Banyak Ngomong Vs Banyak Mendengar

Pernah nggak ketemu orang yang banyak ngomong sampai-sampai kita tidak diberi kesempatan untuk berbicara menanggapinya?  Atau pernah ngg...

Pernah nggak ketemu orang yang banyak ngomong sampai-sampai kita tidak diberi kesempatan untuk berbicara menanggapinya? 
Atau pernah nggak ketemu orang yang pendiem banget sampai-sampai kita terus yang harus ngajak ngomong?
Nah, kali ini saya mau berbagi obrolan seputar banyak ngomong vs banyak mendengar. Kira-kira mana yang lebih baik?

Banyak ngomong dan banyak mendengar bisa disebabkan oleh berbagai hal. Bisa jadi seseorang yang banyak ngomong memang memiliki sifat cerewet. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa tindakan banyak ngomong tersebut dilakukan karena lawan bicaranya pasif atau pendiam sehingga kalau sama-sama diam otomatis tidak ada interaksi lebih lanjut. 

Sama halnya dengan banyak ngomong, banyak mendengar pun bisa disebabkan oleh berbagai hal. Pertama, lawan bicara kita memang orang yang pandai mendengarkan dan ingin memahami maksud cerita yang kita kemukakan. Kedua, melalui mendengar seseorang lebih bisa banyak belajar dan masih ada alasan lainnya.

Selain memiliki alasan yang melatar belakangi sifat banyak omong dan banyak mendengar, keduanya juga memiliki sisi baik dan buruknya. Tulisan saya kali ini akan lebih fokus membahas tentang sisi kurang dan lebihnya dua sifat saling bertolak belakang tersebut.

Banyak Omong

Banyak omong tidak selalu buruk. Pun dengan banyak mendengar yang juga tidak selalu baik. Orang yang banyak omong biasanya memang memiliki kepercayaan diri yang baik. Asumsi saya ini berdasarkan pada pengamatan yang saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang banyak ngomong biasanya orang yang pandai mengemukakan apa yang dia pikirkan. Pada beberapa aspek kehidupan, sifat semacam ini sangat berguna. Terlebih bagi mereka yang bekerja pada ranah sosial, kreatif, marketing , dan lainnya yang menuntut mereka harus cerdas mengemukakan ide. Tentu kita setuju bila menganggap orang yang banyak omong itu kebanyakan adalah orang yang pandai mengemukakan gagasannya.

Sayangnya, tidak semua yang diomongkan oleh orang-orang yang banyak ngomong tersebut berisi hal-hal yang berbobot. Memang banyak ngomong itu baik bila omongannya mengandung ide, gagasan, dan bukan berisi kesombongan. Saya sering menemui orang-orang yang banyak ngomong, tetapi isi omongannya tidak bermutu. Misalnya ngomongin hal-hal yang melulu tentang dirinya tanpa peduli dengan lawan bicara. Maksudnya adalah dia ngomong terus tanpa memberikan waktu untuk temannya menanggapi atau sama-sama ngomong. Tentu saja hal tersebut lain dengan curhat karena banyak ngomong yang saya maksud di sini adalah pertama ketemu langsung nyerocos dari cerita A-Z.  Kalau situasi sudah semacam itu, bisa dipastikan lawan bicaranya akan merasa jenuh. Terlebih lagi bisa si banyak ngomong tersebut omongannya berisi keunggulan-keunggulan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, selama ini saya cenderung melihat lebih banyak sisi buruk daripada sisi baik dari sifat banyak ngomong. Hal tersebut karena kebanyakan mereka yang banyak ngomong tersebut biasanya isi omongannya berfokus pada dirinya sendiri. Selain itu, mereka juga sering tidak peka dengan lawan bicaranya yang tampak bosan, jenuh, dan bahkan jengkel sehingga cerita apapun dari si banyak ngomong justru tidak membekas di benak si pendengar.

Banyak Mendengar

Berbeda dengan banyak ngomong, menjadi orang yang banyak mendengar itu lebih sulit. Mendengar tidak sebatas diam ketika lawan bicara kita bersuara. Namun, mendengar bagi saya adalah berhasil mengambil pesan dari apa yang diutarakan oleh lawan bicara kita dan di situlah letak sulitnya. Jika mendengar hanya sebatas diam, tentu hal itu tidak terlalu sulit.

Meskipun banyak mendengar itu lebih sulit, tetapi banyak mendengar menurut saya jauh lebih baik. Banyak mendengar berarti kita mendapat banyak informasi. Banyak informasi tersebut yang selanjutnya bisa kita seleksi dan kita olah untuk diambil pesan dan atau pelajarannya.

Sekalipun banyak mendengar itu baik, namun alangkah baiknya seorang pendengar juga bisa mengemukakan ide, gagasan, dan pendapatnya secara baik. Bukan berarti banyak mendengar sama dengan banyak diam. Banyak mendengar menurut saya tidak harus selalu diam karena bila banyak mendengar diartikan diam, maka orang yang banyak mendengar akan stres memendam pemikirannya sendiri.

Lalu Bagaimana Sebaiknya?

