Career Story #2 | Drama Manajemen Waktu

By Erny Kurniawati - 21.41.00

pic credit: unsplash.com
Akhirnya saya kembali menulis untuk sesi Career Story! Setelah keputusan kuliah sambil kerja saya ambil, masalah selanjutnya yang datang adalah soal manajemen waktu. Ternyata membagi waktu untuk kuliah dan kerja full time itu nggak semudah yang saya bayangkan. Saat saya apply kerja, saya mengira kalau kerja di digital agency bakalan nggak mewajibkan saya datang ke kantor. Tapi dugaan saya itu salah. 

Desakan ekonomi memang menjadi salah satu alasan paling kuat yang membuat saya mantap mengambil tawaran kerja ini. Saya sempat deg-degan, namun sedikit tenang dengan janji kantor akan mendukung kuliah saya melalui SOP spesial supaya saya bisa leluasa kuliah walaupun hari kerja. Untungnya janji kantor tersebut ditepati. Saya pun memulai hari-hari berangkat kerja pukul 08.00 pagi dan pulang petang. Kalau ada jadwal kuliah pagi, saya kuliah dulu sampai selesai. Baru setelah itu, saya berangkat kerja. Begitu pun kalau kuliah sore, saya bakalan kerja dulu baru kuliah.

Sedikit berat memang, tapi saya harus bersahabat dengan kondisi ini. Walaupun kantor memberi saya banyak kelonggaran, tapi beban pekerjaan dan beban kuliah itu tetap menghantui saya setiap waktu. Terlebih lagi saat dalam satu semester banyak tugas praktek kelompok. Saya diuji pada bagian ini. Kuliah di kelas memang hanya sebentar, tapi kumpul untuk mengerjakan tugas itu bisa jauh lebih lama. Sedangkan tanggungan pekerjaan saya pun nggak sedikit juga. Saya sering mengerjakan tugas kantor di sela-sela jam kuliah, saya juga sering permisi ke teman-teman saat kumpul untuk minggir dan memastikan pekerjaan saya selesai semua. Sebegitu terikatnya pikiran dan diri saya dengan tanggung jawab kerja karena bagaimana pun saya sudah berjanji untuk bisa menyelesaikan semua tugas dengan sebaik mungkin.

Masa-masa kuliah full, banyak praktek, dan bekerja telah melatih saya untuk tahan banting serta menuntut kecerdasan dalam menyusun skala prioritas. Saking strict-nya dengan skala prioritas, saya nggak pernah nongkrong di kampus seperti temen-temen lain. Adik-adik tingkat saya mungkin banyak yang tidak kenal siapa Erny, tapi itu nggak penting untuk saya. Saat itu yang terpenting semua pekerjaan terselesaikan dengan sempurna, begitu pun dengan tugas kuliah. Saya menantang diri sendiri untuk balance walau nggak jarang saya begadang sampai jam 2 dini hari. 

pic credit: unsplash.com
Berhubung saya masih early 20 kala itu, diri saya belum sestabil sekarang. Saya sering iri melihat orang lain, bahkan kadang sedih karena ingin main bareng teman lainnya. Saya sering meratap sebelum tidur, sesekali disertai tangisan karena merasa terlalu sibuk sampai nggak bisa menikmati waktu. Namun, saya kembali menyadarkan diri kalau setiap orang punya cara berjuangnya sendiri. Begitu pun untuk saya. Saya mengingat-ingat berapa banyak teman yang mengatakan hidup saya penuh keberuntungan bisa diterima kerja padahal belum lulus kuliah. Banyak juga yang bilang bagaimana enaknya saya bisa bayar ini itu dengan uang sendiri hingga banyak pula yang mengomentari betapa saya beruntung punya pengalaman bekerja sebelum saya punya gelar sarjana. Walaupun nggak seenak komentar orang-orang, tapi komentar mereka menyadarkan saya pada satu hal yaitu, "urip kui wang sinawang atau hidup itu hanya saling melihat satu sama lain." Kelihatannya bagi orang lain hidup saya enak, tapi tidak seenak itu kenyataannya. Begitupun saya berkeyakinan kalau di balik sempurnanya hidup orang lain di mata saya, bisa jadi ada perjuangan yang penuh ups and down yang nggak saya tahu. 

