#ErnysJournalTravel : Lombok Trip Day 3 Pantai Senggigi, Sukarara, dan Sade

Hal paling males buat saya saat liburan adalah bawa pulang baju basah. That's why , saya enggan untuk main air. Hanya saja, Sabtu p...


Hal paling males buat saya saat liburan adalah bawa pulang baju basah. That's why, saya enggan untuk main air. Hanya saja, Sabtu pagi 21 Januari kemarin Pantai Senggigi tampak terlalu mempesonan untuk ditolak. Saya yang sejak malam sebelumnya sudah berniat nggak ikutan main kano pun nggak berdaya untuk menolak riak-riak Pantai Senggigi yang pagi itu memantulkan cahaya pagi dengan apiknya. Belum lagi, air yang tenang dan langit biru cerah ceria seakan mengajak saya untuk segera nyebur ke pantai. Apa boleh buat, dengan penuh semangat saya langsung bergabung dengan teman-teman kantor yang sudah lebih dulu main kano di sana. Rencana untuk nggak main air pun hilang sudah. Kapan lagi main kano di Pantai Senggigi?

Ada dua pilihan kano, khusus untuk satu orang dan dua orang. Berhubung keberanian saya main di air itu cetek, sudah pasti saya milih yang khusus untuk dua orang. Pasangan saya Almaz, dia anak Lombok asli yang sudah familiar dengan permainan ini. Jadinya, saya diajari caranya mendayung kano lengkap dengan cara memegang dayung serta cara untuk berbelok. Kurang lebih satu jam kami bermain kano, saya merasa nggak kunjung capek dan puas. Mungkin karena pemandangan di depan mata saya indah banget ya, jadi rasa capek pun sepertinya enggan datang.

Pagi itu, Pantai Senggigi memang menampilkan wujud cantiknya yang sempurna. Di sisi kanan tampak perbukitan warna hijau. Sementara sejauh mata memandang, saya dihadapkan dengan air laut yang tampak biru cantik. Ombak kecilnya menciptakan riak-riak. Belum lagi kapal-kapal nelayan mengapung di sana sini menjadi pelengkap landscape pantai ini. Langit didominasi warna biru dan putih yang lengkap dengan sinar matahari cerah, namun tidak terasa membakar kulit. Saya yang duduk di atas kano rasanya nggak ingin turun. Ingin duduk di sini terus.

Saking betahnya, saya dan Almaz baru turun dari kano saat menyadari kalau teman-teman lain sudah berkumpul di darat. Kami pun segera bergabung dan tak lama kemudian bareng-bareng jalan kaki menyusuri jalan di sepanjang Pantai Senggigi untuk kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan ini, mata saya dibuat takjub oleh cantiknya Pantai Senggigi. Kalau di tempat saya main kano tadi pasirnya berwarna gelap, maka semakin ke kiri pasir pantai menjadi putih. Airnya pun semakin jernih dan jelas bergradasi. Saya takjub terus menerus. Indonesia ini punya pemandangan alam yang cantiknya luar biasa ya!



Sepanjang perjalanan juga, saya melihat banyak warga lokal yang memancing di sepanjang pantai. Semakin dekat dengan hotel, saya menemukan semacam pasar ikan kecil milik nelayan. Ikan lautnya tampak segar dan besar-besar. 

Setibanya di hotel, saya segera bergegas untuk mandi dan berkemas. Kami akan check out siang itu juga dan langsung menuju pusat kain tenun di Desa Sukarara (re: Sukarare). Saya sempat kecewa karena pas ke sini nggak bawa uang cash, sementara kartu ATM saya nggak bisa untuk debit. Saya pun nggak beli kain tenun Lombok yang terkenal itu. 



Sebagai ganti rasa kecewa, saya nyempetin untuk mencoba menenun kain. Di sini kami dikasih tahu kalau gadis setempat harus bisa menenun satu kain dulu sebelum dipinang. Kalau belum bisa menenun sampai satu kain, ya belum layak kawin! Wah, tantangan yang nggak mudah mengingat nenun dua baris saja saya pusing. Apalagi satu kain!

Sekitar pukul 11.30 WITA kami sudah masuk bis untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Sade. Desa wisata yang dihuni oleh Suku Sasak ini menawarkan wajah lain dari Lombok. Di desa ini, seluruh warganya masih satu trah. Jumlah warga yang tinggal di sini kurang lebih 700 orang. Semuanya menjunjung tinggi adat Suku Sasak dalam kehidupan sehari-harinya. 

