Love Quote from When Harry Met Sally

By Erny Kurniawati - 23.24.00



When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible - When Harry Met Sally

Tadi ketika blogwalking, tidak sengaja saya menemukan quote tersebut di www.vemale.com/inspiring/quotes/. Saya sendiri tidak sadar kenapa saya bisa membuka laman berisi quote tersebut. Kemudian saya menemukan quote yang secara refleks membuat hati saya berteriak, "aku banget nih!".

Quote yang diambil dari penggalan percakapan dalam film romantic comedy When Harry Met Sally berbunyi "When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible,". Quote tersebut saya rasa akan diamini kebenarannya oleh mereka yang sudah mantap dengan kekasih hati pilihannya. Kurang lebih quote tersebut berarti ketika kamu menyadari ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang, kamu tidak akan sabar memulainya sesegera mungkin. 

Jujur saja, saya belum menonton film ini hanya saja judul film ini sudah cukup populer dan saat mencari review atas film ini ternyata sangat banyak, serta mayoritas memuji jalan ceritanya yang cukup bagus. Berdasarkan dari beberapa review yang saya baca, film ini menyoroti tentang pertemuan dan juga perbedaan yang selanjutnya melebur menyatu dalam ikatan perkawinan sebagai endingnya. Saya tidak akan mengulas tentang sinopsis film ini, tetapi saya hanya akan mengkolaborasikan quote yang saya sebut sebelumnya dengan kehidupan asmara orang-orang di sekitar saya dan juga saya pribadi. 

Saya sering bertanya-tanya ketika di sekitar saya ada yang dengan mantapnya mengubah status lajang menjadi kawin di KTP-nya. Padahal dari segi usia masih relatif muda bahkan baru saja lulus kuliah atau malah masih kuliah. Sama halnya dengan pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada ibu yang dulu diusia ke dua puluhnya sudah mantap untuk memutuskan hidup bersama ayah saya dalam ikatan suci perkawinan. Namun ternyata quote tersebut menjadi jawaban yang tepat. Karena telah menyadari apa keinginan hati yaitu untuk menghabiskan sisa hidup bersama. 

Banyak orang di sekitar saya yang menjudge saya ini married oriented alias kebelet nikah. Sah-sah saja asumsi tersebut, walaupun jujur saja saya tidak sedemikian itu ngebetnya. Ya pengen, tapi ya nanti ketika segala sesuatunya sudah siap (mental yang terpenting dan finansial selanjutnya). Saya yakin apa yang ada dipikiran saya kurang lebih sama seperti apa yang orang lain pikirkan. Yaitu ingin berdampingan menghabiskan hidup bersama orang tersayang sesegera mungkin. Bagi yang meledek soal pemikiran ini menurut saya ada dua macam. Macam pertama, sekedar guyon (meskipun ini sama sekali tidak lucu) dan yang kedua karena mereka (yang meledek) belum benar-benar bertemu dengan seseorang yang membuat hidup mereka menjadi benar-benar berwarna dan semakin berwarna ketika menjalani bersama. Atau secara lugasnya belum merasa benar-benar cinta, cocok, dan yakin dengan seseorang. 

Beberapa hal lain yang membuat seseorang ingin segera memulai menghabiskan sisa hidupnya dengan kekasih hati adalah karena mendambakan hubungan tanpa jarak. Saya sering melihat keletihan terpancar dari wajah-wajah para aktor dalam hubungan jarak jauh. Meski pernikahan tidak melulu membuat mereka menjadi seatap (faktanya banyak juga yang LDM), tetapi setidaknya pernikahan menjadi satu-satunya tali yang kuat untuk mendekatkan mereka secara lebih dari sebelumnya.

Kemudian karena alasan masalalu. Hal ini yang terjadi pada diri saya pribadi. Karena masalalu lah saya mendambakan pernikahan yang kata banyak teman, saya ini terlalu ingin melalukannya secepat mungkin. Padahal seperti saya sebutkan tadi, tidak sengebet itu juga keinginan saya. Justru keinginan saya dalam pernikahan adalah untuk mewujudkan keluarga harmonis yang tidak saya dapatkan di rumah selama ini. Rasanya suatu kesalahan apabila saya menyalahkan rumah tangga orang tua saya yang berakhir di tengah jalan. Jalan satu-satunya untuk mendapat keluarga harmonis pun kemungkinan hanya saya dapatkan kalau suatu hari nanti saya menikah.

Terlebih lagi, orang-orang yang mengalami perjuangan melawan jarak semacam LDR dan juga ketidak harmonisan rumah tangga orang tuanya biasanya sudah cukup banyak merasakan makna dari berharganya kebersamaan dan makna dari menyakitkannya perpisahan. Oleh karena itu, menyatu, menghabiskan sisa hidup bersama seseorang akan menjadi hal yang diyakini mampu mengikis perasaan takut atau trauma akan perpisahan yang pernah dirasakan.

Ketika kamu menyadari ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang, kamu tidak akan sabar memulainya sesegera mungkin.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar