#ErnysJournalTravel : Lombok Trip Day 2, Sehari di Gili Terawangan

By Erny Kurniawati - 17.10.00

Jam setengah 6 pagi suasana Lombok masih gelap. Perlahan saya membuka mata sambil sesekali meluruskan tubuh yang terasa pegal di sana-sini. Selang 5 menit saya bangun dan beranjak ke kamar mandi. Hari ini, agenda kami adalah menyebrang ke Pulau Gili Terawangan.


Baca juga: #ErnysJournalTravel : Lombok Trip Day 1 Taman Narmada dan Banyumulek

Sekitar pukul 08.00 WITA, kami sudah selesai sarapan di restoran hotel dan bersiap memulai perjalanan ke Gili Trawangan. Perjalanan dari hotel di daerah Pantai Senggigi sampai pelabuhan Teluk Nare memakan waktu sekitar 30 menit. Setibanya di pelabuhan ini, pihak travel agent langsung bergegas mengarahkan kami untuk naik speed boat yang mengantar ke Pulau Gili Trawangan. Setiap speed boat memuat kurang lebih 13 orang dewasa dengan durasi perjalanan kurang lebih 20 menit.


Walau belum sampai Gili, tapi pemandangan Teluk Nare pagi itu sudah mulai memanjakan mata saya. Apalagi pemandangan ini didukung dengan kondisi pelabuhan yang bersih dan udara segar. Saya yang awalnya masih nggak begitu bersemangat karena kecapekan pun jadi on fire. Selama perjalanan dengan speed boat, mata saya terus menikmati keindahan alam ini. Riak-riak air laut, perbukitan, dan deru mesin speed boat itu memberi ketenangan sendiri. 


Sesaat kemudian, Pulau Gili Trawangan sudah tampak di depan mata. Air yang tadinya berwarna biru pekat kehijauan mulai berubah menjadi biru cerah, bergradasi, dan bening. Perubahan warna air itu menandakan kami sudah sampai di salah satu gugusan Kepulauan Gili. Saya pun langsung sumringah saat turun dari speed boat dan menginjakkan kaki di atas pasir putih bersih dengan air biru muda bening. Sejauh mata memandang, Gili Trawangan tampak sepi dan bersih. Senyum lebar langsung menghiasi wajah. Nggak kuat lagi rasanya untuk menahan diri untuk tidak mengabadikan pemandangan yang super seger di depan mata dengan kamera ponsel. Hitung-hitung mumpung sepi, jadi saya bisa sepuasnya membidik gambar dari sudut sana-sini.

Setelah puas memotret beberapa spot yang menarik di mata, saya langsung bersiap untuk ikut kapal ke spot snorkeling. Sampai di atas kapal kami diajarin memakai kacamata free dive dan alat napas melalui mulut. Walau sudah di atas kapal dan sudah menyimak penjelasan tentang keamanan snorkeling, saya sebenarnya masih ragu untuk ikutan nyebur ke laut. Maklum, saya punya ketakutan karena imajinasi aneh tentang hiu. Bahkan gara-gara itu saya nggak bisa renang sekalipun di kolam renang. Baru November kemarin saya bisa renang itu pun dengan usaha susah payah mencoba melawan ketakutan yang diciptakan oleh imajinasi itu. 

Kapal kayu yang digunakan menuju spot snorkeling
Nggak terlalu jauh dari bibir pantai, kami sudah sampai di spot snorkeling pertama. Semua diberi aba-aba untuk nyebur ke laut yang dalamnya nggak seberapa. Saya yang masih ragu, berulang kali mensugestikan diri untuk berani terjun. Begitu loncat dari kapal, saya langsung megap-megap panik. Sumpah saya panik sekali sampai sesak nafas. Saya bingung bagaimana caranya napas. Semua teknik yang diajarkan selama perjalanan ke spot ini tiba-tiba terlupakan. Ah, panik itu beneran bisa membunuh orang ya! Saking paniknya saya sampai mau nangis minta dibantu kembali ke kapal aja. Untungnya, salah satu atasan saya di kantor ngajarin teknik nenangin diri dan nggak mengabulkan keinginan saya untuk kembali ke kapal. Coba saya kembali ke kapal, saya nggak bakal dapet pengalaman lihat biota laut di Lombok yang indah ini secara langsung dengan mata kepala sendiri!