Meski sering keteteran dalam manajemen waktu, tapi sebenarnya saya punya pattern dalam mengatur jadwal harian. Selain menerapkan skala prioritas, saya juga mencoba disiplin. Misalnya, pada siang sampai sore hari saya gunakan untuk kerja dan kuliah. Malam harinya saya gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah seperti essay dan sebagainya. Sisanya, saya gunakan untuk bersenang-senang dengan cara nonton film di bioskop sesekali atau makan malam di tempat makan favorit saya. Cara itu membantu saya tetap waras. 

Namun, pernah juga saya bad mood berhari-hari hingga menangis meraung-raung. Kala itu saya baru selesai KKN. Saya kembali bekerja dan naik jabatan dari content writer jadi social media strategist. Kenaikan jabatan ini membuat tugas kantor saya semakin banyak. Tanggung jawab pun semakin besar dan kebetulan saat itu saya mendapat tugas handling client yang demand-nya tinggi. Karena saya bekerja di agency iklan, maka revisi itu makanan sehari-hari. Belum lagi sebagai social media strategist, saya harus membuat strategi branding hingga campaign brand yang dihandle setiap bulannya. Nah, dari sinilah konflik dalam diri saya terjadi.

Saya ingat waktu itu saya baru saja mengambil SKS skripsi. Saya sedang giat-giatnya menyusun proposal, tetapi saya mulai kehilangan fokus. Tiap kali saya sedang on fire untuk mengerjakan skripsi, klien punya permintaan aneh-aneh yang mengharuskan saya lembur berkali-kali. Sedangkan saat kerjaan berkurang, tenaga saya habis karena kelelahan. Akibatnya, saya pernah menangis meraung-raung. Saya pernah bertanya kenapa hidup nggak adil. Iya, selebay itu! 

pic credit: unsplash.com
Sebagian orang yang tak terlalu dekat dengan saya menyarankan agar saya resign dan fokus kuliah. Padahal mereka tidak tahu kalau sejak tahun pertama saya bekerja, saya sudah lepas dari biaya orang tua. Saat itu juga, kondisi ekonomi orang tua saya semakin memburuk. Saya bisa apa selain menerima jalan hidup ini?

Dari situ saya kembali menyadari kalau komentar atau saran dari orang yang tidak terlalu mengenal kita sangat sah untuk diabaikan. Mempertimbangkannya tentu saja boleh, tapi kembali lagi yang tahu apa kebutuhan kita yang diri kita sendiri. Waktu itu saya sempat mau resign, tapi saya urungkan niat itu karena saya belum punya pemasukan cadangan. Kata orang nekat itu perlu, tapi nekat tanpa perhitungan adalah kebodohan bagi saya. 

Kondisi yang menjepit saya kala itu membawa saya pada fase berserah diri dan mencoba mencintai hidup. Saya nggak jadi menyerah, tapi saya kembali menganggap situasi tersebut sebagai tantangan untuk bisa memenejemen waktu lebih baik dari sebelumnya. Saya bangkit dan semangat lagi hingga hari ini. 

Saat ini saya sudah berada pada tahap menerima hidup saya. Saya menyadari kondisi saya berbeda dari teman-teman kebanyakan, tapi itu bukan penghalang untuk saya terus berjuang menyelesaikan kuliah. Itu juga bukan penghalang untuk kehidupan sosial bahkan hobi saya. Sejak akhir 2015, saya mulai meluangkan waktu untuk bertemu lebih banyak orang. Saya mencoba berkenalan dengan orang-orang dengan latar belakang berbeda dari sebelumnya. Ternyata, itu justru cara jitu saya untuk melepas stres karena manajemen waktu antara kuliah dan kerja yang sering amburadul. Saya mulai meluangkan waktu juga untuk menekuni hobi saya menulis. Lagi-lagi menulis justru menjadi tempat saya melarikan energi negatif dalam diri. Saat saya marah, saya menulis. Saat saya senang, saya menulis. Saat saya sedih dan kecewa, saya juga menulis. Menulis apapun termasuk menulis postingan ini. 

So, saya menganggap draman manajemen waktu itu sudah berakhir. Sekarang saya menganggap manajemen waktu adalah art of life. Jadi harus saya nikmati! Kalau sekarang, saya membagi waktu selama pukul 08.00 - 18.00 WIB pada weekday adalah waktu untuk kerja, setelahnya adalah waktu untuk berkutat dengan skripsi. Sementara menulis blog saya lakukan menjelang tidur malam, saat weekend, atau pada jam istirahat kerja. Sedangkan untuk weekend saya maksimalkan untuk ketemu temen, membangun komunitas, pulang bertemu keluarga, me time, atau jalan-jalan. Tentu nggak semua itu saya lakukan pada saat weekend, tapi setiap weekend saya pasti melakukan salah dua atau tiga dari aktivitas tersebut.

