Career Story #1 | Kenapa Kuliah Sambil Kerja?

By Erny Kurniawati - 18.14.00


Di antara sekian banyak keputusan hidup yang saya ambil, keputusan untuk bekerja kantoran saat masih kuliah semester 5 adalah keputusan yang cukup banyak memengaruhi hidupku hingga sekarang. Banyak teman saya yang kala itu mengerutkan kening dan menanyakan keputusan saya tersebut. Sebagian saya jawab dengan detil, sebagian lainnya saya jawab dengan senyuman. 

Saya memutuskan untuk bekerja saat itu karena kondisi ekonomi keluarga yang memburuk. Saya masih ingat betul, uang saku mingguan saya kala itu mulai tak stabil. Mau makan mikir banget. Beli sepatu atau baju apalagi. Nongkrong di cafe? Nggak pernah karena memang nggak ada uang. Beruntungnya, waktu itu saya masih tercatat sebagai penerima beasiswa bidikmisi (beasiswa untuk pendidikan mahasiswa miskin). Beasiswa tersebut yang membawa saya ke bangku perkuliahan. Saya dibebaskan dari uang gedung, termasuk uang SPP hingga uang SKS sekalipun, dan setiap bulannya saya dapat uang saku 600K hingga semester 8 kemarin (anyway saya sudah semester 10 he!)

Uang saku dari orang tua biasanya difungsikan sebagai uang jajan. Sementara uang saku dari beasiswa saya gunakan untuk bayar kost dan tabungan. Tapi sejak semester 3, saya menggunakan uang beasiswa tersebut untuk kredit laptop. 

Sayangnya, sistem distribusi beasiswa ini nggak tepat waktu. Jadi udah nggak kaget uang untuk semester baru tapi turunnya di tengah semester. Kalau ada sokongan kuat dari orang tua sih aman ya, kalau nggak ada? Ngeprint bahkan minum saja butuh biaya kan? Belum lagi saya perlu membayar angsuran laptop dan biaya kost. Saat itu tahun 2014, saya akhirnya memutuskan untuk bekerja agar nggak lagi pusing memikirkan tagihan sekaligus terhindar dari perasaan nggak enak karena harus minta uang kepada orang tua yang kondisinya sedang memprihatinkan.

Awalnya saya bekerja paruh waktu sebagai content writer di sebuah digital agency. Gaji saya saat itu 750K. Nggak banyak, tapi cukup membantu saya untuk tetap bisa makan enak plus mencukupi kebutuhan lainnya. Kontrak kerja saya saat itu cuma 3 bulan. Ketika kontrak berjalan satu bulan, saya dapat info kalau kantor tempat saya bekerja tersebut membuka lowongan kerja tetap untuk posisi content writer juga. Saya dengan penuh keyakinan mendaftar. Pikir saya dengan kerja tetap kontrak saya akan diperpanjang dan gajinya pun lebih baik.

Saya pun mengirim surat lamaran dan diikutkan dalam seleksi tes bersama kandidat lain. Masih jelas di ingatan saya, kala itu saya menjadi kandidat termuda. Kandidat yang dipanggil untuk tes saat itu berlatar belakang beragam. Mulai dari ex- pekerja media Jakarta hingga fresh graduate. Tapi cuma saya yang masih kuliah semester 5 dan nekat datang. Sadar kalau kandidat lainnya jauh lebih siap terjun di dunia kerja dan punya pengalaman lebih banyak, saya pun membisiki hati terus menerus untuk legowo bila seumpama nggak keterima. 

Rupanya takdir berpihak padaku. Dari sekian kandidat yang mengikuti tes, ada dua yang dipanggil untuk proses selanjutnya dan saya salah satunya. Saya senang bukan main. Pertemuan dengan pihak kantor ini akhirnya menjadi awal saya bekerja secara profesional dengan 8 jam kerja di perusahaan digital agency. Posisi saya kala itu sebagai content writer untuk brand beauty drink. Jujur saya pusing, tapi saat itu saya mantap untuk mengambilnya. Pertimbanganku kala itu, "milih kerja bisa kuliah, atau kuliah aja tapi nggak bisa makan?" Tentu saya milih opsi pertama.

Sejak bekerja kantoran, hidup saya sebagai mahasiswa berubah. Saya harus berdamai dengan keadaan karena ternyata membagi waktu itu jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan sebelumnya. Untungnya kantor saya mengijinkanku mengikuti kuliah di tengah padatnya deadline pekerjaan. Kehidupan sosial saya juga berubah karena mau nggak mau jatah main saya berkurang. Padahal masa-masa kuliah seperti itu masa di mana semangat ke sana ke mari sama temen lagi tinggi-tingginya. Saya juga sempat mengalami konflik dengan teman satu kelompok kuliah karena saya jarang bisa ikut kumpul. Banyak asam manis pahit yang saya rasakan dari keputusan tersebut. Beberapa teman yang saya curhati bahkan sempat bertanya kenapa saya nggak memilih part time jadi waitress di cafe yang gajinya sama besar tapi waktu kerjanya jauh lebih sedikit. Atau menjadi penjaga toko yang nggak perlu menguras pikiranku. 

