Career Story #3 | Pelajaran Saat Bekerja di Advertising Digital Agency

  Baca juga: Career Story #1| Kenapa Kuliah Sambil Kerja Saya masih sering kangen kalau inget hectic -nya dan pusingnya tuntutan kerj...

 

Baca juga: Career Story #1| Kenapa Kuliah Sambil Kerja

Saya masih sering kangen kalau inget hectic-nya dan pusingnya tuntutan kerja di agensi iklan digital. Walau dulu saya sering mengeluh, tapi bekerja di industri tersebut membawa banyak banget pelajaran untuk saya. Bagi saya, keputusan bekerja di industri kreatif adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Bukan karena pekerjaannya enak dan gaji besar, toh kenyataannya sebaliknya itu. Tapi, lebih kepada pelajaran yang saya dapetin selama bekerja di industri tersebut. Daripada udah nyebur lalu menyesal, saya memilih untuk jadi pembelajar saja. Mumpung mood menulis tentang personal sedang baik-baiknya, lewat tulisan ini saya bakalan kupas tuntas apa saja yang saya dapetin selama bekerja di agensi iklan digital tersebut. 

Cerita ini berawal dari pengalaman pertama saya sebagai content writer untuk socmed dan website sebuah brand beauty drink. Sebelum saya menghandle brand tersebut, ketertarikan saya sama dunia kecantikan sudah cukup besar. Namun rupanya, itu saja nggak cukup membuat saya bebas revisi saat bikin konten. Kebetulan juga brand yang saya handle ini targetnya SES A atau dengan kata lain kelas atas. Saya yang masih bocah umur 20 tahun dengan uang jajan nggak seberapa pun sempat bingung membayangkan topik apa yang pas untuk disuguhkan kepada target audiens itu. 

Kebingungan kala itu membuat saya punya motivasi lebih untuk belajar. Saya berusaha mengenal lingkungan target audiens hingga membaca literatur sebanyak yang saya mampu. Bahkan karena brand beauty drink itu merupakan anak dari perusahaan farmasi, saya pun jadi punya kebiasaan baru yaitu, baca jurnal kesehatan yang membahas tentang kesehatan kulit. Dari sini saya belajar kalau ternyata dalam menulis apapun (walau sekadar caption yang tampak sepele) kita nggak bisa melakukannya dengan instan. Kita harus melewati beberapa proses seperti paham betul dengan product knowledge, riset, dan ngembangin ide sekreatif itu agar menarik untuk audiens. Kalau dipikir-pikir memang tampak sepele, tetapi kalau dipraktekkan pasti bakal bikin puyeng.

Setahun pertama menghandle brand tersebut memberi saya kesempatan untuk belajar banyak hal. Baik dari segi tugas saya sebagai content writer, maupun sebagai karyawan yang hidupnya tergantung dengan divisi lain. Kerja di agensi itu tinggi tekanan, makanya lingkungan yang kondusif dan partner kerja yang receh itu pendukung terbaik. Nggak jarang saya dan teman-teman se-tim mengeluh. Biarpun sambil mengeluh, tapi semangat untuk menyelesaikan pekerjaan lebih baik dari sebelumnya selalu ada.

Selain menghandle brand tersebut, saya juga pernah menghandle brand susu diet. Bagi saya produk kali ini jauh lebih menantang ketimbang brand sebelumnya. Diproduksi di bawah brand farmasi yang sama dengan produk beauty drink sebelumnya, tapi penanganannya berbeda sehingga menuntut saya untuk belajar lagi. Kali ini, saya menjadi akrab dengan buku dan jurnal seputar gizi kesehatan. Sampai-sampai saya hafal pedoman makan sehat ala ahli gizi dan hafal juga trik diet.

Baca juga: Career Story #2 | Drama Manajemen Waktu

pic: unsplash
Selama saya kerja di agensi periklanan, brand susu diet ini paling menguras tenaga, emosi, dan pikiran. Namun, paling banyak memberi saya pembelajaran. Saya mesti berterima kasih punya klien  galak dan perfeksionis yang lebih dari dosen pembimbing skripsi. Darinya saya belajar penulisan yang benar, penggunaan tanda baca yang tepat, gimana mengatur emosi agar selalu sabar ngadepin komplainnya, hingga belajar bersyukur saat bikin konten cuma kena revisi sedikit. Saya pun berulang kali kepikiran resign karena lelah kena omelan klien dan tuntutan kantor yang kadang sama-sama memojokkan. Tapi untungnya gengsi saya sama klien ini gede, jadi nggak mau give up gara-gara capek hati. Jalan akhirnya, saya berusaha enjoy menjalani hari-hari penuh revisi dari mereka.

