Perjalanan Menjadi Sarjana I 1

Is it okay to share my very very personal journey? Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya menuliskan cerita perjalanan ini....


Is it okay to share my very very personal journey? Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya menuliskan cerita perjalanan ini. Bukan, ini bukan tentang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Tapi ini tentang perjalanan saya melewati satu fase dalam hidup. Tidak lain adalah perjalananku mernjadi sarjana.
 
Di balik tulisan seri yang saya sendiri tidak tahu bakal tamat kapan ini –tapi semoga secepatnya- saya Cuma ingin mengabadikan momen jatuh bangun untuk melewati fase ini dalam bentuk tulisan. Setidaknya, dengan menuliskannya saya jadi punya arsip fisik yang bisa dibuka lagi suatu saat nanti. Di samping itu, niatan menulis tentang hal ini semakin kuat karena saya sendiri merasa proses menjadi sarjana yang saya alami penuh dengan kejutan-kejutan yang syarat pelajaran hidup.

Saya jadi ingat, saya memulai perjalanan ini setahun yang lalu. Saat itu saya baru saja balik dari KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan baru saja kembali bekerja sekaligus dapet klien baru yang harus jadi tanggung jawabku. Sejauh ingatanku, waktu itu adalah salah satu waktu tersulit yang pernah saya alami. Klien yang kutangani tipikal yang rewel dan moody. Sementara saya sedang mulai menyusun bab 1 untuk skripsi. 

Sebelum saya berada di posisi itu, saya sering jumawa berpikir apa susahnya skripsi dan dapet gelar sarjana. Rupanya Tuhan menegur saya. Saya diberi ujian menghadapi klien yang ribet dan terpaksa harus sering lembur. Belum lagi konflik internal yang kadang membuat saya merasa dipojokkan dan serba salah. Nggak heran waktu itu saya sempat berniat resign setelah hampir setiap hari lembur, kena marah, skripsi terbengkalai, dan tentunya nggak terhitung lagi seberapa sering saya menangis. 

Sayangnya, saya nggak semudah itu untuk mengajukan surat berhenti kerja. Sejak 2 tahun yang lalu, saya resmi menanggung biaya hidup sendiri. Termasuk biaya kuliah hingga penelitian skripsi. Keluar kerja dan fokus skripsi tentu bukan opsi yang baik bagi hidupku. Saya mau makan apa kalau nggak kerja? Saya mau bayar kostan pakai apa kalau keluar kerja? Paling parah, gimana saya bisa lulus kalau saya nggak ada dana? Hal-hal itulah yang pada akhirnya memaksa saya untuk kuat. 

Dalam kekalutan dan kebingungan saya itu, saya inget sama omongan seorang guru pada masa lalu. Guru itu bilang ke saya, kalau yang terjadi dalam hidup saya bisa jadi itu jalan. Jadi satu-satunya cara ya jalanin aja, entah menyenangkan entah menyakitkan. Yang terpenting saya selalu siap ambil hikmah di setiap perjalanan itu. Memori itu sedikit banyak membuatku merenung dan berhenti menyalahkan Tuhan tentang nasib saya lalu berusaha menerimanya. 


Kalau ingat saat itu, saya selalu tersenyum dan nggak menyangka masih bisa berpikir jernih hingga saat ini. Skripsi saya belum selesai sekalipun setahun sudah berlalu. Namun semangat saya masih besar untuk meraih gelar sarjana. Sedikit kesulitan yang saya alami di awal perjalanan menjadi sarjana ini adalah pelajaran hidup yang nggak ternilai harganya. And the conclusion, setiap perjalanan itu ada hikmahnya. Baik perjalanan yang menyenangkan atau pun tidak. Dan percayalah, setiap orang punya jalan sulitnya masing-masing. So, nggak ada alasan untuk menyalahkan Tuhan atas nasib sulit yang menimpa kita. Hidup sudah ada yang atur!

You Might Also Like

4 komentar

  1. Yeay!!! Nemu blognya kak Erny ^^


    Semangat kak! Tinggal nye-krip-sweet kan? Tinggal sak-nyuk-kan (bahasa Jawa kalang kabut T.T)

    christinauntari.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi paham-paham arti sak nyuk an :D semoga ya habis ini segera diwisuda haha. Amin *eh malah doa sendiri*

      Hapus
  2. Semangat Ernyyyy! Semoga segera selesai skripsi nya dan diwisuda secepatnya yaa :)

    BalasHapus

Flickr Images