Noe Coffee & Kitchen

By Erny Kurniawati - 11.25.00



"My life begins after coffee." Saya sepakat banget sama quote tersebut, soalnya saya emang nggak bisa nggak minum kopi. Setiap hari saya minum satu hingga dua gelas. Sebenarnya lebih pun bisa, tapi karena alasan kesehatan saya membatasinya sehari dua gelas atau cup. Karena suka kopi, makanya saya seneng dateng ke coffee shop. Yah, walaupun untuk yang satu ini nggak setiap hari banget datengnya. Bisa tekor donk!
 

Di Jogja sendiri pilihan coffee shop ada banyak. Salah satu coffee shop yang baru saya cobain weekend kemarin adalah Noe Coffee & Kitchen. Coffee shop yang satu ini baru buka tanggal 13 Maret kemarin, jadi masih baru banget dan tentunya masih ada promo yang menggiurkan! 

Saya dateng ke Noe Coffee & Kitchen Sabtu sore minggu lalu. Awalnya saya dapet undangan untuk nyobain main menu & baverage menu cafe ini. Daripada sendirian, saya pun mengajak Dhimas ke Noe Coffee & Kitchen. Kebetulan ada promo buy1 get 1 untuk baverage (khusus harga di atas 20K) dan main menu disc. 30% yang berlaku hingga 27 Maret 2017 ini.


Saya memilih cappucino hangat dan chicken mozarella sebagai menu utama. Sementara Dhimas yang sensitif dengan kafein kopi memilih teh hangat dan camilan crispy tofu. Waitress cukup sigap menjelaskan saat saya tanya-tanya seputar menu yang dipesan. Mereka juga nggak judes walaupun saya lama milih main menu-nya. 


Setelah selesai memesan dan membayar, kami memilih duduk di non-smoking area dekat jendela. Nggak lama setelah itu minuman yang kami pesan datang. Merasa kurang kalau nggak difoto terlebih dulu, jadi sambil menunggu menu utama dan snack datang saya pun motretin kopi favoritku. Cangkirnya yang kuning matching dengan cahaya dan konsep ruangannya yang semi-semi vintage. Hanya berselang beberapa menit crispy tofu dan chicken mozarella pesanan kami datang. Lagi-lagi saya nyempetin motret menu tersebut sebelum melahapnya.

Saya sedikit kaget melihat porsi chicken mozarella. Bagi saya yang makannya sedikit, menu ini besar dan ngenyangin banget. Begitu pula dengan crispy tofu yang dihidangkan dalam wadah menyerupai keranjang kecil. Menuruku untuk ukuran snack di cafe yang dijual seharga 16K, porsi crispy tofu ini cukup besar. Buat camilan dua atau tiga orang masih cukup. 

Chicken Mozarella
Crispy Tofu
Setelah mencicipi semua menu yang kami pesan sore itu, saya dan Dhimas sepakat kalau Noe Coffee & Kitchen ini punya menu yang enak dan saos dengan rasa unik, pokoknya beda dengan tempat lain! Menurut kami, saos ini membuat kedua menu yang kami pesan makin enak. Crispy tofu yang gurih dan chicken mozarella-nya bena-benar memanjakan lidah. Nggak cuma lidah, perut kami juga dimanjakan soalnya habis itu kenyang. Bahkan Dhimas bilang nggak nyangka satu porsi camilan yang dimakan bareng saya bikin dia kenyang dan memilih nggak makan malam lagi. Haha. 

Sama enaknya dengan menu makanan tersebut, cappucino pesenanku juga pas di lidah. Sayangnya teh hangat yang dipesan Dhimas rasanya "Sari Wangi banget" jadi kurang terasa spesial gitu di lidah. 


