Sahabat Sejati

By Erny Kurniawati - 11.50.00

google.com garden weeding
Mereka bilang, laki-laki dan perempuan susah untuk bersahabat. Memang banyak, tetapi jarang yang sejati. Mereka bilang, laki-laki dan perempuan bersahabat itu rawan kena sasaran tembakan dewi amor. Jadi sahabat sejati antara laki-laki dan perempuan ada atau tidak?

Aku menatap lurus pada arloji berbentuk bulat yang menempel di dinding. Denting suara jarumnya mengalun bak soundtrack film yang menambah hati penonton deg-deg an. Sebentar lagi, masa lajang yang kusandang akan gugur karena perjanjian maha agung yang beberapa menit lagi bakal digelar oleh penghulu, ayahku, dan dia, lelaki yang selama ini selalu kusebut sahabat.

Hari ini adalah pembuktian. Bahwa persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan itu benar adanya. Persahabatan yang tidak biasa. Yang berlandaskan tali kasih dan cinta di antara keduanya. Aku tersenyum sendiri memandang pantulan wajahku di cermin. Adat keluargaku, pengantin perempuan dilarang keluar sebelum ijab qabul usai. Oleh karena itu aku masih di kamar ini menunggu aba-aba untuk keluar selepas perjanjian suci itu berakhir.

"Aduh yang lagi deg-deg an mau jadi nyonya baru, seneng banget ya sampai senyum-senyum gitu?" Celetuk Karisa sepupuku.

Aku menoleh dan hanya melempar senyum. Aku sendiri tidak tahu betul seperti apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya seperti permen nano-nano yang jadi permen favoritku dimasa kecil dulu. Banyak rasanya. Namun yang jelas, kali ini aku memang sedang berbahagia dengan kadar yang lebih dari bahagia aja ataupun bahagia banget.

Pintu kamar berderit seperti biasa, tanda ada yang membukanya. Perlahan, ibuku masuk dengan senyum haru yang membuatku semakin tak tahu perasaan apa yang tengah menyelimutiku. Tanpa kata, ibu meraih tanganku. Menarikku perlahan agar berdiri. Sebelumnya, kecupan lembut mendarat di dahiku. 

"Selamat, ya cah ayu,"

Lagi-lagi aku tidak bersuara kecuali tersenyum semanis mungkin. 

Dengan langkah yang sangat pelan aku menuruni tangga menuju ruang tamu tempat akad nikah yang baru saja usai. Wajah lelaki itu tampak lebih berseri berkali-kali lipat. Pancaran bahagia dan kelegaan sekaligus ketegangan campur aduk membuatku geli bercampur bahagia. Senyumnya mengembang menyambutku dengan uluran tangan yang selanjutnya kucium dengan penuh perasaan. Detik ini kita sudah resmi mengikrarkan persahabatan sejati sehidup semati.

***

Sahabat sejati adalah dia yang menemani hidup kita. Entah disaat suka maupun duka. Selalu terbuka dengan segala sesuatu yang tengah dialaminya. Entah konyol, memalukan, menyakitkan, menyenangkan. Dua orang yang bersahabat akan selalu berbagi sekalipun untuk hal-hal yang menurut orang lain kurang penting. Yang terpenting, selalu mengasihi dengan tulus dan mencintai dengan penuh.


NB: cerita ini hanya fiktif belaka.

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kirain kisah sejati yang memang sedang dialami, tuas wis arep ngucapke selamat, "mugo-mugo we yo nduuk"

    BalasHapus
    Balasan
    1. AMin ya pak, semoga nanti nemu sahabat sejati yang selalu nemenin saya seterusnya ya pak #tsaaaah hehe.

      Hapus