Masih ingat lagu dangdut yang dibawakan Vetti Vera? Liriknya berbunyi sebagai berikut "yang sedang-sedang saja." Lirik tersebut mengingatkan saya bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Terlalu banyak ngomong atau terlalu banyak mendengarkan. Karena berlebihan itu tidak baik, maka sebaiknya antara ngomong dan mendengarkan itu seimbang. Seimbang di sini maksudnya ketika kita berperan sebagai komunikator, maka berikan waktu kepada komunikan untuk merespon apa yang kita ungkapkan. Pun ketika berperan sebagai pendengar, ada kalanya kita perlu mengemukakan apa yang menjadi pandangan kita. Akan tetapi untuk mencapai titik seimbang tersebut memang sulit. Butuh kontrol diri yang baik.

Oleh karena itu, menurut saya salah satu hal yang bisa kita lakukan agar tidak terlalu banyak ngomong dan mendengar. Hal tersebut adalah mengingatkan diri kita sendiri ketika ngomongin sesuatu jangan sampai tenggorokan kering (yang artinya lama). Sengaja kita potong-potong dan pancing lawan bicara kita dengan pertanyaan agar dia juga merasa dihargai dan diberi waktu untuk berbicara.

Ini dulu yang bisa saya share tentang banyak ngomong vs banyak mendengar. Semoga bermanfaat.

You Might Also Like

8 komentar

  1. pertama yang terbesit dengan kata 'banyak ngomong' itu: SALESMAN haduhh gak tahan deh denger mereka nawarin produk, jago bangett...ngett...T_T Jadi, klo ketemu orang nawarin CC, asuransi, apa kek... buru2 ngacir XD

    Sebenarnya, dari keduanya gak ada yang 'gimana2', soalnya banyak ngomong sama banyak denger itu hanya semacam variasi kepribadian manusia, yang seringnya karena bawaan genetik.

    orang yg pribadinya pendiam ketemu pendiam, bisa sepiii banget. Atau orang yg rame sama rame bisa heboh banget sampe brantem. Jadi, kalau ada orang yg cenderung diam dlm komunikasi, bukan berarti karena lawan biacaranya banyak ngomong, kemungkinan besar keduanya emang berbeda.

    Tapi betul juga, klo masing2 dari mereka harus koreksi kekurangan dan tonjolkan kelebihan dari sifat alami mereka. Yang ekstrim emg ga pernah ada yg bagus.

    Pernah baca bukunya Florence L, judulnya personality plus? Atau Enneagram? Disitu dijelasin kenapa ada orang yg satu pendengar yang satu hobi ngoceh. Masing2 ada lebih kurangnya dan dikasi tau jg solusi untuk meredam ekstrimitas masing2 sifat. Menarik banget untuk ditelaah.. :) :)

    BalasHapus
  2. Iya mom bener banget. Sebenernya tulisan ini terinspirasi dari pertemuanku dgn orang yang ngomooooong mulu dengan fokus kepada dirinya sendiri. Padahal kami baru pertama ketemu *malah curhat*

    yup mom, bukunya Florence itu emang bagus. Kalau dipraktekin sehari-hari meredam ekstrimitas masing2 sifat harus sedikit demi sedikit dan dibiasain ya. AKu pun lagi berusaha haha.

    Makasih mom udah mampir :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga punya teman dekat semacam itu, emang udah suka ngoceh semenjak ketemu. tapi karena aku tipenya diem dan mau dengerin ocehannya, jadinya malah klop, wkwk. Kadang aku demen tipe orang blak2an gini, dia bicara tentang dirinya, kelebihannya sampai kekurangan yang paling privat kadang keceplosan diomongin >< Senengnya, aku jadi tau orang macem ini senengnya 'diapain', daripada ketemu orang yg sama2 diem aku malah jadi nebak2 apa maunya. Tapi, saat aku mau ketenangan, temanku itu harus aku jutekin dulu baru ngerti klo aku lagi gak pengen suasana bersik...haha...

      makasih juga udah main2 ke blogku... :)

      Hapus
    2. Iya sih mom aku juga ada temen kayak gitu. Ngocehnya gak berenti-berenti, tapi aku seneng aja ngedengerin. Mungkin bagiku tergantung apa isi omongannya ya. Misal do'i ngomongin pernah jalan-jalan ke seleruh dunia. Terus prestasinya pernah menang makan terbanyak. Ngomong semacam itu terus padahal baru pertama ketemu justru ngebuat aku pribadi ilfil hehe. Tapi baiknya bisa jadi bahan introspeksi. Sekarang jd lebih mikir saat mau ngomong tuh gimana baiknya apalagi sama partner kerjasama yang baru ketemu. Kan gak lucu berpartner tapi ilfil sejak awal wkwk.

      Sip mom :D

      Hapus
    3. ha, bener banget... klo sebagai partner kerja, kita emang harus pinter menghadapi macem2 sifat dan mengkonter kelebayan mereka wkwk.

      dulu waktu jaman kuliah ada praktikum skill, salah satunya keterampilan anamnesis (wawancara pasien). Selain ada teknik gimana cara ngorek informasu dr ps yg ngomongnya irit, ada juga cara nge-cut pasien cerewet yang ngomongnya suka OOT (klo bawel ngasih info lugas sih enak, lah ini kadang kucing mencret aja dibawa2, hadeh).

      Yah, yg semangat ya nak menghadapi dunia kerjaaa... hoho..

      Hapus
  3. paling enak lebih banyak mendengar: curi-curi informasi. tapi ya beda lagi kalo yang didengerin tentang curhatan patah hati kesekian kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ya berarti kita belajar dari kisah patah hati teman biar bisa menghindari patah hati iya kan? :D
      thanks Ocha udah mampir :D

      Hapus
  4. Bagus sumpah.. keren dan sebagainya lah

    BalasHapus

Flickr Images