Walaupun sudah selesai makan, tapi saya masih betah berlama-lama di Noe Coffee & Kitchen. Selain karena menunggu hujan reda, sekalian juga quality time berdua mumpung suasana nggak terlalu ramai dan nyaman. Sampai-sampai nggak kerasa dari sore ke malam kami masih betah ngobrol ngalor ngidul di sini. Bahkan sampai ketemu sama marketing dan ownernya.

Kami pun ngobrol ngalor ngidul bareng. Saya sempet tanya-tanya tentang nama Noe untuk cafe ini yang ternyata diambil dari nama pemiliknya, Danoe. Saya juga sempat tanya tentang paket-paket khusus yang ditawarkan cafe ini. Menurut Mbak El, marketing Noe Coffee & Kitchen, cafe ini punya ruangan yang bisa direservasi untuk kumpul komunitas atau kegiatan lain. Ruangannya nggak terlalu besar, kapasitasnya 10 hingga 15 orang. Kabar baiknya sih untuk reservasi ruangan khusus itu cuma perlu pesan menu minimal 400K. Wah murah yah! Tapi kalau mau reservasi untuk kapasitas lebih juga bisa, cuma ruangannya mungkin pakai yang non-smoking area, yang jelas harga reservasi juga beda ya.


Selain tanya tentang dua hal itu, saya juga tanya soal logo Noe Coffee & Kitchen. Sejauh mata saya menjelajah ruangan demi ruangan cafe ini, ciri khas yang saya tangkep nggak lain simbol kepala rusa lengkap dengan tanduk indahnya. Ternyata di balik logo itu ada harapan owner untuk cafe ini. Menurut Mas Danoe, tanduk rusa itu terus tumbuh setiap waktu jadi dia juga berharap Noe Coffee & Kitchen bisa tumbuh terus. Simple tapi mendalam ya harapannya. 

Puas ngobrolin banyak hal dan tanya-tanya ini itu, Mbak El dan Mas Danoe pun pamit untuk kembali bekerja. Sementara saya masih lanjut ngobrol sama Dhimas lagi. Hitung-hitung nungguin hujan mereda. Sayangnya sampai jam di layar smartphone kami menunjukkan pukul 20.30, hujan nggak juga berhenti. Kami pun memutuskan pulang menerobos hujan yang cukup deras malam itu.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di Noe Coffee & Kitchen, saya berencana kembali lagi. Pengennya sih pagi atau siang untuk kerja. Konsep cafe ini mendukung banget untuk pekerja kreatif yang gampang bosen seperti saya. Hampir di setiap meja tersedia colokan untuk akses listrik. WiFi udah pasti ada dan kabar baiknya cafe ini buka dari pukul 07.00 - 01.00 dini hari. Selama ini saya merasa kalau bawa kerjaan ke cafe gini cukup efektif bikin kerjaan cepet kelar. Alasannya sih udah bayar jadi kerjaan pun kudu kelar cepetan. Haha. Ada yang seperti saya? 

  • Share:

You Might Also Like

7 komentar

  1. Waaah... jadi laper!
    sayang banget waktu aku kesana kemarin dekorasi nya belum selengkap pas kamu posting. Jadi fotonya 'agak' kurang oke hueheh

    www.deniathly.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya ya Nia? Palingan karena baru buka 2 hari ya? :D

      Hapus
  2. Noe mirip2 filosofi kopi ya tempatnya..ngomong2 filosofi kopi bukan sekedar film loh ternyata, ada cafenya di Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, aku mau ke filosofi belum sempet nih. Next time pas ke Jakarta disempet-sempetin kali yah

      Hapus
  3. Wahh jogja semakin banyak tempat hits! Oke bangetttttttt~

    Elisabethgultom.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benr makin banyak dan harganya cukup kompetitif hehe. senengnya sih jadi banyak diskonan juga

      Hapus
  4. Itu kopi apa mbak er?
    Kalau cowo aku sekarang gayaan banget kalau ngopi maunya yang pait2 wkwk

    Kalau aku mah tetep kopinya selalu kopi yang unyu unyu kayak diatas

    BalasHapus