Satu Hari Tiga Cerita

Liburan memang selalu menarik dan menyenangkan. Itulah yang dimaknai oleh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ket...


Liburan memang selalu menarik dan menyenangkan. Itulah yang dimaknai oleh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ketika mendapat kesempatan untuk kunjungan media ke Solo. Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2013 ini merupakan agenda tahunan dari jurusan Ilmu Komunikasi UGM pada mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media. Kunjungan kali ini memiliki tiga destinasi yang sangat erat kaitannya dengan perkembangan media di Indonesia. Tiga tempat tersebut dua di antaranya wajib dikunjungi dan yang ketiga adalah optional. Dua tempat yang wajib tersebut antara lain studio rekaman Lokananta dan Monumen Pers Nasional. Lalu satu tempat yang jadi penutup perjalanan kunjungan ini adalah Festival Film Solo yang diselenggarakan di gedung teater ISI Surakarta. 
kota Solo dari rooftop Monumen Pers Nasional

Industri dan Studio Rekaman Lokananta
Banyak cerita manakala mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2012 memasuki studio rekaman tertua milik pemerintah Indonesia ini. Lokananta merupakan studio rekaman yang pertama kali berdiri di Indonesia. Sejarah mencatat studio ini berdiri pada tahun 1956. Tidak sekedar studio rekaman tertua, studio ini juga memiliki peran penting lahirnya banyak penyanyi kondang dan legendaris di Indonesia. Sebut saja Waljinah dan Gesang, penyanyi lagu tradisional ini merupakan penyanyi legendaris di Indonesia yang pernah melakukan rekaman di Lokananta.
Selain melahirkan penyanyi kondang dan legendaris, Lokananta memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya sejak berdiri hingga saat ini. Lokananta yang berasal dari nama separangkat gamelan yang mampu menghasilkan suara sendiri tanpa ditabuh telah mengalami masa-masa keemasan dan juga kemunduran. Masa keemasan Lokananta berlangsung pada era awal berdirinya hingga tahun delapan puluhan. Kemudian memasuki era sembilan puluhan, Lokananta mulai memasuki masa kemunduran. Masa kemunduran ini datang seiring dengan semakin tingginya angka pembajakan pada saat itu. “Saya pernah membaca sebuah berita yang menyatakan bahwa telah ditemukan pembajakan karya hasil Lokananta sebanyak 629,” tutur Pendi Haryadi yang saat ini menjabat sebagai kepala Lokananta. Selain tingginya kasus pembajakan, era sembilan puluhan ini lebih dari tujuh puluh label rekaman di Indonesia lahir dan berkembang.
Kemudian karena Lokananta merupakan industri rekaman milik negara, maka ketika gonjang ganjing politik menimpa Indonesia pada tahun 1998 industri rekaman ini pun terkena imbasnya.  Lokananta pada masa orde baru berada dibawah kementrian penerangan, tetapi karena orde baru tumbang kementrian tersebut dihapus. Mulai dari titik inilah status Lokananta mulai terombang-ambing. Selama tiga tahun lamanya dari tahun 1998 sampai dengan 2001, Lokananta masih terkatung-katung nasibnya. Bukan hanya itu, beberapa pegawai Lokananta yang sudah berstatus PNS pun memilih mengajukan pensiun dini sehingga Lokananta kian kekurangan SDM. Pada tahun 2001 itulah Lokananta dinyatakan pailid dan resmi dibubarkan. Kemudian pada tahun 2004 kewenangan Lokananta berganti dipegang oleh Perum Percetakan Negara Republik Indonesia atau Perum PNRI. Sejak tahun 2004 hingga saat ini Lokananta masih terus berusaha hidup meskipun dengan karyawan yang sangat minim yaitu sembilan belas orang dan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan bahkan kurang.
Di balik kemundurannya, Lokananta pernah memiliki sejarah yang manis terutama dalam hal mengembangkan kebudayaan Indonesia. Bukti dari cerita manis Lokananta pada masa lalu adalah koleksi Lokananta yang paling lengkap. Arsip kebudayaan yang lengkap berupa kaset dan piringan hitam ada di studio rekaman yang terletak di Solo, Jawa Tengah ini. Oleh karena itu Lokananta bisa disebut sebagai pusat kebudayaan Nusantara karena kelengkapan arsipnya. Selain itu Lokananta yang merupakan mayor label pertama di Indonesia yang juga anggota pertama ASIRI atau Asosiasi Industri Rekaman Indonesia. 
piringan hitam
piringan hitam

