NIGHT TALK | Tentang Hidup yang Wang Sinawang

Buka Path, lihat update-an temen lagi makan di resto XXX. Buka Instagram, temen A ngupload foto liburan di Korea. Buka Facebook, lihat tem...

Buka Path, lihat update-an temen lagi makan di resto XXX. Buka Instagram, temen A ngupload foto liburan di Korea. Buka Facebook, lihat temen update album wisuda. Dan seterusnya.  


Entah cuma saya atau temen-temen juga merasakannya. Belakangan ini, saya merasa mudah pengen dan iri. Di satu sisi baik sih karena memotivasi diri untuk upgrade kemampuan. Tapi, ada sisi negatifnya juga karena terus-terusan membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Apalagi sejak ada media sosial. Nggak cuma mereka, saya pun sering update sesuatu yang -mungkin- membuat orang lain berpikir, "jadi Erny enak ya bisa begitu." Dan mungkin juga membuat orang lain merasa hidupnya nggak seberuntung saya. 

Terus apa dampaknya? Ya jelas, ukuran bahagia bagi saya semakin kabur karena kurang bersyukur. Rasanya kuraaaang terus dan cenderung nggak menghargai pencapaian selama ini. Padahal kalau saya flashback dari 2 tahun terakhir saja, sebenarnya ada banyak hal yang semestinya membuat saya merasa cukup dan bersyukur. Sayangnya, itu tertutup oleh rasa kagum dengan hidup orang lain dan merasa hidupku kurang menarik. 

Dan ternyata, yang merasakan hal demikian bukan hanya saya. Bahkan seleb blog sekelas Diana Rikasari juga pernah menulis tentang hal serupa di blognya.Well, media sosial memang seolah etalase hidup seseorang. Apa yang ditampilkan hanyalah 1 sisinya. Jadi, masih ada sisi-sisi lain yang mungkin nggak saya lihat. 

Terus apa yang saya lakukan supaya nggak larut dalam hal ini?

Jawabannya adalah ketemu dengan orang-orang baru di dunia nyata. Mendengarkan kisah mereka. Kemudian memahami, bahwa hidup itu hanya saling lihat. Bener, hanya saling lihat! 

Seperti kataku, ada orang lain melihat hidupku enak. Padahal kenyataannya nggak seenak yang ada di mata mereka. Seperti melihat kehidupan Diana Rikasari yang sering bikin orang lain envy, eh ternyata dia juga punya masalahnya sendiri lho. So, kesimpulannya hidup itu mung wang sinawang alias saling lihat. Apa yang saya lihat belum tentu benar seperti apa yang kamu lihat pada saya. Benar begitu, kan? :)

You Might Also Like

8 komentar

  1. Setuju banget! Makanya aku kalo udah mulai merasa sosial media membawa aku justru ke hal - hal yang enggak baik (misalnya jadi iri atau minder), di saat itu juga aku mutusin buat ngelakuin "detox" sosmed, alias enggak buka Instagram selama waktu yang aku tentukan sendiri sampai aku merasa udah "siap" kembali buat liat berbagai isi di sosmed itu, yang enggak akan ngebuat aku merasa iri atau kurang bersyukur. Dan aku juga setuju kalau bertemu orang secara langsung and having a deep conversation with them is way better than scrolling pictures on Instagram :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, detox sosmed emang perlu, meskipun aku sendiri sering gagal pas mraktekkinnya haha. Kalau nggak ketemu orang secara langsung, baca cerita orang dari blog juga lumayan bikin aku lihat sisi kehidupan orang dari berbagai sisi. Misal, baca blog kamu haha. *ini nggak gombal* :p

      Hapus
  2. Apa yang di posting di medsos kan sakjane selected reality~~
    Heuheuheu... Ku jadi ingin tsurhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, tapi apapun yang tampak di luar kadang juga keliatan kaya realitas yg bener haha. Terutama kalau blm kenal :)

      Hapus
    2. Tep kudu realistis, boskuhh~
      Sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan.
      You don't always wear something expensive to looks good, right??
      :))
      *Soale kalo maksa ngikutin semua-mua byuti blogger, bisa mampus aku, gak nongkgrong atau makan :"
      ehehe

      Hapus
  3. Singkat, jelas, padat, tapi ngena banget. Saya suka sekali tulisan macam ini, bikin iri. Hahahaa XD

    BalasHapus

Flickr Images