La La Land, Tentang Membangun Mimpi Bersama

Film genre drama jarang menarik perhatianku. Tapi kali ini saya tertarik soalnya beberapa temen yang punya pandangan tentang film sebelas ...

Film genre drama jarang menarik perhatianku. Tapi kali ini saya tertarik soalnya beberapa temen yang punya pandangan tentang film sebelas dua belas denganku bilang film ini bagus. Saya pun makin excited, pas diajakin nonton sama Dhimas Senin 16 Januari kemarin. Tanpa ragu, saya langsung mengajukan La La Land untuk kita tonton. Dan, rupanya kami nggak salah pilih. Film ini beneran worth to watch!
Kami berdua masuk ke bioskop dengan rasa penasaran yang luar biasa. Apalagi saat lihat antrean yang magrib tadi sepi dan menjelang La La Land diputar pukul 20.30 WIB antrean jadi mengular. Kami hanya bisa senyum-senyum makin mantap dan kadar excited-nya meningkat drastis. Sekitar 10 menit setelah kami masuk ke ruang teater, La La Land pun dimulai dengan dance yang diiringi lagu Another Day of Sun.

Dari opening saja saya sudah dibuat terpukau. Kami berdua kembali mesem-mesem soalnya scene pembuka tersebut bener-bener memikat dengan sinematografi dan koreografi yang keren abis. Buat orang yang jarang nonton drama musikal seperti saya, mungkin sebagian ada yang punya pikiran sama denganku. Males nonton drama musikal karena ceritanya kurang jelas dan kebanyakan nanyi atau dancing. Tapi nggak dengan film ini. Menurutku ceritanya tetap clear dan walau sebenernya cheesy. Yang nggak kalah penting, nggak kayak FTV. Meaning-nya dapet, nyentuh hatinya apalagi.

sumber
Soal cerita, La La Land ini bercerita tentang sepasang kekasih yang sama-sama passionate dengan mimpi yang mereka cita-citakan. Keduanya bersama-sama saling menyemangati, saling mendukung satu sama lain, dan saling meyakinkan kalau mimpi mereka tidak salah. Di bagian ini, rasanya cerita film ini deket banget sama cerita hidup saya sendiri. Sepanjang ceritanya, saya banyak senyum dan haru karena perjuangan mereka meraih mimpi. Konflik yang dihadirkan dalam cerita La La Land pun begitu nyata dan natural. Selalu ada yang dikorbankan dalam sebuah perjuangan mewujudkan mimpi, misalnya waktu bersama yang tak lagi sebanyak dulu. Dan diakui atau tidak, masalah ini pula yang seringkali menguji pasangan untuk bisa terus bersama atau memutuskan untuk berpisah.

Sepanjang film, saya terpukau dengan permainan sinematografi yang walau membuat mata saya lelah, namun sangat cantik. Belum lagi dipadu dengan musik yang langsung membuat saya jatuh cinta. Bahkan beberapa lagunya membuat saya tanpa sadar ikutan bergoyang. Iya, saya paling sulit untuk diam apalagi pas denger musik beat yang seolah memanggil-manggil saya mengajak untuk ikut menggerakkan tubuh.

sumber
Saya masih terus terpukau sampai konflik antara Sebastian dan Mia membuat saya terdiam sambil berpikir. Pada konflik ini, Sebastian yang sebelumnya kekeuh pada pendiriannya untuk bermusik pada aliran jazz klasik akhirnya berubah pikiran. Alasannya, agar dia punya pekerjaan tetap seperti idaman orang tua Mia dan sebagai jalan untuk mewujudkan mimpinya membangun bar dengan aliran musik yang diidamkannya. Pilihan hidup yang nggak terlalu menyenangkan, tapi sangat logis dan hidup!

