5 Reasons to Love Tokyo

By Erny Kurniawati - 00.58.00

Sebelumnya, judul ini 80% terinspirasi dari blognya Nazura Gulfira ini. Kalau dia nulis tentang alasan mencintai Kota Perth, Australia, maka pada tulisan ini saya akan menuliskan alasan mengapa saya cinta Kota Tokyo, Jepang. Apa saja 5 alasan itu? Check them out!

Tata Kota
Di sepanjang jalan Kota Asakusa


Hal pertama yang membuatku jatuh cinta pada Tokyo adalah tata kotanya. Sebelum saya pergi ke Jepang, saya selalu membayangkan Tokyo menyerupai Jakarta. Kota metropolis yang dijejali oleh bangunan pencakar langit di setiap sisinya. Memang benar kota ini dipenuhi gedung pencakar langit, namun gedung-gedung itu berjajar rapi layaknya perumahan elit. 

Sejak pertama kali melintasi kota ini dan akhirnya tinggal selama 2 hari di sini, saya benar-benar jatuh cinta dengan tata kota Tokyo. Kota metropolis ini ternyata begitu rapi. Tidak ada perumahan kumuh di sini, pedestrian begitu lebar, dan jalanan tampak lengang. Menikmati sore di kota ini sambil berjalan kaki adalah hal yang sangat menyenangkan. 


Taman Kota
Tangga Taman Kota

Lapangan di tengah Taman Kota

Sore hari setelah kedatangan saya di Tokyo, saya dan beberapa teman memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Oh ya, hotel yang disewa panitia JICE untuk peserta Jenesys adalah  Hotel East 21 Tokyo. Lokasi tepatnya ada di Koto-Ku. Karena sejak awal tujuan kami hanya sekadar jalan-jalan di sekitar hotel, maka kami benar-benar menikmati sore itu dengan menyusuri trotoar di sekitar hotel. Setelah berjalan kaki sekitar 1 km, kami menemukan sepetak taman yang lokasinya berada di perempatan jalan. Pohon sakura memagari taman ini. Sayangnya, saat itu masih winter jadi belum ada bunga sakura yang mekar. 

Taman yang tidak terlalu luas itu terletak di tengah kota. Walaupun cukup kecil, namun taman ini cukup lengkap fasitilitasnya. Selain bisa digunakan sebagai lapangan, taman ini juga menyediakan wahana bermain anak seperti ayun-ayun, pipa panjat, dan lain sebagainya. Sementara bagi pengunjung yang ingin bersantai juga bisa karena disediakan bangku-bangku taman. 

Menemukan taman di tengah-tengan kota seperti ini adalah hal yang rasanya susah saya jumpai di negara asal. Negara ini, meski terkenal dengan kemajuan teknologinya ternyata anak-anak di sana masih banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu bermain bersama teman di taman daripada sibuk dengan game di gadget masing-masing. Lagi-lagi jadi ingat anak-anak di lingkungan rumah dan kos dan seketika merasa miris.

Trotoar Lebar


Poin yang satu ini sepertinya berlaku di (hampir) setiap kota di Jepang. Negara ini selain terkenal dengan sebutan matahari terbit dan bunga sakuranya, juga terkenal dengan kebiasaan penduduknya yang kemana-mana berjalan kaki. Oleh karena itu, nggak heran pemerintah di sini membangun trotoar dengan cukup lebar. Kalau dibangdingin dengan trotoar di Jogja sih sekitar 2-3 kali lipat lebarnya. 

Selain untuk pejalan kaki, trotoar ini juga berfungsi sebagai jalan untuk pesepeda. Jadi jangan harap menemukan kemacetan di jalur mobil, sebab di sini yang macet justru trotoarnya. Terlebih pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Warga Jepang secara optimal memanfaatkan trotoar ini.


Disiplin

Pada malam harinya (24/2) kami dapat free time dari panitia. Karena free time, jadi kami diizinkan untuk kemana saja yang penting balik hotel maksimal pukul 10.00 malam waktu Jepang. Waktu bebas tersebut kami manfaatkan untuk ke Shibuya, pusat perbelanjaan di Tokyo. 

Pertama kali keluar dari stasiun di Shibuya saya langsung tercengang. Iya, kampungan banget sih. Tapi ya yang namanya pertama kali ke luar negeri terus malam itu bisa nginjakin kaki di tengah kota super ramai yang biasanya hanya bisa kulihat lewat TV atau film. Eh malam itu saya bisa berdiri di sana.

Semakin tercengang lagi saat melihat orang-orang di sini meski ramai tetap disiplin. Nggak ada tuh nyebrang jalan nggak di zebra cross. Nggak ada juga macet-macetan kendaraan. Padahal ya kalau dibandingin sama Malioboro ramainya berkali-kali lipat. Tapi entah mengapa orang-orang di sini disiplin banget. Mau nyebrang jalan nunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Sekalipun nggak ada mobil yang lewat, tetep tertib! Ah semoga di Indonesia segera bisa seperti ini!


No Macet!
Saya nggak paham lagi, kenapa kota metropolitan sekelas Tokyo nggak macet sama sekali. Bahkan kalau dibandingkan dengan kota asal saya, Magelang, jalanan di kota ini jauh lebih lengang. Nggak ada macet dan udaranya terasa seolah tanpa polusi. Seger banget. Poin terakhir ini yang bikin saya susah move on. Rasanya pengen lama-lama tinggal di negeri Sakura ini.

Selain 5 alasan tersebut sebenarnya masih ada alasan lainnya. Secepatnya akan saya update pada part selanjutnya! :)

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Ngga macet karena mereka lebih milih naik kereta dibandingkan kendaraan pribadi.. :D

    Pengen ke sana deh.. :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena biaya parkir di sini nyampe 800-1000 yen means 80-100 ribuan :' dan bensin mihil. Jadi mending naik kereta yaaaah

      Hapus
  2. Aaaahh sugoi kakak bisa ke Jepang! Saya dari dulu pengen juga bisa ke Jepang nih :(((
    Btw, anak magelang rupanya, hehe... kula nggih saking magelang loh.^^ Alhamdulillah tahun ini juga ketrima ilkom ugm. Salam kenal kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ega, sorry for late respons. Waah ternyata kamu adek tingkatku ya :) semoga segera keturutan ya impiannya. Thank you sudah mampir baca :D

      Hapus