Mencari Cita-Cita

Waktu kecil setiap ditanya cita-citanya apa aku selalu menjawab "dokter". Cita-cita yang menurutku mainstream dan populer di kal...

Waktu kecil setiap ditanya cita-citanya apa aku selalu menjawab "dokter". Cita-cita yang menurutku mainstream dan populer di kalangan anak-anak. Cita-cita itu terus kepegang menjadi satu-satunya cita hingga aku mengenal Bahasa Inggris secara mendalam di kelas 4 SD. Kala itu aku masuk les Bahasa Inggris dan disana aku menemukan hal baru yang menyenangkan, belajar bahasa. Sejak saat itu cita-cita jadi dokter mulai dapat saingan dengan cita-cita ingin kuliah di jurusan sastra Inggris meski nggak tahu mau kerja jadi apa. 

Aku terus mengikuti cita-cita masa kecilku itu dengan semangat yang terus terjaga. Aku selalu membayangkan bagaimana menyenangkannya dapat berprofesi seperti dalam anganku. Kemudian duduk di bangku SMP, cita-cita jadi dokter itu perlahan kandas. Semua gara-gara ketemu fisika dan sejak pandangan pertama aku sudah nggak bisa klop dengannya. Entah mengapa, walau aku belajar jungkir balik tapi yang ada aku tetep nggak paham soal fisika. Parahnya lagi aku nggak nemuin apa esensi dasar yang membuatnya penting untuk aku pelajari. Iya, untuk aku pelajari. Sejenis anggapan subjektif ala aku sendiri. Terhitung mulai pertengahan tingkat satu SMP, cita-cita jadi dokter itu benar-benar kandas tak tersisa.

Sejak kandasnya cita-cita jadi dokter itu perlahan aku mulai menemukan titik spesifik cita-citaku pada kemudian hari yaitu kuliah di jurusan Hubungan Internasional dengan harapan bisa jadi duta besar untuk negara. Cita-cita ini juga terjaga cukup lama hingga aku lulus SMP dan masuk SMA. Memiliki cita-cita yang jelas sejak awal itu memudahkan jalanku untuk menentukan mau masuk jurusan apa pada tingkat dua SMA. Sesuai passionku, aku mantab memilih ilmu sosial daripada sains  meskipun beberapa pihak seperti wali kelasku mencibir pilihanku. 

Lalu pada kelas dua SMA aku mengenal akuntansi. Mata pelajar yang diwarnai dengan angka ini merupakan salah satu mata pelajar favoritku. Baru kali ini nilaiku cukup bagus untuk mata pelajaran yang mengutamakan berhitung. Oleh sebab itu pada saat itu cita-cita kuliah di jurusan HI tersaingi dengan kuliah di bidang akuntansi. Cita-citaku pengen jadi akunting perusahaan besar.

Namun tanpa aku sadari sejak kelas satu SMA aku sudah dekat secara praktis dengan satu bidang yaitu jurnalisme. Kala itu memang baru jurnalisme pelajar yang menurutku belum ada tekanan tentang idealisme dalam menjalankan tugas-tugas liputan. Karena itulah pada akhir kelas dua akhirnya aku sadar bahwa cita-cita yang berganti-ganti itu pada akhirnya harus berganti lagi karena suatu passion yang baru aku sadari. Dunia komunikasi. Dunia tentang cara berinteraksi, tentang menyajikan fakta kepada khalayak, dan tentang banyak hal yang ternyata tidak kusadari masuk di ranah ilmu yang kini sedang aku tekuni.

Setahun lebih mendalami ilmu komunikasi menyisakan satu pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya aku cita-citakan kini. Bukankah untuk sekedar bisa kuliah di jurusan komunikasi sudah terpenuhi? Lalu apalagi yang ingin aku capai selepas wisuda nanti? Nampaknya pertanyaan yang dilayangkan oleh otakku itu mengharuskan aku melalui kurang lebih setahun kembali membongkar diri dan berusaha mengenalinya satu-satu. Dari keseluruhan hal yang menyusun diri ini, sesungguhnya apa yang menjadi inti ingin kuraih nanti?

Selama setahun kuliah di ilmu komunikasi aku hanya sebatas menjalani perkuliahan tanpa tahu cita-cita apa yang ingin aku realisasikan selepas masa ini. Satu hal yang kupegang teguh, aku hanya harus teru serius kuliah meskipun cita-citaku belum jelas. Kemudian beberapa bulan terakhir ini aku semakin kiat mencari passion yang sesungguhnya sudah dianugerahkan Tuhan dalam diri ini. Tak lain untuk menemukan cita-citaku yang sejati.

Mencari cita-cita tidak sesimpel memutuskan saat ini mau makan apa. Semua ada konsekuensi dan sayangnya kita sudah bukan bocah lagi yang bisa sesuka hati bilang ingin jadi masinis, tapi dua menit kemudian berganti ingin menjadi pemain sirkus. Bukan. Kita sudah cukup dewasa untuk memilah cita-cita apa yang mau kita wujudkan nanti dan finally aku mulai mendapat pencerahan dalam kegiatan mencari ini. By the way, gimana dengan reader? Sudah punya cita-cita jelaskah?


You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images