Sedih

Jadi kisah ini berawal dari tadi siang selepas ujian pertama yang kebetulan cuma ngumpulin take home. Sepulang kuliah seperti biasa aku pe...

Jadi kisah ini berawal dari tadi siang selepas ujian pertama yang kebetulan cuma ngumpulin take home. Sepulang kuliah seperti biasa aku pergi ke gerobak gorengan di depan teknik UNY. Ada penjual goreng langgananku. Sayangnya, udah empat-tiga harian ini tutup, jadi siang tadi harap-harap cemas semoga buka karena ya gorengan paling masuk akal harga dan kuantitasnya menurutku punya si Ibu ini. Syukur alhamdulillahnya buka. Seneng deh, markir motor sambil senyum-senyum sok manis. Sambil mendekat milih itu gorengan yang mau dibungkus dibawa pulang si ibuk ngomong deh kalau gorengannya sekarang naik harganya, eh enggak, kata ibuknya sih ganti harga -_________-.

Deg. Jantung anak kos satu ini langsung kaget. "Sekarang Rp 2000,- dapet 3 mbak. Yah apa-apa mahal gara-gara bensin naik. Maaf ya mbak," kata Ibu penjual gorengan. Aku sih percaya kalau soal semua harga naik, termasuk terigu yang jadi bahan pokok dari gorengan ini. Mau gimana lagi akhirnya aku pun menjawab dengan kalimat penuh maklum, walaupun dalam hati mengeluh. 

Kemarin pas demo BBM marak terjadi dimana-mana termasuk kampusku, aku sih emang nggak tergerak buat ikutan demo. Bukan masalah nggak mau turun ke jalan, tapi menurutku nggak semua demo bisa buat ngubah keputusan besar. Bukan pula karena aku mahasiswa nggak pro rakyat, tapi miris aja kalau demo panas-panas yang ada bukan lagi menyalurkan aspirasi rakyat tapi emosi karena panas jiwa raga tadi. Namun kalau soal setuju enggaknya BBM naik, sungguh aku nggak bisa komentar banyak. Aku anak fisipol yang tahunya dikit-dikit soal politik, kalau faktor ekonomi belum pengen dikatain sok pinter. Jadi naik atau enggak entahlah aku nggak mau mikir, takut stres dan tipes lagi. 

Mau BBM naik apa enggak sebenarnya ya terserah aja. Asalkan harga gorengan jangan naik. Pasalnya, kalau sebelum BBM naik aku punya uang Rp 6500,- cukup buat beli bensin seliter dan gorengan empat, sekarang uang segitu dapetnya cuma bensin doang. Buat beli gorengan dua ribu perak harus nambah alokasi dana, belum lagi sekarang dapetnya cuma tiga aja. Makin sedih deh aku.

Lalu faktor pembuat sedih lainnya adalah soal uang saku. Nah, ini dia yang membuat aku on fire buat cepetan lulus, biar punya duit sendiri nggak minta ortu. Uang saku nggak nambah, tapi semua makin mahal. Rasanya pengen nangis, apalagi sebagai cewek kebutuhan buat bikin kulit lembab aja macem-macem. Belum lagi fotokopi ini itu, print, dll. Tambah sedih lagi. Rasanya aku merasakan gimana menjadi rakyat yang terjepit kondisi keuangannya. Mau jajan es teh aja aku mikir berkali-kali. Gimana nggak mikir, sebagai anak kos uang sakuku tetap dengan nominal yang sama tapi harga-harga makanan melambung. Buat makan aja susah, Semoga aja gorengan ditempat lain ada yang harganya nggak naik dan kuantitasnya oke, biar setidaknya saya tak sesedih ini.

You Might Also Like

1 komentar

  1. tapi kan bisnisnya tetap lancar kan? apalagi menjelang puasa dan lebaran, semoga kerudungnya banyak lakunya.

    BalasHapus

Flickr Images