Sehari di Ketep Pass

Tarik napas, tahan, buang napas. Tarik napas, tahan, buang napas. Sambil menutup mata, saya melakukan hal itu berulang kali. Merasakan seg...

Tarik napas, tahan, buang napas. Tarik napas, tahan, buang napas. Sambil menutup mata, saya melakukan hal itu berulang kali. Merasakan segarnya udara pegunungan yang terasa ringan dan segar di paru-paru. Sepertinya, segarnya udara di lereng Merapi siang itu membuat pikiran saya jauh lebih baik. Stres, lelah, dan penat, rasanya benar-benar berkurang dengan signifikan. Saya merasa lebih ringan.

Setelah lebih dari 5 tahun tidak berkunjung ke lokasi wisata ini, Senin (12/12) kemarin saya sengaja meluangkan waktu kesana. Dengan menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor selama kurang lebih 1 jam dari pusat kota Jogjakarta, akhirnya saya tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 siang. Jalan menuju lokasi Ketep Pass ini cukup lancar walau sedang libur tahunan. Jalanannya pun nyaman walaupun sejak masuk Kecamatan Sawangan jalan terus menanjak.

Sepanjang perjalanan, mataku disuguhi perkampungan lereng Merapi di daerah Magelang dan warna hijau sawah subur yang mendominasi. Cuaca siang itu sangat-sangat bersahabat. Tidak panas, sedikit mendung, tetapi tidak turun hujan. Sejak beberapa kilo meter sebelum tiba di lokasi, hawa dingin dan udara segar khas pegunungan sudah memenuhi paru-paru saya. Inilah yang saya rindukan. Sejuk dinginnya udara pegunungan yang seakan membersihkan paru-paru dari timbunan polusi yang kuhirup selama ini.

Setibanya di Ketep Pass, mobil dan motor dengan plat dari luar kota tampak berjejer memenuhi lahan parkir di sekitar pintu masuk. Wajar soalnya ini memang long weekend, jadi mungkin ada banyak orang dari luar kota yang rindu hawa dingin dan segar seperti saya. Dengan mengantri tidak begitu lama, saya pun mendapatkan tiket masuk dengan biaya harga yang cukup affordable. Hanya Rp 12.000,- untuk tiket orang dewasa saat weekend atau libur nasional. Dengan membayar tiket tersebut kita sudah dapet asuransi dan juga free parkir. Murah kan?


Saya dan Dhimas lalu menuju lokasi pertama yang ada diujung selatan. Seperti tempat wisata di dataran tinggi lainnya. Tempat ini disediakan untuk melihat pemandangan kota di bawah kaki Gunung Merapi. Tempatnya sendiri lebih seperti balkon. Di sini kita bisa melihat suasana Kabupaten Magelang, tepatnya Kecamatan Sawangan, Dukun, dan Muntilan dari atas. Warna hijau persawahan masih mendominasi ketiga kecamatan tersebut sehingga dari atas warna hijau tersaji sejauh mata kita memandang! Sayangnya, siang itu tempat ini ramai sehingga saya kurang nyaman dan memilih untuk menyusuri setiap sudut Ketep Pass yang lain.

Kaki kami berhenti di deretan warung kopi yang pastinya tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga jagung, mendoan, mie, dan aneka kudapan lainnya. Sebelum memutuskan untuk mampir di kedai yang mana, saya terlebih dulu memotret jejeran warung kopi tersebut. Di sini suasananya tidak terlalu ramai, jadi saya pun tertarik untuk berhenti dan menikmati secangkir kopi serta mendoan di warung yang berada di tengah deretan warung lainnya. Saya memilih duduk di ujung belakang dengan  pemandangan lepas sisi lain kehidupan bawah kaki Gunung Merapi.



Hawa dingin, hembusan angin yang sepoi-sepoi, secangkir kopi, dan sepiring mendoan hangat menjadi teman untuk obrolan kami berdua siang itu. Beneran deh, saya seneng banget siang itu soalnya benar-benar lepas dari gadget untuk beberapa saat dan bisa fokus ngobrolin banyak hal dengan partner saya ini. Meskipun kopinya kemanisan, tapi nggak masalah hitung-hitung untuk mempermanis suasana, iya kan?

Saat saya istirahat di warung ini, saya juga menyempatkan diri untuk ngobrol dengan penjualnya yang tidak lain seorang ibu paruh baya dan bertempat tinggal tidak jauh dari tempat wisata ini. Obrolan saya dengan sang ibu hanya obrolan ringan, namun sangat menyejukkan hati saya. Dari obrolan itu, saya tahu kalau sang ibu membuka warung ini sekitar jam 8 atau 9 pagi hingga 5 sore setiap hari. Sayang sekali saya lupa bertanya siapa namanya, jadi kami ngobrol ngalor ngidul tapi nggak ngerti nama satu sama lain. Sang ibu melanjutkan ceritanya, kalau kondisi Ketep Pass saat ini cukup ramai sehingga setidaknya dia bisa buka warung setiap hari. Katanya, alhamdulillah setiap hari selalu ada pembeli. Saya cuma tersenyum dengan hati bungah karena momen seperti ini membuat saya semakin sadar kalau harus selalu bersyukur atas kondisi apapun.


Setelah obrolan bersama ibu pemilik warung selesai, saya kemudian menghabiskan secangkir kopi yang sudah kupesan. Sambil ngobrol dan ngopi, sesekali saya mengudap mendoan yang hangat dan gurih dengan paduan cabe rawit pedas. Sesekali saya juga memotret suasana sekitar warung tempat saya duduk. Sekitar pukul 1 siang, saya dan Dhimas memutuskan untuk jalan-jalan lagi. Sebelum meninggalkan warung tersebut, kami membayar secangkir kopi, segelas teh, dan sepiring mendoan hanya seharga Rp 14.000,- saja! Ini mah liburan super ngirit ya!

Karena sudah jam 1 lebih, saya cuma jalan-jalan tidak terlalu jauh sambil mengabadikan berbagai momen yang menarik perhatian. Sebelum menuju mushola, saya sempatkan untuk melihat pemandangan hijaunya lereng Merapi dari atas lagi. Tidak lupa saya melakukannya sambil menghirup udara segar itu dalam-dalam. Hawa siang itu semakin dingin, kabut yang tadi tipis kian menebal dan bergerak cepat. Ini pemandangan magic yang nggak bakal saya dapetin di kota. Saya tersenyum sambil mencoba mengabadikan gerak kabut itu dengan kamera ponsel.




Perjalanan siang itu kami akhiri dengan memotret suasana mirip pasar di depan pintu masuk Ketep Pass. Banyak sayuran khas pegunungan yang tumbuh di sekitar lokasi dan kemudian diperjualbelikan di sana. Jujur, saya pengen beli, tapi berhubung kost-kost an nggak ada dapur, saya pun mengurungkan niat.


Dalam perjalanan pulang, perasaan relaks dan bahagia masih memenuhi diriku. Setelah lebih 5 tahun tidak mengunjungi tempat ini, saya seperti melihat hidup yang sesungguhnya yaitu, perubahan. 5 tahun silam, Ketep Pass tak semenarik ini, walaupun jelas lebih nyaman karena masih jauh lebih sepi. Kalau sekarang, fasilitasnya semakin lengkap dan penjaja makanan pun banyak, meskipun masalah sampah masih perlu diperhatikan lagi. Beberapa hal yang tak berubah dari tempat ini yaitu suasana melankolis yang tercipta dari dinginnya udara di sana, gerak kabut, potret masyarakat sekitar yang seolah menunjukkan makna bahagia itu sederhana, dan udara bersih yang membuat pikiranku jadi lebih waras. Saya benar-benar merasa nggak rugi meluangkan waktu untuk short getaway ini. Sejak kedatanganku kemarin, saya sudah bilang ke diri sendiri kalau suatu hari nanti punya rejeki, saya ingin membuat villa kecil di sana. Kapan-kapan kalau saya penat di kota, saya bakalan pulang ke sana. Magelang memang selalu jadi pilihan tepat untuk pulang.

You Might Also Like

13 komentar

  1. Daerah2 kyk gini asal jangan dieskploitasi aja pasti bakalan bertahan keasriannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ekploitasi mungkin gak bisa dihindari ya mbak, yang penting sih tetep memerhatikan unsur lingkungannya hihi Jadi take n give dengan alam ;)

      Hapus
  2. keren nih. jadi kangen. jadi inget........ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah kesini mas? Hawa dingin dan nyamannya itu lho mas. Hihi

      Hapus
  3. Dulu pernah kemari waktu kuliah, tetanggaku di Lombok ada yg kampungnya di Muntilan trus diajak kemari. Tapi dulu masih sepi, bagus banget berasa
    lagi di resort.. sekarang kok kayaknya rada berantakan ya? Eman banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku orang Muntilan Lho. Hahaha. Kayanya ini karena kemarin rame mbak. Tapi soal sampah kesadaran pengunjung untuk buang sampah di tempatnya masih minim banget

      Hapus
  4. Emang Jogja dan sekitarnya selalu punya cara untuk merindu. jadi pengen kesana...


    www.nopipon.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hehe apalagi spot wisata sekarang makin banyak yah!

      Hapus
  5. Halo kakak
    Salam kenal ya :)
    Aku sudah ke Jogja kesekian kalinya tapi belum pernah ke daerah ini.
    Cuacanya sejuk kali ya kak :)
    Next ke Jogja lagi,main kesini ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya di sini sejuk banget. Hehe bisa keliatan kan sejuknya gimana di foto aja kabutnya keliatan banget gitu hehe

      Hapus
  6. pernah ke Ketep sama anak anak mbak, habisnya mampir ke kebun stroberi. asik suasananya, adem dan tenang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya suasana ademnya itu relaxing banget emang

      Hapus

Flickr Images