Tentang Wanita dalam Selimut Debu

Membaca buku pertama yang ditulis oleh Agustinus Wibowo ini benar-benar membuat saya kagum sendiri dengan caranya bercerita. Entah mengapa...

Membaca buku pertama yang ditulis oleh Agustinus Wibowo ini benar-benar membuat saya kagum sendiri dengan caranya bercerita. Entah mengapa, saya merasa dia punya kemampuan story telling yang begitu mumpuni. Sebuah kisah perjalanan di negara kawasan Timur Tengah yang berakhiran 'Stan' ia ceritakan dengan demikian rupa. 



Bagi saya, menamatkan buku Selimut Debu ini tidak sekadar menghibur, tetapi sekaligus membuka mata saya tentang sebuah realita kehidupan di negara yang tampak antah berantah menjadi terlihat nyata. Setidaknya di dalam otak dan pikiran saya. Saya jadi ingat apa yang pernah Agustinus sampaikan dalam forum seminar nyaris setahun silam. Ia pernah berkata bahwa seorang penulis kisah perjalanan yang baik adalah dia yang bisa mengajak pembacanya seolah-olah sedang turut serta mengunjungi tempat yang sang penulis kunjungi lalu diceritakan. Menurutnya, seorang penulis kisah perjalanan adalah tumbal karena kisah yang ditulisnya menjadi media bagi orang lain untuk melihat suatu tempat tanpa harus mengunjunginya. Iya, cukup melihatnya dengan seksama dalam bingkai imajinasi yang tercipta karena rangkaian kata dari sang penulis. Dan hal itulah yang saya rasakan serta alami ketika membaca buku ini.

Buku dengan tebal 400 halaman lebih itu bercerita tentang banyak hal. Namun, ada satu hal yang saya highlight dalam buku ini yaitu tentang kisah kehidupan para wanita di negara-negara tersebut. Mayoritas wanita di negara-negara tersebut sepertinya punya hubungan khusus dengan burqa. Sebentuk pakaian panjang ala kaum muslim yang hanya memperlihatkan bagian mata saja. Entah karena kultur budaya setempat, hingga persoalan agama. Membaca bagian ini saya sangat menikmati. Seolah sedang mendengarkan penjelasan dari dosen tentang kehidupan wanita-wanita tersebut. Dari bagian ini juga saya menjadi tahu bahwa kesetaraan gender yang beberapa tahun belakangan ini didengung-dengungkan oleh nyaris seluruh masyarakat dunia itu punya tingkat kepentingan yang berbeda-beda dan sangat relatif. Seperti misalnya kesetaraan gender dalam hal karir.

Di negara seperti Afganistan, para wanita justru sudah terlanjur nyaman dengan status 'ditanggung' oleh lelaki atau pun keluarga. Hal ini membuat pandangan mereka berbeda dengan wanita-wanita di negara-negara mainstream lainnya di mana menjadi wanita karir adalah sebuah pencapaian yang prestisius. Sedangkan di mata para wanita Afgan, wanita yang harus sibuk bekerja mengejar karir itu justru memprihatinkan. Ya, mereka mengasihani para wanita yang mandiri.

Dari sekian banyak hal yang disoroti oleh Agustinus dalam Selimut Debu, bagian itulah yang paling mengesankan bagi saya. Sebab pandangan baru mulai bermunculan sejak saya membaca bagian itu. Namun, bukan berarti bagian lain tidak saya sukai atau tidak berkesan. Lainnya pun sama berkesan dan syarat ilmunya. Maka dari itu, saya berani merekomendasikan teman-teman untuk membaca buku ini bila ingin mengupgrade pengetahuan tentang bagiamana kebiasaan dan kehidupan masyarakat di negara-negara Timur Tengah yang berakhiran "Stan".


You Might Also Like

1 komentar

  1. Bukunya menarik ya Erny, jadi penasaran... tapi tumpukan buku di rumah yang belum terbaca masih segunung >_< Mungkin harus ikutan 1 bulan 1 buku yaaa

    BalasHapus

Flickr Images