Lepas dari brand susu diet, saya mendapat amanah lain untuk mengurus brand foodware kebanggaan ibu-ibu. Lagi-lagi saya yang belum jadi ibu-ibu harus paham betul dengan target audiens. Kalau dua brand sebelumnya punya target wanita kelas menengah ke atas, kali ini targetnya kelas B-C. Saya pun aktif masuk ke komunitas ibu-ibu dari beragam kalangan. Buat apa? Buat cari insight! Yap, kerja jadi social media strategist (SMS) menuntut saya peka dengan kebiasaan dan kenyataan hidup ibu-ibu tersebut. Kemudian, insight itu di bawa ke ramah digital untuk membantu penjualan. Meskipun saya lelah mesti berusaha mengakrabkan diri dengan ibu-ibu dari berbagai kalangan, tetapi brand ini adalah brand favorit saya. Klien pinter, nggak rese, dan budget-nya banyak. How happy ya kan?

Kalau tiga brand sebelumnya menjadikan perempuan sebagai target utama, brand terakhir yang saya pegang sebelum resign adalah corporate BUMN. Saya kebagian menjadi SMS untuk akun CSR dengan segmen anak muda dan ibu-ibu muda. Lagi-lagi kerja di agensi itu syarat dengan belajar. Ganti brand yang ditangani berarti harus belajar sesuatu baru lagi. Persis seperti saat saya menghandle klien ini. Untungnya, klien ini orangnya enak dan nggak kebanyakan rekues yang susah diterjemahkan.



Dari empat klien yang saya tangani saat bekerja di agensi iklan digital semuanya memberi saya kenangan dan pelajaran. Seperti pengakuan saya pada awal tulisan ini, memutuskan bekerja di industri kreatif adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. Pelajaran yang paling saya rasakan manfaatnya ada banyak. Namun, inilah tiga manfaat yang sudah saya rasakan selama ini:
Sabar 
Dari berbagai karakter klien saya belajar gimana caranya bersabar. Kalau temen-temen pernah bekerja yang mengharuskan untuk sering-sering ketemu partner atau klien pasti tahu gimaan rasanya kalau permintaan mereka kadang di luar nalar kita. Dari hal itu saya belajar untuk sabar dan sabar. Intinya selalu berusaha seramah mungkin dalam menghadapi klien apapun permintaannya!
Nggak Baper
Saat saya menjalani sesi wawancara di kantor baru, saya pernah ditanya tentang kepribadian saya. Saya ini tipikal yang mudah baper atau nggak. Saya pun mantab menjawab nggak. Terbiasa ditegur keras, dikasih brief dadakan, ngadepin klien moody, dan menghadapi tuntutan yang kadang nggak bisa dinalar membuat saya terbiasa untuk bersikap profesional dan mengabaikan emosi yang memicu baper. Saat kerja, ya saya kerja. Saat kerjaan saya salah, ya silakan tegur saya. As easy as that. Di luar itu, silakan ajak saya becanda seperti biasa dan hal itu saya pelajari ketika bekerja di agensi.
Bersyukur
Salah satu hikmah mengalami hal-hal sulit dalam hidup itu menuntun saya untuk jadi pribadi yang mudah bersyukur. Pengalaman bahwa mengeluh hanya menyita waktu produktif juga menjadi pertimbangan saya untuk lebih baik waktu habis buat bersyukur ketimbang protes tentang nasib. Lagi-lagi, konsep bersyukur ini saya dapetin seiring berjalannya waktu ketika bekerja di agensi. Bisa merasakan weekend tanpa ketakutan ada krisis sama pekerjaan saja udah bisa membuat saya mengucap syukur berulang kali!

Itulah tiga hal yang saya dapetin selama bekerja di digital agensi. Namanya dunia digital, biarpun kontrak kerja cuma sampai pukul 17.00 WIB, namun kenyataannya saya nggak bisa lepas dari memantau pekerjaan selama 24/7. So, kalau pekerjaan temen-temen masih mengizinkanmu untuk bersantai saat hari libur dan nggak menimbulkan kekhawatiran saat hp hilang sinyal, maka syukurilah sebelum terlambat!