Pilihan tersebut membuat Sebastian terpaksa tak punya banyak waktu lagi untuk mendukung Mia mewujudkan mimpinya seintens dulu. Hubungan mereka diuji di sini. Sebastian tampak begitu sibuk dengan agenda band-nya. Melihat kesuksesan Sebastian, Mia tampak ragu dengan jalan hidup yang dipilihnya. Mia pun mulai mempertanyakan mimpinya. Benarkah mimpi itu bisa jadi kenyataan? Atau kegagalan demi kegagalan yang ia alami adalah sinyal untuk berhenti mengejar mimpi itu? Lagi-lagi di bagian ini, mata saya terasa hangat dan sesak. Saya cuma ingat kalau ada banyak mimpi yang membuat saya merasa seperti jatuh bangun. Dilempar. Dihempaskan. Tapi terlalu sayang untuk menyerah.

Film yang diawali dengan musik beat ini nggak berhenti di situ saja menyentil sisi melankolisku. Adegan demi adegan terus berlanjut sampai pada beberapa menit terakhir. Plot twist di akhir film ini benar-benar membuat saya patah hati sepatah-patahnya. Bahkan, saat saya menulis postingan ini sambil mendengarkan soundtrack-nya via Spotify, hati saya ngilu. Musik yang nge-beat itu nggak lagi menularkan aura ceria. Mendengar semua lagunya bikin hati saya makin perih. Seingat saya, ini pertama kali saya nonton film sampai sepatah hati ini. Dengerin soundtrack lagunya saja saya kayak mau nangis. Kalau kamu pernah jatuh cinta sama orang lalu patah hati, nah tanpa melebih-lebihkan, rasanya kurang lebih seperti itu.

sumber
Tulisan ini memang bukan review film yang komprehensif. Saya menuliskannya karena secara personal saya sangat suka dengan jalan cerita dan cara mengemas ceritanya. Di akhir tulisan ini, saya cuma mau berpesan sih kalau coba deh tonton film ini bareng pasangan yang selama ini sudah kamu ajak jatuh bangun bersama untuk membangun mimpi. Pasti setelah itu temen-temen bakalan ngerasa bersyukur banget masih bisa bersama sampai titik saat ini. Atau sesederhana setelah tulisan The End muncul di layar bioskop, pasanganmu masih ada disampingmu untuk nemenin kamu mewujudkan mimpi-mimpi lainnya lagi. Last but not least, jangan lupa berdoa untuk terus bisa bersama yang tersayang mewujudkan impian-impianmu ya!

You Might Also Like

9 komentar

  1. Banyak banget yang kasih review positif untuk film ini. Jadi penasaran. :D

    Kalo bahasannya tentang mimpi dan passion kayaknya emang selalu menarik untuk disimak ya Mba. *mau dengerin soundtracknya duluu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau dari aku, 9/10 deh :) ceritanya simple, tapi pengemasannya emang ciamik mbak. Sok, dengerin lagunya dulu hihihi.... bagus mbak. :)

      Hapus
  2. Sama aku juga pnasaran tiap review yang aku baca gaada yang bilang gak suka atau komen negatif gitu hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi paling negatifnya dari aku, film ini kurang rekomend kalau ditonton saat kita lelah ya. Soalnya sinematografinya keren gerak cepet dan bikin mata lelah hihi. Enakan pas kita selow gitu nontonnya.

      Hapus
  3. Makin penasaraaaaaaan. Kenapa bisa-bisanya film ini menggondol 7 golden globes padahal katanya filmnya bukan film berat2 ala2 pemenang award. >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, barusan aku baca berita dia udah gondol 14 award lhoo. Tapi aku yg bukan pecinta drama musikal, ini emang keren deh. Mbak tonton deh sama suami cuss agendakan! :D

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Setuju banget mbak sama ending ceritanya yang bikin sesek plus ga nyangka tapi realistis. Sayangnya kok aku kurang menghayati filmnya ya mbak erny ? Apa karna aku belum pernah ngerasain konflik kayak di filmnya atau karna aku ga ada pasangan ? hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena ini deh, sinematografinya haha. Soalnya dia emang canggih banget tuh sinematografinya, but in the other hand melelahkan untuk mata. Aku pun awalnya kurang menghayati. Hihi. Belum ada pasangan, bisa juga haha

      Hapus

Flickr Images