Setibanya kami di desa tersebut, kami disuguhi pertunjukan tarian asli Suku Sasak. Ada 4 tarian yang saya saksikan. Semua tariannya mengingatkan saya dengan Bali. Mungkin karena musiknya yang masih terpengaruh Bali ya. Keempat tarian yang disuguhkan untuk kami punya makna filosofis. Rasanya seneng nonton pertunjukkan yang punya makna jelas begini. 



Setelah tarian keempat selesai, kami mulai menjelajahi Desa Sade. Perjalanan kami menyusuri desa ini membuat saya melihat Suku Sasak lebih dekat. Keunikan yang paling terlihat adalah tempat tinggal mereka. Rumah Suku Sasak ini unik karena dibangun tanpa semen. Ditambah lagi dengan bentuk bangunan dan cara mereka membersihkan rumah. Iya, mereka ngepel lantai rumah dengan kotoran kerbau yang masih fresh setiap seminggu satu sampai tiga kali. Meskipun pakai kotoran kerbau, tapi nggak bau sama sekali lantainya!

Nggak hanya melihat rumah Suku Sasak yang unik, kami juga melihat langsung bagaimana kehidupan warga desa ini dengan lebih dekat. Hampir setiap rumah yang kami lewati menjual aneka macam pernak-pernik khas Lombok, khususnya Desa Sade. Harga souvenir yang ditawarkan di sini juga murah-murah sekali, plus bisa ditawar! Hasilnya, banyak temen-temen yang kalap. Sementara saya tetap stay cool cuma beli satu pouch saja. 


Untuk mengelilingi Desa Sade ini kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sebenarnya, luas dari lokasi yang kami kelilingi tidak seberapa, jadi sedikit lama karena kami sesekali berhenti untuk berinteraksi dengan penduduk lokal maupun mendengarkan penjelasan dari tour guide

Oh iya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Desa Sade ini masih menjunjung tinggi adat istiadat dan tradisi leluhur mereka. Salah satunya adat untuk menyunting wanita dengan cara menculiknya. Di sini nggak ada tradisi lamaran karena menurut mereka justru nggak sopan. Kalau ingin meminang wanita ya jalan satu-satunya dengan cara menculiknya. Tapi pasti ada tata caranya, jadi nggak asal culik begitu saja. 

Perjalanan hari terakhir di Lombok ini seru banget walau melelahkan. Saya sudah kehabisan tenaga saat tiba di destinasi terakhir yaitu Pantai Kuta. Berhubung di sini kami makan siang, saya pun benar-benar cuma makan dan memilih untuk nggak jalan-jalan. Sayang sih, tapi capeknya badan nggak bisa disembunyikan. Ketimbang tepar selama perjalanan balik ke Jogja, saya pun dengan berat hati tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat langsung Pantai Kuta yang terkenal dengan bentuk pasir uniknya itu.

Ah, nggak masalah justru ini jadi alasan saya balik ke Lombok lagi kan?

Baca juga: #ErnysJournalTravel: Lombok Trip Day 1 Taman Narmada & Banyumulek
Baca juga: #ErnysJournalTravel: Lombok Trip Day 2 Sehari di Gili Trawangan




You Might Also Like

9 komentar

  1. Beruntungnya bisa ke Desa Sade disuguhi tarian khas Suku Sasak, kalo aku nggak sempat lihat pas mampir ke Sade :D Tapi, cukup kalap saat disuguhi kain tenun cakep-cakep~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Katanya emang mesti dateng pas waktunya atau udah request tari itu hihi. Bener, kalap kalap ya! Aku nyesel banget nggak bawa uang cash huhu

      Hapus
  2. Lombook memang sangat keren mbak ernykurnia terutama wisata lautnya. eh btw kain tenun itu berapa ya harganya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, itu wisata lautnya ngebetahin mata banget yah! Sampe sy yg nggak gitu suka pantai aja ikhlas panas2an haha.Harga kainnya variatif. Ukurannya murah sih. Untuk yang kualitas medium bisa 120-300 rb. Yang lebih bagus 500 an ke atas juga ada hihi

      Hapus
  3. Salam kenal...tulisan menarik..sy banyak belajar dari blog ini..mohon kesediaan bertandang dan meninggalkan jejak komentar pada tulisan saya ini terima kasih http://charlesemanueld.blogspot.co.id/2017/01/teman-terbaik-membidani-ekspresi-diri.html

    BalasHapus
  4. Thanks udh brlibur k Lombok... Boleh mnta no kontak ?? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Mas, silakan kontak e-mail yah!

      Hapus
  5. ada aduan tarung pakek rotan juga mbak ... kalau di rumahku namanya ojung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya bener, saya juga lihat ada tarung itu pakai rotan hehe. Wah kaya culture banget ya Mas.

      Hapus

Flickr Images