NIGHT TALK | SUKA DUKA KULIAH SAMBIL KERJA

Ide tulisan ini sebenarnya ada sejak beberapa waktu lalu. Tapi saya selalu mengurungkan niat untuk menuliskannya hingga selesai. Alasa...



Ide tulisan ini sebenarnya ada sejak beberapa waktu lalu. Tapi saya selalu mengurungkan niat untuk menuliskannya hingga selesai. Alasannya, saya merasa tulisan ini banyak keluhan. But semakin kesini saya pikir tulisan ini perlu juga saya selesaikan. Selain untuk kepuasan pribadi, saya rasa banyak di luar sana yang mengalami hal seperti saya. Harus kuliah sambil kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebetulan, bulan ini tepat 2 tahun saya berstatus sebagai mahasiswa sekaligus pekerja. Dua tahun memang waktu yang belum begitu lama, tapi syarat pelajaran untuk saya. Masa-masa harus struggle dengan dua profesi itu bukanlah hal yang mudah. Pontang-panting ngurusin kerjaan sambil kumpul tugas kelompok, ada masalah dengan kelompok karena kebanyakan ngeles nggak bisa dateng dengan alasan kerja, hingga badan pegal nggak karuan karena tidur sehari cuma 2-4 jam. Semua itu sudah hal yang biasa. Bahkan hampir setahun terakhir, saya berubah jadi wanita super moody karena tekanan pekerjaan dan skripsi berbarengan. Jadi bisa dibayangin kan gimana jatuh bangunnya?

Meski jatuh bangun, namun semua itu tentu pengalaman yang nggak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun. Nangis karena kelelahan adalah hal yang biasa. Mood swing pun nggak datang hanya saat PMS saja, tetapi saat tiba-tiba klien komplain tentang hal sepele. Hal itu bisa jadi boom yang mengubah good mood jadi bad mood

Kata orang, kerja di bidang kreatif sepertiku itu luwes. Bisa sedikit bebas untuk beraktivitas di luar. Memang iya, saya bisa kuliah di antara jam kerja. Saya bisa keluar dengan dalih bosan di kantor dan nggak dapet inspirasi. Tapi, semua hadir dalam dua sisi kan? Ada enak ada enggaknya juga. Enggaknya ya, harus siap kapan pun bahkan weekend. Misalnya nih, tiba-tiba ada brief revisi yang harus diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, ya harus dikerjakan. Pekerja digital tentu paham dengan hal ini dan bahkan inilah seninya. Pun saat mood ngerjain skripsi sedang tinggi-tingginya, tapi tiba-tiba dapet mandat bikin proposal pitching. Oh God, senyumin aja lagi. Sambil inget-inget kalau Tuhan menguji hambanya sesuai kemampuan sang hamba. So, ujian ini ada karena saya mampu kan?

Dan semua itu membawa saya pada kenyataan kalau prioritas  itu mengabur secara perlahan tapi pasti. Mau bilang prioritasku kuliah, tapi revisi skripsi diabaikan karena proposal pitching. Apa itu berarti kuliah masih jadi prioritas? Tentu nggak kan? Pun sebaliknya. 

Tentang prioritas yang mengabur, tentang semangat yang nggak boleh padam, tentang optimisme yang selalu hidup, dan tentang kelelahan yang nggak perlu banyak diumbar adalah sebagian kecil hal yang kupelajari selama 2 tahun menjalani 2 profesi itu. Di satu sisi, saya lebih siap menghadapi persaingan di dunia kerja selepas lulus nanti berbekal pengalaman ini. Di sisi lain, saya harus pintar-pintar menjaga diri untuk tentap on fire dan penuh nafsu ngelarin kuliah. 

Well, mungkin ada yang komentar kenapa saya nggak resign aja kalau memang berat menjalani dua profesi. Firstly, I need money. Hampir dua tahun ini juga saya hidup dengan kaki sendiri. Itu artinya, tanpa kerja saya nggak bisa beli nasi, apalagi beli lipstik. hehe. Kedua, bidang pekerjaan yang saya tekuni sesuai dengan passionku di bidang menulis dan digital. Ketiga, saya ingin belajar. Iya, belajar.  Karena dari bekerja saya tahu bagaimana perkembangan digital dan tren di Indonesia. Saya juga dapet ilmu tentang manage tim, tahu gimana ngadepin klien yang komplain, tahu bagaimana harus bersikap saat ada masalah, dan juga belajar untuk calm down first when I face the problems. Alasan keempat, saya suka tantangan. I believe, I don't have limits because I am a maker of it. Jadi, saya pingin lihat, sejauh mana saya bisa struggle. Apa saya lemah cepet nyerah? Atau saya kuat untuk terus melewati proses ini? 

Beberapa hal itu adalah alasan utama mengapa saya masih tetap bekerja walau berat untuk menjalani 2 profesi sekaligus. Kerja kantoran yang start from 8-5 dengan skripsi yang paling pol ditanya dosen "serius skripsi nggak" itu adalah kesulitan paling bikin saya stres 6 bulan terakhir. But at the end, saya sangat menikmati proses ini. Karena nggak hanya susahnya aja yang ada, tapi seneng dan belajarnya juga banyak. Terus gimana donk menurut kalian? :) 

Let me know your story or opinion ya! :)


You Might Also Like

2 komentar

  1. Wah hebat sekalii bisa kerja sambil kuliah.. enggak kebayang mesti multitasking banget ya dengan segala tugas dan kerjaan yang ada. Walaupun aku belum tau banyak kamu seperti apa, tapi dengan tau kamu udah melewato tahun kedua kuliah sambil kerja ini, aku yakin kamu pasti bisa ngejalaninnya sampai kuliah kamu selesai dengan hasil memuaskan tanpa meninggalkan pekerjaan kamu sekarang. Semangat selalu Erny!!! *peluk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Ozuuu, *peluk virtual* thanks for your support. :*

      Hapus

Flickr Images