re-mastering room dan alatnya

Lokananta memang sudah cukup tua. Sudah setengah abad lebih studio dan industri rekaman pertama di Indonesia ini berdiri. Pahit manis kehidupan telah ia rasakan, namun sayangnya pemerintah belum juga menaruh perhatian yang pantas untuk Lokananta. Meski pun saat ini masih dalam masa sulit, tetapi Lokananta sangat beruntung memiliki sembilan belas pegawai yang loyal dan kini respon masyarakat terhadapnya kian tinggi. Hal ini terbukti dengan datangnya beberapa penyanyi atau band-band indie untuk berekaman di studio ini. Sebut saja Glen Fredly, penyanyi bersuara khas ini juga baru saja melakukan rekaman full di studio milik Lokananta. Bukan hanya itu, media pun kini mulai menggeliat memberitakan Lokananta. Ini merupakan titik terang yang oleh karyawan Lokananta digadang-gadang mampu membangunkan eksistensi Lokananta seperti pada masa keemasannya dahulu kala.
Monumen Pers Nasional
Perkembangan pers di Indonesia mengalami fase pasang surut. Mulai dari masa sebelum proklamasi, pascaproklamasi, orde baru, reformasi, dan pascareformasi. Perkembangan pers inilah yang berhasil direkam oleh Monumen Pers Nasional yang bertempat di Jalan Gajah Mada Surakarta.
Gedung yang digunakan sebagai monumen pers ini pada awalnya merupakan gedung societeit milik kerabat Mangkunegaran yang bernama gedung  “Sasana Soeka”. Gedung ini turut andil dalam perkembangan pers di Indonesia. Gedung yang bergaya khas ini merupakan saksi bisu berdirinya dari lahirnya stasiun radio baru yang bernama Soloche Radio Vereeniging (SRV) pada tahun 1933. Di gedung inilah RM. Ir. Sarsito Mangunkusumo menjadi pimpinan rapat yang selanjutnya melahirkan SRV. SRV sendiri merupakan stasiun radio pribumi dengan semangat kebangsaan yang pertama kali di Indonesia. Kemudian gedung ini juga menjadi saksi lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI pada 9 Februari 1946. Selanjutnya, pada tanggal yang sama itulah Hari Pers Nasional diperingati. Lalu sepuluh tahun kemudian yaitu pada tahun 1956, gedung ini pun resmi digunakan sebagai Yayasan Museum Pers Nasional.
Yayasan Museum Pers Nasional ini didirikan atas ide yang dicetuskan oleh B.M. Diah, S. Tahsin, Rosihan Anwar, dan lain-lain. Nama Yayasan Museum Pers Nasional pun berubah seiring dengan munculnya niat mendirikan Museum Pers Nasional pada kongres Palembang tahun 1970. Kemudian pada peringatan dua puluh lima tahun PWI, Budiarjo yang merupakan Menteri Penerangan menyatakan pendirian Museum Pers Nasional. Nama Museum Pers Nasional mengalami pergantian lagi pada tahun 1973 dan menjadi Monumen Pers Nasional. Atas usul PWI cabang Surakarta.
Kini setelah lebih dari setengah abad berdiri, Monumen Pers Nasional menyimpan banyak sekali arsip negara yang berupa surat kabar dari zaman sebelum proklamasi hingga surat kabar saat ini. Koleksi surat kabar di sini sangat lengkap dan ditata di dalam ruangan yang cukup rapi. Mereka dikategorikan sesuai jenisnya seperti surat kabar dan majalah dan disesuaikan dengan periode terbitnya. Selain itu pengelola juga menyimpan arsip tersebut secara berurutan, yaitu surat kabar yang terbit dengan tahun paling tua diletakkan di lantai gedung paling atas dan semakin ke bawah maka semakin muda tahun terbit surat kabar tersebut. 

arsip koran Suara Harapan
 
Arsip majalah Team
Monumen Pers Nasional tidak hanya menyimpan arsip berupa teks majalah maupun surat kabar, tetapi juga menyimpan alat-alat percetakan kuno yang digunakan sebagai sarana pembuatan surat kabar. Alat-alat tersebut antara lain ada mesin ketik, kamera tua, alat cetak, dan lain sebagainya. Lalu ada juga atribut-atribut kewartawanan yang disimpan di monumen ini.

mesin ketik tua
Untuk mendukung pemahaman pengunjung terhadap sejarah pers di Indonesia, di monumen ini juga terdapat replika atau diorama perkembangan pers di Indonesia. Bukan itu saja, ribuan judul buku terutama yang menitik beratkan pada bidang pers dan jurnalisme ada di perpustakaan monumen ini. Oleh karena itu Monumen Pers Nasional menjadi tempat yang wajib diketahui oleh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi karena sumber bacaan yang menunjang perkuliahan sangat lengkap di tempat ini.
Festival Film Solo
Setelah berkunjung di dua tempat yang cukup melegenda dalam segi perkembangan media, kini tiba saatnya mengendorkan otot-otot dengan menyaksikan film di Teater Besar ISI Surakarta. Tanggal 2 Mei 2013 ini seperti pada bulan Mei pada tahun sebelumnya di tempat inilah dilaksanakan perhelatan akbar insan film Solo yang bertajuk Festival Film Solo. Festival Film Solo merupakan acara tahunan yang memfokuskan pada film-film pendek dan fiksi di Indonesia yang diselenggarakan dalam bentuk kompetisi maupun diskusi.
Seperti suasana screening film pada umumnya, suasana pemutaran film di Teater Besar ISI Surakarta ini pun menarik minat mereka yang memang gemar menyaksikan film-film pendek. Melalui ajang nonton bersama seperti inilah mahasiswa Ilmu Komunikasi semakin paham mengenai sinematografi dan tentunya mendapat hiburan dari tayangan film pendek yang memiliki latar ide yang unik. Selain menjadi acara yang cukup menarik, FFS ini juga merupakan ruang temu, keakraban, dan ruang yang terbuka untuk siapa saja. Oleh karena itu dalam pemutaran film acara ini tidak memungut biaya masuk atau gratis sehingga siapa saja bisa bergabung untuk menyaksikan karya dari para sineas muda khususnya di Solo.  

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images