Madre, Cerpen (tidak) = Film

google Kamis 4 April lalu aku dapet kesempatan alias waktu luang dan traktiran nonton di cinema 21. Sayangnya jadwal filmnya lagi ngga...

google
Kamis 4 April lalu aku dapet kesempatan alias waktu luang dan traktiran nonton di cinema 21. Sayangnya jadwal filmnya lagi nggak begitu asyik. Beberapa film yang dijadwalkan tayang bener-bener nggak menarik minat untuk nonton.

Dari sekian banyak film yang dijadwalkan itu, aku tertarik pada dua judul. Yang pertama film action holliwood berjudul Gi Jo dan yang kedua film dalam negeri adaptasi novel best sellernya Dee yang berjudul Madre. Berhubung jiwa, raga, dan pikiran sedang males lihat film tembak-tembakan, lari-lari, dan darah, maka kami pun nonton film Madre.

Jujur sih aku sendiri nggak begitu suka dengan film-film dalam negeri. Bukan nggak cinta produk dalam negeri sih, tapi jarang aja ada yang bermutu. Biasanya banyak yang kaya FTV atau kayak bokep karena adegannya cuma mesum mulu. Namun ada juga sih film-film Indo yang kutonton berkali-kali dan aku selalu jatuh cinta dengan alur serta visualisasinya. Contohnya film Sang Penari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Film itu sukses memadukan unsur sejarah Indonesia (G-PKI), budaya (ronggeng), dan juga kisah cinta si Ronggeng itu sendiri. Selain film ini ada lagi film yang berjudul Wanita Berkalung Sorban. Aku suka karena film ini berhasil mengantarkan kritik posisi perempuan dalam islam yang seringkali disalah artikan sebagai bawahan atau pelayan suami saja. Lalu ada juga film yang baru diputar Desember lalu yaitu Habibie Ainun. Meskipun itu film roman banget, tapi ini film banyak pelajarannya terutama tentang kesabaran mengelola rumah tangga agar langgeng selalu. Berhubung lumayan banyak juga film Indo yang sesungguhnya bermutu, maka aku milih Madre ini dengan harapan ini film secantik cerpennya.

Jam dua kurang seperempat siang ini film diputar di studio 4 cinema 21. Aku yang duduk di dalam langsung diem memperhatikan scene demi scene dari film ini. Oh ya Madre ini mengisahkan perjalan hidup seorang pemuda yang tiba-tiba mendapat warisan sebuah kunci. Pemuda yang bernama Tansen tersebut jauh-jauh datang ke Bandung setelah dihubungi oleh seorang pengacara dari keluarga Tan. Pengacara inilah yang selanjutnya menyerahkan warisan dari mediang Tan kepada Tansen. Awalnya Tansen kaget karena warisan ini berasal dari orang yang sama sekali tidak pernah ia kenal dan bentuknya pun berbeda. Warisannya berbentuk kunci! iya kunci, tapi bukan kunci mobil apalagi rumah. Melainkan kunci kulkas yang di dalamnya ada adonan ajaib yang disebut Madre. Madre ini diperlakukan seperti manusia karena ia juga dipercaya hidup.Berawal dari warisan biang roti bernama Madre ini, hidup Tansen pun dalam seketika berubah drastis.

Madre mengambil lokasi shoot yang berlatar di kawasan Braga Bandung emang cukup sesuai dengan yang ada di cerpennya. Apalagi visualisai toko roti Tan de Bakker-nya. Pas banget kayak di pikiranku pas baca cerpennya. Tapi ada satu tokoh yang beda. Tokoh Pak Hadi seingetku dia bertubuh tidak gendut. Tapi dalam film ini diperankan oleh Om Didi Petet. Kalau soal improvisasi peran sih oke, cuma chasingnya beda dengan cerpennya. 

Film ini sebenarnya menarik jika ditinjau dari alurnya di cerpen Madre itu sendiri. Namun ternyata film ini memberikan lebih banyak kejutan. Kejutan-kejutan itu antara lain beberapa scene yang aku damba-dambakan nggak muncul. Contohnya pas Pak Hadi dan si Tansen jalan-jalan ke outlet milik Mei di mall. Tapi nggak cuma itu aja, scene Mei yang menyusul Tansen ke Bali. Scene ini nggak ada di cerpennya. Adalagi scene dimana Tansen dan Mei secara terang-terangan jatuh cinta. Ah ini scene paling tidak aku sukai karena gegara scene ini film Madre jadi nggak sebagus dengan cerpennya. Kejutan tidak berhenti disitu saja, ada lagi scene dimana Mei melakukan fitting baju pengantin dengan calon suaminya sambil meratap. Nah, perfect! Mulai dari sini film Madre semakin jelas tak ubahnya FTV.

Over all aku kecewa nonton film ini. Dua puluh lima ribu melayang dan nggak bagus gitu filmnya. Nggak bagus itu bukan berarti cerpennya jelek sebab pada kenyataannya film ini berbeda jauh dengan cerpennya. Namun bila ditelaah lebih jauh mungkin penyebab film ini kurang greget baik dari skenario maupun pengambilan gambarnya disebabkan oleh sistem eksekusi kebut. Ingat-ingat deh novel Dee dalam kurun waktu Agustus-April aja udah dirilis menjadi 4 film yang berbeda. Gimana nggak kebut tuh? Apalagi karakter tulisan Dee itu emang khas banget, enak buat dibaca, tapi susah untuk divisualisasiin.

Jadi itu aja cerita yang bisa aku bagikan. Gimana kalau pendapat kalian? :D

You Might Also Like

2 komentar

  1. mungkin filmnya adaptasi dari novel, bukan based on (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyapp karena bukan based on tanda tanya wkwk :D

      Hapus

Flickr Images