Drama karena panik
Teknik menenangkan diri itu terjadi berfungsi banget untuk membantu saya jadi lebih relaks. Setiap ketakutan tenggelam muncul di pikiran, saya langsung mengubah posisi mengapung telentang. Sesaat kemudian, saya tenang dan bisa gabung sama teman-teman lainnya untuk snorkeling menikmati keindahan biota laut. Ikan-ikan aneka warna seolah nggak terganggu dengan kehadiran kami. Mereka tetap dengan cantiknya berenang kesana kemari. Saya semakin ketagihan melihat perpaduan terumbu karang dan aneka warna ikan di depan mata. 

Di spot kedua, kami snorkeling dengan kedalaman laut yang berbeda. Kalau sebelumnya saya masih bisa menginjak karang untuk berdiri. Nah, di sini tidak. Mungkin kedalamannya dua kali lipat dari spot sebelumnya. Di sini, ikan-ikan warna warni lebih sedikit dan karena lebih dalam air tampak lebih biru pekat. Yang membedakan spot pertama dengan kedua yaitu isi biota lautnya. Spot kedua menjadi tempat hidup penyu. Sayang sekali mata minus membuat saya nggak bisa lihat penyu dengan jelas. Apalgi warna cangkang penyu sama dengan warna karang. 

Di spot kedua juga, saya ngalamin hal konyol yaitu kecapekan! Sebenarnya saya sudah nggak panik dan bisa napas dengan mulut dengan mudah, tapi tiba-tiba saya membayangkan ikan hiu dateng. Lagi-lagi karena imajinasi, saya ketakutan dan pengen naik ke kapal. Kali ini saya diam, tapi berenang dengan pasti menuju kapal. Nasibku kurang mulus, arus laut membesar dan semakin jauh saya renang, semakin nggak sampai-sampai di kapal. Sinyal-sinyal panik makin besar gara-gara kacamata free dive dan alat bantu napas saya lepas. Akhirnya saya teriak deh minta tolong karena udah lemas dan mulai panik. Ketakutan dan panik bikin rasa lelah berkali lipat, sampai-sampai mau naik ke kapal aja rasanya berat banget ini badan. 

Kepanikan, ketakutan, dan konyolnya imajinasi saat snorkeling kemarin nggak mengurangi serunya menikmati biota laut di Gili Trawangan. Misal diajak snorkeling lagi, saya pasti mau kok. 

Mencoba cuek dengan sinar matahari

Setelah snorkeling, kami kembali ke Pulau Gili Trawangan lagi. Berhubung hari Jumat, teman-teman laki-laki mandi lebih dulu untuk segera ke masjid. Sementara saya masih santa-santai sok berjemur di pinggir pantai sambil nikmatin hembusan angin yang sepoi-sepoi. Walaupun sudah menjelang tengah hari, entah kenapa matahari di Pantai Gili Trawangan ini nggak begitu panas menyengat. Makanya, saya dengan PD-nya nyobain berjemur ala bule. Untuk urusan paparan sinar UV, saya serahin ke sun block dari Vitacreme B12. 
Habis berjemur, saya main air lagi. Air di Pantai Gili Trawangan ini dingin sekali. Setiap kali mengenai kulit rasanya ngasih sensasi segar yang luar biasa. Tentunya sambil main air, saya nggak lupa untuk tetep foto-foto donk ya! Berhubung saya selama di Gili Trawangan nggak bawa kamera DSLR, jadi semua foto ini mengandalkan kamera ASUS ZenFone 2 dan iPhone temen. Tapi, lumayan juga ya kualitas gambarnya!

Agenda selanjutnya setelah mandi, kami keliling Pulau Gili Trawangan dengan bersepeda. Buat temen-temen yang belum tahu, Gili Trawangan ini termasuk dalam 4 pulau di Indonesia yang bebas polusi. Di sini, kendaraan bermotor tidak diperbolehkan. Paling pol motor listrik. Jadi nggak heran kalau udaranya seger banget. 

Nah, untuk agenda bersepeda ini kantor saya bikin games ala-ala Running Man. Jadinya seru dan gemes. Walaupun nggak menang, cuma sensasi keliling Pulau Gili Trawangan dengan sepeda jadi kenangan tersendiri. Saya bersama 4 teman segrup lainnya menjelajah dari sisi selatan sampai Hotel Ombak Sunset yang kalau nggak salah berada diujung utara-barat di Pulau Gili Trawangan. Di sini kami beristirahat sejenak sambil berfoto di spot ikonik ini. Istilahnya, kamu belum ke Lombok kalau belum foto sama ayunan Ombak Sunset! Setuju, kan?

Berhubung air sudah mulai pasang dan saya nggak ada baju ganti lagi, jadilah saya nggak sampai mencoba ayunan tersebut. Supaya nggak kecewa, saya tetep numpang eksis dengan foto di depan ayunan itu. Kalau nggak bisa foto sambil ayunan, ya minimal ayunan itu jadi background lah! Hehe. 


Suasana di Ombak Sunset Resort & Hotel

Dari Ombak Sunset, saya bareng temen-temen lainnya balik lagi ke tempat kumpul sebelumnya. Jalan pulang ini berbeda dengan jalan berangkat tadi. Kali ini kami melewati padang rumput dan rumah-rumah warga. Seru banget walau pun setiap melewati rerumputan rasanya butuh tenaga lebih untuk mengayuh sepeda. Belum lagi jalan becek dan tai kuda di mana-mana. Meski begitu, memilih jalan masuk ke perkampungan dan melewati padang rumput membuat saya melihat sudut lain dari Pulau Gili Trawangan.

Menikmati Gili Trawangan dengan snorkeling, berjemur, main di pantai, dan bersepeda memang jadi pilihan yang tepat. Pulau yang termasuk paling bebas polusi di Indonesia ini layak untuk dijadikan destinasi wisata wajib kalau kamu mau tahu tempat eksotis selain Bali. Rangkuman keseruan selama di Gili Trawangan bisa kamu cek di Instagram @ernykurnia14 ya! Temen-temen pernah ke Gili Trawangan juga? Gimana menurut kalian?

  • Share:

You Might Also Like

11 komentar

  1. Sukkaa 😍 Gili trawangan enaak banget bersepeda kemana2 dari ujung keujung jalan ketemu pantai.. liat post Erny jadi kepingin kesana lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa aku aja belum puas nih. Pengennya nginep di Gili terus sepedaan lagi. Seruuu huhu.

      Hapus
  2. Cakep banget lokasi Ombak Sunset ya.. Aku belum pernah nginap di daerah Gili, cuma nginap di daerah Kuta..next time pengen melipir kesini ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah gak ke pantai kuta. Ke sana sih tp gak main air nya krn kelelahan. Cuma lunch terus balik... iya harus ke sini kak Dew

      Hapus
  3. Dua kali ke Lombok, belum pernah ke Kep Gili. Mungkin kali ketiga ke sana, akan diusahain mampir atau nginep di Gili. Thanks for sharing, mbak. Foto-fotonya bikin mupeng :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang banget. tapi pasti puas ya ngiterin Lomboknya? Iya mbak, harus mampir ke Gili. Aku masih penasaran dengan 2 gili lainnya hihi :)

      Hapus
  4. Monmaap, kok posenya Ibu bikin kzl semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan liburan ala KOPER wakakaka kudu ngehe kaya makaroni

      Hapus
  5. Erny, tulisannya bikin kangen Lombok hehehhe... Aku lebih suka di Gili air, lebih sepi dari Gili trawangan dan banyak juga spot menarik buat snorkeling. Bakal betah deh nginep berhari-hari di Gili air hahaha :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi asyik bikin orang kangen. Mbak Minda Gili Air itu yang biasa dipakai hanimun ya? Ahh, pengen tapi kemarin belum ke sana. Semoga next time haha barangkali pas hanimun

      Hapus