You Might Also Like

27 komentar

  1. revisi adalah kata yang akan selalu melekat sama content writer macam kita ya sis hahaha. Aku nggak kerja di agensi sih, but i know how you feel karena aku juga kadang punya "klien" yang agak rese tapi harus sabar. hahahaha kerjaan yang sekarang gimana sis? :P


    www.deniathly.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda nia, kalau di kantor baru nggak se-hectic dan sekeras di agency. Tapi dari segi demand sama-sama lah sebenernya beratnya hehe

      Hapus
  2. Betul banget sis.. I feel you.. walau i blm pernah kerja di ads agency, but i know bahwa yang namanya nulis itu tidak semudah yang orang - orang kira. Kita juga beauty blogger suka dianggap remeh, padahal untuk bisa nulis itu kita kudu belajarin tentang ingredients, cobain produknya terlebih dahulu, dan melakukan careful observation, supaya bisa kasih review yang akurat.. dan kalau sampai tidak cocok, itu risk yg hrs diterima dengan lapang dada supaya bisa memberi informasi dan saran yang benar.

    http://www.blossomshine.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, hehe. Ada proses panjang yah. Makanya wajar kalau nulis dibayar dengan pantas hihi

      Hapus
  3. Hai Erny, salam kenal :)
    Sebagai sesama Content Writer di industri yang sama, saya sangat suka dan setuju dengan tulisan ini :D
    Belum lagi kalau ada drama typo yang kayaknya udah dicek berkali-kali tapi tetep aja ada :))
    Tapi seru banget dunia ahensi itu karena banyak banget belajar ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya kan? Kok bisa ada typo padahal sering yang ngecek berlapis. pernah ada cerita seru, greeting tahun baru hijriyah salah taun dan udah upload haha.

      Hapus
  4. I feel you.. Skrg megang 5 brand nutritionals, mulai dari susu hamil, susu anak2, makanan bayi, susu kalsium sampe snack sehat. Revisi udah jadi hal wajob dilewati. Malah kadang pernah kepikiran, ini si client apa sengaja nyari2 yang bisa dikomenin supaya bisa revisi xD krn revisian itu sifatnya subjektif sih, meski ada embel2 sesuai dengan brand guidance ✌ btw skrg aku masih berkecimpung di dunia digital agency, masih betah jadi anak ahensi, walaupun lelah batin tak berkesudahan, apalagi project tahu bulat yang... Ya begitulah *knp jd curhat ya eike* anyhow, krn kerja di dunia kreatif hati ini jadi sekuat baja, sabarnya jangan ditanyalah hahaha dan yg dirasain sih jadi makin kece time management-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaaaak waaaah aku paham banget lah kalau handling banyak sekaligus gitu. Selama ini aku paling banyak handline 2 brand sekaligus. Sisanya ngerjain proposal untuk pitching lebih tepatnya jadi tim riset. Tapi udah 3 bulan ini aku resign karena udah merasa waktunya resign. Haha kok aku jadi nebak-nebak brand yang kamu handle ya haha. Yes, bener banget walaupun ada embel-embel brand guideline, tapi kalau revisi gitu banyakan subjectivenya. persoalan taste juga bisa kan. Bener banget lah kalau sabar jangan ditanya lagi. Time management kece karena terbiasa kerja dalam waktu ketat. Semangat terus ya mbak!

      Hapus
  5. Kayaknya saya harus belajar dari Mbak nih supaya gak baperan. Gara2 baper saya udah 2x resign kantor dan sekarang nyari2 kerjaan lagi :D ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaaaah kok gitu? Hehe, di kantor lamaku juga banyak mbak yang baru masuk satu-tiga bulan resign karena baper. Kebanyakan fresh graduate. Kalau saya pedomannya nggak mau kalah sama perasaan sendiri. hihi Ngobrol aja ayuklah barangkali bisa membantu kan :D

      Hapus
  6. Wah, kalo nulis soal topik yang masih berkaitan sama interest kita sih lebih nyaman ngerjainnya karena nggak harus start from zero. Yang PR banget itu kalo bidang yang dikerjain sama sekali bukan field kita, let alone writing in different language ^^;

    Aku setuju kalau kerja di agensi itu pressure-nya lumayan tinggi, tapi nggak mengubah mind set orang kalau nulis itu perlu proses dan waktu :( Dikiranya copy writer tuh Bandung Bondowoso, semalem jadi -_-" #brbhirejin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha Kak Nindy! Kan belum kerja di agensi kalau belum ditatar jadi bandung bondowoso. Haha. Iyes, kalau masih relate sama interest kita emang jauh lebih gampang. Soalnya udah sesuai interest aja masih suka kesulitan pas klien pengennya abstrak haha. Apalagi kalau brandnya beda haluan semacem isu lingkungan atau motor2. Wah itu sih aku butuh waktu lebih utk menyelami bahasan2nya. Haha

