran Jogja ini, iya sih daerahnya lebih rame. 

Di tengah keramaian yang ditandai dengan lalulalang sepeda motor dan mobil tiada henti, ada satu yang membuatku justru tersudut di tengah keramaian itu. Ya, di tempat ini rasanya sukmaku berada dalam belenggu. Tubuh bisa bergerak, tapi teori media baru yang katanya bisa membebaskan diri kita berselancar dalam dunia 'lain' meski berdiam diri di dalam rumah tak bisa aku rasakan.

Aku terpenjara di antara hirukpikuk lalulalang mereka si orang-orang sibuk. Aku diam bersama memudarnya eksistensi diri. Di tempat baru ini, sinyal internet tak bisa leluasa menggandengku, menjadi kendaraan yang senantiasa mengantarku kemana saja melalui ujung jari. Sinyal itu bermain petak umpet membuatku sering naik darah harus jadi anak warnet di tengah kehidupan serba cepat, serba praktis ini. Ah provider, dengerin dong sinyal-sinyal jangan disembunyikan. Eksistensiku nyaris pudar!!

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images