Night Talk | Relax, Breath, & Let Go

By Erny Kurniawati - 20.00.00


Tanggal 14 bulan ini bertepatan dengan hari kelahiranku. Tanpa ada rencana berlibur kemanapun, saya memutuskan untuk mengambil cuti selama 2 hari dari tanggal 14 hingga 15 April. Alasannya cuma satu, saya ingin menghadiahi diri saya sendiri hari libur. Karena, entah kenapa beberapa minggu terakhir moodku sedang buruk-buruknya. Fluktuaktif banget. Kadang good mood terus tiba-tiba badmood dalam sekejap. Mood swing yang super parah! Selain itu, sejak Sabtu minggu lalu kepalaku pusing terus-terusan disertai dengan badan yang seperti mau demam, tapi nggak demam juga. Alasan-alasan itulah yang menguatkanku untuk ambil cuti 2 hari ini. Pikirku, barangkali aku terlalu stres karena beberapa tekanan belakangan ini.


Tekanan pekerjaan dan tekanan pendidikan lagi sering-seringnya membuatku stres. Ternyata menjalani 2 peran ini nggak semudah yang saya bayangkan. Selama 6 bulan saja, udah nggak terhitung berapa kali kepikiran resign karena kondisi skripsi yang jalan-mandek-jalan-mandek terus. Saking disperate-nya, awal minggu ini aku sempat beberapa kali melamun sambil mikir, apa iya saya bisa lulus? Huft, pikiran yang super apatis banget! Puncaknya, pas saya tiba-tiba kambuh mood swingnya dan ngeluh, ngomel ini itu tiada henti sama pacar. Dia yang sabar banget beberapa kali kena bentakanku yang seolah keluar dari mulut tanpa sadar. Untung aja, dia bilang kepada saya lewat chat kalau saya belakangan jadi galak dan nakutin suka bentak-bentak. Ah, saat itu saya seperti disadarkan kalau ada yang salah sama hidupku belakangan ini.

Lagi-lagi chat pacarku itu jadi penguat untuk saya ngambil cuti. Pikirku, lumayan untuk introspeksi diri dan ngobrol sama diri sendiri. Iya, ngobrol sama diri sendiri. Soalnya, kurang me time juga berisiko buruk lho untuk kondisi mental kita. Bisa-bisa kita terlalu jauh melangkah pada jalan yang sebenarnya bukan tujuan kita. Atau justru tenggelam dalam rutinitas yang membosankan. Hingga tanpa sadar kita terlalu banyak bekerja, lupa menikmati hidup, dan apalagi mensyukurinya. Sambil introspeksi dan ngajakin ngobrol sama diri sendiri kemarin, saya sambil nonton video campaign yang dikirimkan temanku beberapa waktu lalu.

Video asal Inggris yang dibuat untuk campaign perempuan ini benar-benar mampu menyentuh sisi terdalam diri saya. Bagi teman-teman di usia 20+ pasti pernah mengalami masa-masa seperti saya. Punya banyak mimpi, penuh ambisi, dan tanpa sadar, ambisi itu justru jadi tekanan terhadap diri kita sendiri. Kalau nggak dikendaliin, kita semakin keras bekerja, sibuk membuat to do list, tapi lupa mensyukuri dan menikmati hidup. Dan itu semua terjadi sama diri saya. 

Parahnya lagi, hal tersebut mempengaruhi mental saya jadi lebih emosian, nggak menghargai diri sendiri, mudah ngeluh, dan enggan bersyukur. Oleh karena itu, bila ditanya apa yang saya inginkan pada usia baru ini, sederhana saja saya ingin lebih bisa menghargai diri sendiri, orang-orang tercinta, lebih relaks, dan nggak terlalu ambisius lagi. Saya ingin lebih bisa merasakan menjadi seseorang, ketimbang terlalu banyak melakukan tapi tak sempat menikmati dan mendengarkan kata hati diri sendiri. Dan untuk mewujudkan hal itu, saya berusaha untuk mendaftar apa yang sudah saya lakukan selama 22 tahun ini, ketimbang membuat to do list panjang untuk setahun ke depan. Saya ingin lebih menyayangi diri sendiri, orang sekitar, dan menikmati apa peran saya sekarang. Lalu berusaha untuk berdamai dengan ambisi yang semakin hari semakin membumbung tinggi. Dan satu kalimat yang selalu saya ingat dalam video di atas, "If i were young woman i'll spend more time being, not doing."

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Pressure di usia 20an memang gila-gilaan. Saking fokusnya kita ngejar ambisi, kadang jadi lupa bahwa ada banyak hal yg kita lewatkan :) apalagi bagi muslim mesti pinter-pinter ngatur prioritas antara hidup di dunia, persiapan masuk kubur dan hidup di akhirat (((kemudian hening))) :| #edisijelangRamadhan

    Ada kalanya kita memang butuh "istirahat", slow down, dan melihat hidup dari gambaran yang lebih besar. Semangat Erny ^^v kamu bisa yey!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah iya banget Hani. Rasanya pas jaman sekolah tuh ibadah lebiiiih rajin dari ini sekarang kadang nggak sadar nunda-nunda hiks.

      Makasih supportnya :))

      Hapus