      Hapus
  7. Bisa nih jadi bahan riset buat cerita fiksiku hehe ah canda. Memang semua pekerjaan itu ada resikonya tinggal kita pinter"nya menghandle sih. Love your writting, uda sekelas buku - buku non fiksi hehe

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha serius juga boleh lho Nez! Bener banget, semua pekerjaan ada risiko dan tantangannya sendiri-sendiri tinggal kita yang nentuin mau menghadapi apa nyerah haha. Thanks lho, aku terharu diapresiasi kamu :P

      Hapus
  8. Wah keren banget Erny di usia sekarang pengalamannya udah lumayan banyak!Kalau aku terus terang nggak akrab banget sama dunia pekerjaan kamu, tp yang namanya kerja memang butuh kerja keras dan mau belajar ya :)
    Nice sharing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Gian! Setuju, dimana-mana kerja nggak selalu enak pastinya hehe. Ada momen-momen harus berjuangnya!

      Hapus
  9. Pengalamannya sangat inspiratif mbak!

    BalasHapus
  10. Aku baru mengenal ada yang namanya kerja kreatif ya beberapa tahun ini ya. Pertama aku kerja aja tahun 2004. Udah lama banget dan sekarang sudah hampir 2 tahun resign karena anak gak ada yang jagain. Ngebayangin pekerjaanku dulu di sebuah perusahaan farmasi, ngadmin, ngakunting, ngendel marketing, kok aku pikir pekerjaanku ini enak banget ya...Tapi melihat pekerjaan di agensi, lebih ke arah banyak belajarnya yang aku suka. Jadi, selagi bekerja, dituntut juga untuk terus mengasah ilmu an wawasan, itu aku suka bangeet. Salam kenal mbak,

    BalasHapus
  11. Tantangan pekerjaan ya, Mbak. Saya jadi tahu tentang pekerjaan ini. Thanks for sharing, Mbak :-)

    BalasHapus
  12. Hahaha nggak baper itu loh mbak yang kadang suka susah diterapin kalo di aku. Soalnya ada moment dimana rasanya gampang banget baper, dan kadang ada moment juga pas strong-strong anti baper (itumah labil ghe huhu)

    Tapi aku dulu pertamakali kerja di jakrta awal lulus kuliah juga dipercaya jadi tim kreatif, dimana dalam divisi itu aku sendirian mbak yang fokus mengurus ide dan ide dan ide. Clientnya beranekaragam dan tiap hari kerjaaannya cuma sebatas ide-slid deck buat marketing nanti pitch.

    Ngerasain juga kalo client rewel dan ide buntu sampe nangis-nangis di toilet HAHA. Apalagi saya lulusan SMK IT gitu deh, jadi nantang banget. Tapi emang, kerja di agency dengan segala ke-hetic-an-nya bisa bikin kita belajar banyak hal. Salam kenal (lagi) mbak! Selalu senang mampir kesini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kan? Emang ke-hectic-an kerja di agensi itu bikin sebel tapi syarat pelajaran. Duh aku ngebayangin rasanya disuruh ngide pas kepala mampet haha. Rasanya pengen menghilang dari muka bumi wakaka

      Hapus
  13. Alhamdulillah bisa terdampar di postingan ini, sangat sangat inspiratif banget dan membuka mata dan hati aku.Lagi galau2nya, eh dapat konten kayak gini jadi semangat lagi, Makasih Erny ... makin sukses dan kece kedepannya.Salam kenal ^^v
    by. www.missrisna.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Risna, ah senang sekali kalau tulisan ini berguna hehe. Sukses juga untuk kamu!

      Hapus
  14. Wahh aku baru tau kalo Erny pernah kerja di agensi periklanan. Kok kayaknya seru ya, banyak pengalaman :)
    andai bisa balik ke beberapa tahun lalu, aku mau nyoba jd agensi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seru mbak. Pelajarannya banyak banget dan bersyukur pernah kerja di bidang ini sebelum kerja di kantor lain. Soalnya mental jadi kebentuk. :)

      Hapus
  15. Baca pengalamanmu di blogpost ini seru banget yah. Hard work will pay off at the end ;)

    BalasHapus

Flickr Images