Temen-temen punya pengalaman pelik soal manajemen waktu? Share yuk!

  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. You're one of bad-ass girls I've ever met. Semua tergantung gimana mindset kita saat menjalankan apa yang udah kita pilih. You'll get there, Erny. Bahkan kamu sudah ratusan atau ribuan langkah lebih maju dari teman-temanmu. Karena bekerja sambil kuliah nggak buat semua orang. Semangat Ernyyy 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hani thanks ya udah baca curhatanku hehe. Makasih juga utk komennya yg bikin semangat!

      Hapus
  2. Thanks for sharing, Erny^^
    Saya juga dulu mulai kerja pas semester 5, akhirnya kurang kenal sama adik-adik di kampus, dan paling susah kalau ada tugas kelompok (γƒΌγƒΌ;)
    Tapi toh dampak positifnya tetap berkelanjutan sampai setelah kita lulus kuliah. Keep writing and γŒγ‚“γ°γ£γ¦γ­。

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kii.... senasib ya kita? Bener manfaatnya utk long term. Thanks ya

      Hapus
  3. I'm so proud with someone wich studies and work, maybe you can more becarefull with your health hehehe keep spirit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Laksita, I'm happy to read your comment. Thanks ya untuk sarannya hehe :)

      Hapus
  4. Aku dulu juga kuliah sambil kerja Mba', tapi nggak full time, cuma ngajar les anak-anak. Itu pun sudah lumayan capeknya, sering banget nggak bisa ngumpul sama teman, tapi mau gimana lagi, sudah kadung nyebur, waktu itu juga pas ada yang mau dibayar per bulannya, jadi mau nggak mau harus tetap kerja sambil kuliah. Tetap semangat Mba', nanti InsyaAllah jadi terbiasa memenej waktu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Julia, thanks for sharing. Yes sama-sama semangat ya. Sukses terus!

      Hapus
  5. teteep kuat hadapi cobaan,karena pilihan tak bisa disesali tapi harus dijalani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, yang udah dipilih harus dijalani donk! :D

      Hapus
  6. Manajemen waktu termasuk salah satu kelemahanku Er, apalagi kalau lagi kena review slump dan mood-moodan aduh parah banget pokoknya. Melihat postinganmu seperti ini aku jadi termotivasi ngeblog lagi hehe.

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inez, aku baru ngebatin lho kok tumben kamu blognya gak update banget as usual. Ternyata lagi kena mood hehe. Semangat yuk, Nez!

      Hapus
  7. Kuat ya, aku juga pernah mengalami hal seperti itu dan surprisingly sukses. suatu hari dimasa depan nanti kamu bakalan senyum sambil mengingat lagi bagaimana perjuanganmu ngatur waktu :)
    Sukaa sama tulisanmu, menginspirasi ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, thanks ya. Sharingmu menguatkanku juga. Alhamdulillah perjuangan itu sedikit demi sedikit mulai terasa hasilnya. Yang bikin happy, saya jadi paham betul bagaimana berharganya waktu :)

      Hapus
  8. Erny semangat yaaaa... ;) Pasti mental dan kedewasaan kamu jadi lebih cepat berkembang dibandingkan teman seumuran kamu.. Ngga ada yang sia-sia mah kalo buat perjuangin masa depan yang lebih baik ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahhhh Kak Dee, makasih supportnya sangat berarti buat aku!

      Hapus
  9. Weeeewwww...keren banget. Jaman kuliah dulu gue ngapain aja yak? Wkwkwkwwk...berasa bak remah-remah rengginang di kaleng krupuk hahahaahhaa

    BalasHapus
  10. Ceritanya sangat menginsipirasi Mbak. Bahkan jd ingat saat2 kuliah dl sambil kerja. mikirin orang lain bs tenang fokus kuliah sementara diri sendiru harus bagi waktu antara kuliah dan kerja. Tapi emang semuanya tetap indah pada waktunya. Hahaha.. seenggaknya ada nilai positif yang bisa diambil juga Mbak. :) thanks for sharing...

    BalasHapus