Alasanku memilih bekerja di digital agency tersebut sebenarnya sangat prinsipil. Saya punya prinsip kalau saya sampai kerja saat kuliah saya harus kerja di bidang yang berhubungan dengan dunia akademik saya. Saya kuliah di jurusan komunikasi dan hobi menulis, maka lingkup pekerjaan saya semestinya tidak jauh-jauh dari situ. Saya juga berjanji dengan diri sendiri kalau saat bekerja saya nggak boleh mengincar uang semata, tapi saya mesti mengincar ilmunya. Dan itu yang menjadi alasan saya bekerja di digital agency kala itu. 

Sekarang, saya merasa keputusan untuk kuliah sambil kerja adalah keputusan paling berani sekaligus paling baik untuk saya. Lain kali, saya akan ceritakan lebih banyak lagi. Kira-kira temen-temen punya saran apa untuk saya ulas pada postingan berikutnya?

  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. Saranku sih untuk tulisan bertema seperti ini adalah cara bagi waktu antara kerja sambil kuliah Er :), ya bagi tips lah intinya hehe

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ineeez thanks for giving me an advice. Iya nih selanjutnya akan bahas soal tips termasuk how i deal with this situation. Karena aku pun pernah desperate dan nangis terus2an sekitar 1,5 taun lalu hihi

      Hapus
  2. Ernyyyy, lanjutin dong haha brasa kaget blum selse critanya tapi udah abis artikelnya *nungguin episode 2

    www.rahmabrilianita.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for reading Rahma hahaha. Kentang ya? Aku mesti tega nih menyudahi tulisan pertama ini biar nanti jadi bagian2 berikutnya wakaka. Makasih lho sudah menantikan bagian berikutnya...

      Hapus
  3. Ini niiiih yang bakal jadi spesialisasimu bangeeeet! Banyakin Er! Cabangnya banyak banget nih topik bisa kemana-mana pasti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Spesialisasi apa wkwk *malah clueless* iya Hani ini saking banyaknya yang mau ditulis jadi satu persatu yak. barangkali berguna bagi orang lain yg baca wkwk.

      Hapus
  4. Wahh saluuttt.... Btw, er, aku pernah krj part time jg lho waktu kuliah. Tp alasannya nggak mulia kayak kamu, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apapun alasannya tapi pasti ada manfaatnya kok Vir hihi. Terus gimana? Kamu pasti dapet learning juga ya dari part time itu :D

      Hapus
  5. Itu kuliah reguler mbak erny?
    hebaaaaaaaaaaat ! :D
    Bisa gitu yah bagi waktunya
    Aku aja yang kuliah sabtu minggu masih kelimpungan loh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kuliah reguler hehe. :D sekarang udah jarang ngampus cuma kalau konsul doang :D

      Hapus
  6. Dulu pernah juga sih kerja pas kuliah, kerja sendiri sih itungannya, servis laptop sampai jualan jam warna-warni. Memang berasa bener mbagi waktu dan pendapatan yang masuk, hehehe, memperbanyak relasi juga itu yang seru.

    Setuju sekali kalau kerja itu juga mencari ilmu baru dan mengamalkan ilmu yang kita miliki, Insya Allah rejeki memang gak kemana,

    Bagi tips donk bagaimana sebagai seorang "anak kuliah" untuk bisa berinteraksi dan berbagi pola pikir dengan rekan kantoran yang notabene sudah lulus kuliah,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah punya pengalaman unik juga ya. BTW nyambi-nyambi gitu ngelatih banget soal bagi waktu. Hehe nanti saya tulis ya soal tips itu soalnya banyak hehe

      Hapus
  7. sebenarnya antara kerja dan pendidikan itu lebih penting pendidikan.tapi entah kenapa hampir setiap orang mempunyai tolak ukur terhadap pekerjaan dan seolah olah pekerjaan adalah solusi dari segala permasalahan.

    sama usang juga pernah mengalami hal seperti ini,bahkan resign dari pekerjaan kantoran alias pernah mengecap menjadi banker untuk berjalanan seperti sekarang adalah keputusan dengan resiko terbesar di dalam hidup dan usang sendiri tidak menyesalinya.karena pelajaran tentang kehidupan dan menikmati hidup adalah pelajaran yang paling berharga.

    tetap semangat ya kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena saya nggak bisa menggantungkan hidup pada harapan dan orang tua ya. Jadi pekerjaan seolah jadi jawaban. Diakui atau tidak, pendidikan kan butuh biaya. Apalagi untuk orang yang hidup dari beasiswa seperti saya. Uang dr beasiswa tidak datang dengan teratur. Lebih sering telatnya dan judulnya pun uang bantuan. Yang artinya nggak bisa jadi tumpuan utama.

      Thanks for sharing your story too. :)

      Hapus
  8. Lagi asik baca kok udah selesai aja sih, ibarat diputusin pas lagi sayang-sayangnya huhu. Nggak sabar baca kelanjutannya Er

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini komenmu ditulis habis baca karang bunga buat ahok ya haha. Kalimatnya mirip. :D

      Hapus
  9. Aaa kak Erny nanggung banget huhu, lanjutin donggg *maksa* TuT

    BalasHapus
  10. Aku juga semester 10 nih! And I have to admit ini partly gara-gara kerja sambil kuliah. Menyesal? Nggak juga, karena Alhamdulillah kerjaannya bikin aku lebih open-minded. Pokoknya aku bisa merasakan apa yang nggak bakal segampang itu aku dapat seandainya nggak kerja. But well, I get that weird look setiap ada orang tanya kapan lulusnya -__-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ratri, semangat teryus ya! Kita pasti lulus kok

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus