Adapted Movie from Long Way to Home, LION

By Erny Kurniawati - 17.44.00

Setelah nonton La La Land Januari kemarin, akhirnya awal Maret kemarin saya nonton film lagi. Kali ini, saya nonton film berjudul Lion. Nggak ada ekspektasi apapun karena saya memang nggak mencari tahu review-nya terlebih dulu. Tapi tanpa disangka, film yang secara impulsif kami pilih ini justru pas dengan selera saya. Apalagi, film ini tentang kisah nyata.

Mulai detik pertama film Lion dimulai, hati saya sedikit ngilu karena latar musik yang berhasil menciptakan nuansa kesedihan. Belum lagi, mata saya disuguhi pemandangan Tasmania dan India dengan sudut pengambilan ala bird eye yang memanjakan mata. Suara dan gambar pada awal film Lion ini membuat saya malam itu optimis kalau film ini punya cerita bagus dan pastinya layak untuk saya share reviewnya di sini

Dan benar sekali. Sejak tokoh utama muncul saya sudah dilingkupi perasaan sedih yang seolah-olah bikin hati ngilu, tapi air mata nggak kunjung menetes juga. Temen-temen pasti pernah mengalami masa-masa haru ngilu begitu. Nyesek! 

Menit-menit awal saya disuguhi oleh cerita masa kecil tokoh utama film ini, Saroo. Saroo yang kala itu masih berusia sekitar 5 tahun seolah tak terpisahkan dari kakaknya, Guddu. Sebagai anak pertama, Guddu punya tanggung jawab membantu ibunya mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari mereka. Entah dengan mengambil batu bara dari kereta barang atau apapun asal bisa ditukar jadi uang maupun makanan yang tidak seberapa banyak. Sampai di sini, saya sudah trenyuh luar biasa. Melihat anak-anak di bawah umur bekerja dengan begitu kerasnya demi bisa makan yang cuma seadanya sekali. 

Kedekatan antara Saroo dengan Guddu membuat keduanya selalu bersama. Namun, kedekatan itu terpaksa terputus ketika Saroo tertidur di dalam gerbong kereta api saat menunggu sang kakak kembali dari mencari uang. Tanpa disadari, kereta itu membawa Saroo menjauh dari Khandwa, kota kelahiran dan tempat dirinya tumbuh selama ini. Dalam ketakutan dan kepasrahan, Saroo kecil tiba di Kalkuta, kota yang jauh lebih ramai dari Khandwa dan jaraknya kurang lebih dua hari dua malam dari stasiun tempat terakhir ia bersama Guddu. 

Terbawa kereta hingga ribuan kilo meter dari kota tempat tinggalnya, tanpa kemampuan berbahasa Hindi, dan tanpa tahu nama daerahnya, Saroo kecil benar-benar hilang. Scene demi scene saat Saroo berjuang hidup di Kalkuta membuat saya berulang kali nyaris menangis. Bahkan sampai pada scene Saroo tiba di Australia untuk tinggal bersama orang tua angkatnya, saya tetap terharu.

Jalan cerita film dari adaptasi novel Long Way to Home ini sebenarnya sangat sederhana. Ada flashback di sana-sini, namun tetap mudah untuk dipahami. Narasi detil dari sudut pandang Saroo lah yang membuat film ini begitu menyentuh dan membuat saya nggak sadar menghabiskan menit demi menit mengikuti setiap scene dengan perasaan ngilu. Sampai tahu-tahu sudah masuk ke scene 20 tahun kemudian.

Tak kalah menarik dengan konflik Saroo kecil, Saroo dewasa juga punya konflik yang menyentuh untuk saya. Lebih dari 20 tahun setelah terpisah dari keluarganya di Khandwa, Saroo kembali teringat tentang rumah dan cerita masa kecilnya. Ingatan tersebut mulai mengganggu hidupnya sejak tanpa sengaja Saroo melihat makanan khas daerah asalnya, Jalebis, di flat teman kuliahnya yang berasal dari India.

Jalebis membuat ingatannya pada Guddu dan rumah semakin menjadi. Dari sinilah pencarian Saroo dimulai. Saroo pun mencari rumahnya di Khandwa dengan bantuan google maps. Dengan memanfaatkan ingatan buram masa kecil, Saroo nyaris menyerah untuk menemukan kembali rumahnya. Bisa dibilang ia depresi. Terlebih lagi bayangan Guddu sering datang menghampirinya. Potret masa kecil dan dewasanya membuat saya sebagai penonton hanyut dalam perasaan trenyuh, sebel, dan juga kalut. Dan dari sekian banyak scene, scene mencari alamat ini emang memusingkan plus bikin geregetan.


Dari sudut pandangku, film ini berhasil membuat saya bingung menerjemahkan perasaan yang ada. Saya begitu larut dengan jalan cerita. Terlebih lagi narasi film ini sederhana, mudah dipahami, tetapi detil. Buatku, film ini layak temen-temen tonton karena bakal membuka mata kita tentang bagaimana kejamnya hidup, tapi juga bagaimana manis takdir Tuhan.

Kalau kamu penasaran endingnya, mending tonton sendiri. Sampai di sini, saya masih nggak menemukan cara untuk menceritakan film ini dengan apik lewat tulisan. Bahkan emosi dari review ini menurutku masih jauh dari emosi yang saya rasakan saat nonton film ini. Buat kamu yang belum nonton, segera cari DVD-nya! Kamu nggak bakal nyesel, buat temen-temen yang sudah nonton, gimana pendapat kalian?

  • Share:

You Might Also Like

6 komentar

  1. Saya juga nonton ini, bagus! Ternyata Saroo dewasa itu pemainnya Slumdog Millionare ya, nggak menyangka dia bisa se-hot itu di Lion aw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener Mbak haha. Aku nggak ngeh lho awalnya. maklum sih Slumdog kan uda film 2007an yah? jadi udah lama juga. Haha

      Hapus
  2. Film ini bagus banget!! Bener2 ngajarin kalo hasil gak akan mengkhianati usaha. Ngeliat perjuangan hidupnya Saroo pas kecil, dan ngeliat usaha dia buat ketemu lg sama ibunya. Nangis bombay pas Saroo tau kalo dia udh ga bisa ketemu lg sm Guddu huhu. Tapi ketawa lg pas liat footage Saroo yg asli wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Ros, sedihku berubah ketawa pas lihat Saroo asli wkwk. Secara semua castnya mirip kecuali doi haha.

      Hapus
  3. Aku udah nonton ini. Baguuuss filmnya. Ikatan anak sama ibu dalem ya. Walau terpisah puluhan tahun tapi tetap hatinya gak terpisah, dan Saroo berusaha nemuin ibunya lagi. Yang bikin lebih terharu lagi itu waktu orang tua angkatnya ikhlas ngelepas Saroo kembali ke Ibu kandungnya. Duuuh mrembes mili :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak... aku terharu banget itu. Apalgi pas orang tua angkat juga bilang kalau mereka sebenernya bisa punya anak tapi memilih untuk nggak demi kemanusiaan. Gila deh nggak kebayang aku

      Hapus