Pre-launching Jaziratul Muluk by Sogan Batik

By Erny Kurniawati - 22.07.00



Senin tanggal 22 Agustus kemarin, saya dapet undangan untuk menghadiri acara media gathering dan pre-launching koleksi terbaru dari Sogan Batik Indonesia. Bagi temen-temen yang belum tahu, Sogan Batik Indonesia ini merupakan produsen batik tulis dan cap handmade asli Jogja. Desain-desain motif batiknya unik-unik dan antimainstream. Apalagi ditambah dengan desainnya dalam bentuk pakaian ready to wear yang juga nggak kalah menarik dan up to date. Sama halnya dengan produsen fashion lainnya, Sogan juga aktif merilis koleksinya beberapa bulan sekali. Dan koleksi yang kemarin ditampilkan dalam pre-launching ini rencananya akan dilaunching pada acara Jogja Fashion Week tanggal 24 hari ini.


Pada acara tersebut, saya nggak sekadar disuguhi snack jajan pasar yang khas, tapi saya juga jadi tahu cerita di balik produksi koleksi batik Sogan. Misalnya, koleksi yang dipreview ini mengangkat tema Jaziratul Muluk. Kemarin, Mbak Iffah pemilik Sogan Batik bercerita kalau tema tersebut terinspirasi dari  perjalanan Ibnu Battuta, seorang pengelana muslim dari Maroko yang sampai ke suatu kepulauan yang kaya akan rempah dan menyebutnya sebagai jaziratul muluk atau jazirah para raja. Kepulauan yang kaya akan rempah tersebut tidak lain adalah Maluku. Ada empat kerajaan Islam di tempat yang ternyata bernama Maluku itu, di antaranya Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Rempah-rempah yang menjadi komoditas daerah tersebut antara lain cengkeh dan lada. Nggak heran kan kalau daerah ini menarik para pedagang dari Nusantara maupun asing. Terinspirasi dari komoditas utama tersebut, selanjutnya cengkeh dan lada dijadikan hiasan dekoratif (isen-isen) dalam motif batik tulis pada koleksi Jaziratul Muluk. 

Walaupun koleksi Jaziratul Muluk baru dilaunching dalam acara JFW hari ini, tapi kemarin Sogan Batik sudah mempreview 4 koleksinya. Karena inpirasi di balik koleksi ini nggak hanya tentang Jawa, jadi Mbak Iffah juga memadukan beberapa unsur dalam koleksinya seperti, unsur tenun motif Maluku, batik tulis warna cokelat, dan lurik khas Jawa. Unsur-unsur tersebut menghasilkan pakaian-pakaian ready to wear yang cantik-cantik dan nggak monoton lho. 





Setelah tahu sejarah, proses di balik produksi, dan juga produk jadinya, saya pun dibuat takjub dengan motif-motif batik kontemporer dalam koleksi ini. Gimana nggak, desain motifnya rumit dan membutuhkan kesabaran banget. Apalagi Sogan Batik memproduksi batik-batik dalam koleksi ini dengan handmade. Sekalipun ada beberapa yang menggunakan teknologi cap, tapi ada juga yang membatik dengan cara menuliskan dengan lilin satu demi satu motif. Dan yang terpenting, baik batik tulis atau capnya, semua dikerjakan dengan tenaga manusia. Saya jadi kagum gimana telatennya para pembatik di sini. Apalagi saya sempat ikutan praktik membatik juga kemarin dan saya keringetan banget karena tegang membatik selembar yang nggak seberapa besar. Ternyata membatik susah banget! Butuh kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Nggak heran ya, membatik bisa menjadi terapi stres. Secara pikiran jadi fokus pas membatik.

Selain mencoba membatik dengan tangan sendiri, saya juga melihat langsung proses pewarnaannya. Terbukti lho, kalau pewarna batik Sogan ini dari pertama jadi nggak luntur! Emang ya, kualitas nggak bisa membohongi. Setelah batik bikinan saya kering, batik handmade ala saya itu tetep saya bawa pulang. Walaupun hasil batik tulisku menunjukkan kalau saya masih kurang sabar dan telaten. Hehe.

Dari acara ini, saya jadi tahu banyak tentang batik dan gimana proses di balik pembuatannya. Terima kasih ya Mbak Iffah udah mengundang saya! Oh iya, di balik nama besar Sogan Batik ada sepasang suami-istri yang pantang menyerah untuk terus berkreasi yaitu, Mbak Iffah dan Mas Taufiq. Jujur deh, melihat mereka bikin saya pengen suatu hari nanti bisa punya usaha sendiri bareng suami. Kayanya bakal total ya bersamanya. Hehe.

Dalam acara ini juga para tamu undangan diminta memakai dresscode bertema etnic. Dan semua tampil dengan gaya etnic masing-masing. Kalau saya sendiri karena masih jatuh cinta dengan celana palazzo, jadi saya memilih memadukan palazzo pants, top dengan model tangan lebar, dan jilbab satin bermotif etnic. Menurutku style ini nyaman banget, apalagi habis acara saya masih harus lanjut kerja.

At the end, buat teman-teman yang penasaran dengan koleksi Sogan selengkapnya bisa kepoin info lengkapnya di @soganbatik ;)

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Huaaaa.... saya juga pengen punya suamiiii. Eh maaf gagal fokus

    Enak ya di jogja, sering ada pagelaran busana, di jember kok kayaknya jarang ya, apa sayanya aja yang kurang kemana-mana -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha khaaaaan :D

      Wah nggak sering-sering juga sih cuma emang desainer lokal sekarang makin sering show gitu :D apalagi ini menjelang Jogja Fashion Week. Bukannya Jember terkenal dengan carnival itu yah. Ih saya pengen nonton ke sana lho

      Hapus