Misi Langdon Memecah Teka-Teki Inferno

Sebagai fans Dan Brown, sudah pasti saya langsung excited saat tahu film Inferno yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul serup...


Sebagai fans Dan Brown, sudah pasti saya langsung excited saat tahu film Inferno yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul serupa bakal tayang di Indonesia. Tanpa menunda-nunda, saya pun langsung nonton hari Senin minggu lalu. Setidaknya, saya jadi merasa hari Senin itu sebagai hari yang ditunggu-tunggu. Terus, gimana cerita filmnya? Apakah sama dengan bukunya atau melenceng jauh? Kalau penasaran, baca post ini sampai tuntas ya!
Jujur, novel Inferno merupakan novel paling lama yang bisa saya selesaikan. Seringkali udah sampai akhir bab, terus kubaca ulang lagi demi memahami isi bab tersebut dengan benar. Kasus dalam novel ini jelas nggak cetek dan butuh mikir untuk mencernanya. Karena itulah, saya bisa mengkhatamkan novel ini saat liburan akhir semester tahun 2014 lalu. Saat itu saya belum kerja, jadi libur kuliah itu kosong banget hidupnya. Dan, Inferno karya Dan Brown lah yang menemaniku. 

Meskipun butuh waktu lama untuk membacanya sampai tuntas dan betul-betul paham, tetapi buku itu justru menjadi favorit saya. Saya emang suka baca novel dengan genre seperti itu. Apalagi Dan Brown membuat alurnya susah ditebak dan penggambaran tokoh-tokohnya begitu kuat. Sampai-sampai mikir, ini penulisnya makan apa sih imajinasi dan pengetahuannya seluas ini.

Berhubung saya puas dengan bukunya, saya pun berharap puas juga dengan filmnya. Untungnya harapan saya tersebut terkabul. Tapi sebelum saya review, saya ceritain sedikit tentang film ini ya! Soalnya saya yakin ada yang pengen nonton tapi bertanya-tanya ini film tentang apa. Walaupun film ini diangkat dari novel karya Dan Brown, namun Inferno punya cerita yang sedikit berbeda dibandingkan tulisan Dan Brown terdahulu. Kalau The Davinci Code dan Angel & Demons banyak membahas dan mengkritisi tentang agama. Kali ini, Dan Brown bercerita tentang misi Langdon untuk memecah teka-teki tentang Inferno untuk mencegah terjadinya kepunahan manusia yang dibuat oleh seorang Bioengineer, Zobrist.

credit: Columbia Pictures
Cerita Inferno berawal dengan kondisi Langdon yang tergeletak di salah satu rumah sakit di Florence dan mengalami amnesia. Sesaat saat iya sadar dari pingsannya, Langdon benar-benar kehilangan ingatan jangka pendeknya. Ia bahkan bingung mengapa banyak orang yang ingin membunuhnya. Dalam kondisi hilang ingatan dan tak berdaya, memori mencekam yang berulangkali hadir membuat kondisinya semakin buruk. Meski begitu, Langdon tetap mampu melarikan diri dari kejaran agen yang menyamar sebagai polisi Florence dan hendak membunuhnya. Tapi sayangnya, ingatan sempurnanya tak kunjung kembali. Sementara disaat yang sama, dia harus memecahkan teka-teki yang berhubungan dengan karya milik Dante Alighieri tentang 9 neraka yang dikenal Inferno.Teka-teki ini ternyata berhubungan dengan ancaman aksi brutal yang digagas oleh Zobrist, seorang Bioengineer. Zobrist percaya bahwa virus yang dia buat memang kejam. Tetapi itulah cara terbaik untuk menyelamatkan dunia dari overpopulasi dan dampak lain yang disebabkan oleh kelebihan penduduk.

Dari cerita singkatnya saja, saya sudah tertarik bahkan kalau ada yang mau ngajak nonton lagi pasti saya iya kan dengan senang hati. Walau pun saya memuji film ini, tapi saya nggak bisa menyamakan kepuasan antara baca buku dengan nonton filmnya! Inferno versi film menurutku nggak jauh berbeda dari versi buku. Menurut saya ini karena Dan Brown menjadi Excecutive Producer film tersebut. Saat tahu Dan Brown ikut ambil peran dalam film ini saya langsung tambah kagum sekaligus membatin, "pantesan filmnya nggak jauh beda dengan versi buku."

Nggak jauh berbeda berarti tetap ada bedanya. Iya, bedanya adalah versi buku lebih detil dan memusingkan. Namun, detil dan memusingkan itu yang bikin saya sedikit kecewa dengan versi filmnya. Walaupun versi film tetap bagus, tapi kekurangan utamanya sudah jelas kurang detil. Ini masalah klasik kalau buku dibuat versi film sih. Jadi saya memakluminya. Apalagi, film ini tetap bikin saya hepi setelahnya.

Bicara soal kurang detil tersebut, sebenarnya adegan yang nggak dimasukkan memang adegan yang terlalu panjang dan gitu aja. Dimulai dari opening dalam film ini terasa banget kalau dipadetin dan seterusnya seperti adegan Langdon & Sienna Brooks di Florence saat menghindar dari kejaran tim WHO dan polisi setempat. Adegan tersebut kalau dibuku emang bikin gemes karena lama dan kurang relevan kalau tetap dimasukkan dalam film karena pasti jadi lebih panjang durasinya. Namun di sisi lain, adegan yang dipendekkan tersebut membuat efek bikin pusing penontonnya berkurang. Iya dong, kan efek gemes dan penasaran karena adegannya ituuuu aja jadi berkurang.

credit: aceshowbiz
Selain pemadatan alur, ada adegan di akhir yang juga berbeda dengan versi buku. Yaitu tentang potret romantisme antara Langdon dan dr. Elizabeth. Ceritanya kedua orang cerdas dan berpengaruh di dunia ini memiliki perasaan yang sama satu sama lain. Tetapi keduanya punya alasan kuat yang membuat mereka enggan mengalah satu sama lain dan bersatu. Pada bagian ini saya jadi menarik kesimpulan konyol, kalau 2 orang cerdas idealis kayanya bakalan nggak bersatu. Keduanya sama-sama kekeh dengan keputusannya yang mana itu bakalan nggak bisa menyatukan mereka. Pantesan ya, kalau pasangan biasanya punya sikap dan sifat yang berbeda satu sama lain. Hehe.

Romantisme antara Langdon dan dr. Elizabeth ini juga menjadi pembeda dari film-film adaptasi novel Dan Brown sebelumnya. Kedua film terdahulu nggak ada unsur cintanya sama sekali. Tenang, romantisme itu nggak bikin sisi menarik film ini berkurang kok.

Credit: Impulse Gamer
Saya rasa, kekurangan dari film Inferno ini hanya 2 poin di atas. Selebihnya saya suka setiap detil dan jalan ceritanya. Saya juga masih tetap mencintai karakter Langdon yang diperankan oleh Tom Hanks. Bagi saya, Tom Hanks udah pas banget dengan karakter Langdon. Dan lagi, setelah selesai nonton film ini saya terkagum-kagum dengan Dan Brown. Sekalipun banyak pro kontra tentangnya yang terlalu kritis hingga persoalan agama, namun nggak ada salahnya kan saya mengagumi kecerdasannya dengan tetap mengambil yang baik dan membuang hal buruk untuk saya jadikan pelajaran pribadi?

Berhubung review ini sangat personal, jadi kalau teman-teman punya pandangan lain tentang film ini saya bakalan hepi untuk diajak diskusi melalui kolom komentar! :)


You Might Also Like

4 komentar

  1. Menurut aku sih, entahlah, karena terbiasa dengan seri Langdon yang mengobrak-abrik atau membongkar rahasia besar seperti yang ada di buku 1-3, aku pribadi melihat Inferno kurang greget. emang sih ada banyak twist seperti kehadiran provost yang merangkai sebuah 'realita buatan' yang justru jadi kunci film itu. tapi konspirasinya kurang kuat aja. bukan cuma cerita di film, tapi jg di bukunya. Aku lebih suka versi Langdon yang mengungkap sebuah konspirasi besar sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau itu emang soal selera ya. Aku sendiri suka semuanya jadi bingung. Suka yang ini justru karena tumben ada unsur cintanya. Tapi setuju kalau twistnya itu yang jadi kunci. Tanpa itu, film dan bukunya bakalan biasa aja hehe. Kayanya habis ini ada karya baru lagi nih yang agama-agama lagi. Anyway, thanks for sharing! :D

      Hapus
  2. belum nonton, dan ini bukan genre film yang aku suka sih sebenarnya. Tapi, boleh deh dicoba. Siapa tau jadi suka hahaha

    www.deniathly.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku penasaran nih, genre film kesukaanmu apa Nia hehe. Tapi kalau emang kurang suka dengan genre ini emang agak membingungkan pas nonton *pengalaman nemenin orang yang gak suka genre gini terus nyoba nonton* but, nothing to lose juga untuk nyoba ya!

      Hapus

Flickr Images