Career Story #4 | How I Manage My Emotion

By Erny Kurniawati - 21.43.00


Banyak hal yang berpengaruh pada pekerjaan dan how we work, salah satunya emosi. Emosi yang saya maksud ini dalam artian luas. Bisa sedih, senang, moody, dan lain sebagainya. Bagi saya, emosi ini punya pengaruh besar saat saya bekerja. Apalagi kalau kerja tim yang di dalamnya ada banyak orang dengan beragam karakter. Perbedaan karakter itu saja bisa memicu bentrokan yang mengubah emosi kita dari positif ke negatif atau sebaliknya. 

Selama bekerja di kantor pertama saya dulu, saya banyak belajar soal mengolah emosi. Sebagai first jobber yang berada pada masa dewasa awal, emosi saya bisa dibilang belum stabil saat itu. Sisa-sisa karakter masa remaja masih ada mulai dari rasa sok tahu sampai dikit-dikit baper. Pelan tapi pasti saya berubah. Seinget saya sih perubahan itu terasa banget saat saya dapet posisi baru sebagai social media strategist yang bertanggung jawab pada beberapa brand. Saya yang waktu itu masih umur 21-an harus bisa nge-lead tim. Tidak hanya bertanggung jawab dengan brand, tapi juga dengan partner yang saya supervisi kala itu. Karena saya nggak kerja sendiri, otomatis saya pun ketemu partner dengan beragam karakter. Mulai dari yang sigap dan belajar cepat sampai yang dikasih tugas A tapi nggak pernah kelar pun ada. Biarpun ada beragam karakter yang saya temui, tapi saya justru sangat bersyukur. Bertemu dengan beragam karakter orang membantu saya belajar lebih cepat, terutama soal mengolah emosi. 

Saya punya cara sendiri dalam mengatur emosi. Cara ini saya temukan tanpa sengaja dan mungkin terbentuk dari pengalaman hidup sendiri hingga hasil membaca dan mengamati orang-orang di sekitar saya. So, inilah cara saya mengatur emosi:


1. Pikirkan Sebelum Meluapkan Emosi

Senang, sedih, khawatir, panik, bingung, dan beragam emosi lain yang datang jarang saya luapkan dengan cepat. Bisa dibilang saya bukan orang yang responsif dalam hal emosi. Saat saya sedih, saya nggak bisa langsung menangis ketika di sekitar saya ada orang lain. Saat saya marah, saya akan memilih menarik napas dalam-dalam. Saya berusaha berpikir sebelum meluapkan emosi itu. Apalagi kalau saya sedang ditunjuk jadi team leader. Bukan karena mau kelihatan sok dan sebagainya, tapi karena saya penganut paham "saya hanya mau melakukan sesuatu yang ketika orang lain melakukannya kepada saya, saya tidak sakit hati dan mau menerima perlakuan itu." 

Oleh karena itu, memikirkan sebelum meluapkan emosi sangat penting bagi saya pribadi. Bagi orang lain, sikap saya tersebut terkesan tidak tegas. Apalagi kalau soal partner melakukan kesalahan dan saya malah ngepuk-puk bukan marah. Di balik itu, sebenarnya saya selalu berpikir kalau misal kita meluapkan emosi negatif ke dalam perbuatan negatif, jadinya suasana tim bakalan kacau. Jadi, saya memilih cara lain. Dan so far, cara itu cukup berhasil untuk saya.

2. Tanyakan Pada Diri Sendiri

Sebagus-bagusnya kita bekerja, pasti pernah melakukan kesalahan. Saya sudah berulang kali juga melakukan kesalahan. Mulai dari ngerjain proposal pitching yang nggak ada bagus-bagusnya, sampai KPI (Key Performance Indicator) tidak terpenuhi, dan masih banyak kesalahan lainnya. Kesalahan yang saya lakukan nggak jarang juga membuat saya kena teguran bahkan kena luapan emosi klien atau atasan. Saat saya berada di posisi tersebut saya kenang betul apa yang memenuhi pikiran dan perasaan. 

Memori karena ditegur atau dimarahi klien maupun atasan tersebut selalu saya simpan. Kapanpun saya mendapati kinerja tim yang saya supervisi tidak sesuai dengan standar, saya akan merecall memori tersebut. Walau tidak selalu bersikap menyenangkan, tetapi saya berusaha untuk tidak melakukan hal yang pernah dilakukan oleh klien maupun atasan yang menyinggung perasaan saya dan justru membuat down berkepanjangan. Sebelum merespon, saya biasakan diri untuk bertanya pada diri sendiri, "kalau aku berada di posisi si A dan dimarahi dengan begitu aku terima nggak ya?" Kalau jawabannya nggak, ya saya bakalan cari cara lain. 

3. Kelola Ekspektasi
Sadar nggak sih kalau kadang emosi kita tiba-tiba jadi negatif karena harapan atau ekspektasi yang nggak kesampaian? Dulu saya juga begitu, mudah kecewa karena keadaan nggak sesuai harapan. Tapi karena terbiasa ketemu realita yang berbeda dengan ekspektasi, saya pun jadi bisa mengelola rasa kecewa itu. Ternyata cobaan aja ada hikmahnya kan!

Dalam bekerja pun demikian. Ketemu partner yang kinerjanya nggak sesuai ekspektasi itu hal wajar. Tapi bukan berarti marah atau menegur keras selalu jadi jalan terbaik ya. Saya sih yakin, kalau ekspektasi kita ke orang lain, termasuk partner kerja, nggak sesuai realita itu ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertama, bisa jadi sebagai supervisor atau leader  kita nggak benar-benar kenal karakter dan kemampuan unik setiap orang dalam tim kita. Kedua, sebagai team leader kita nggak memberikan arahan yang jelas sehingga risiko kesalahan pun meningkat. Ketiga, kita sebagai team leader berperan sebagai bos bukan leader yang membantu timnya memahami tugas yang mesti dikerjakan. Keempat, partner kita memang tidak pay attention pada tugasnya sehingga asal aja nyelesaiin tanggung jawab. Dari titik ini saya belajar kalau mengelola ekspektasi itu sepenuhnya ada di tangan kita. Sebelum bereaksi negatif karena pekerjaan partner nggak sesuai, kenapa kita nggak mikir dulu apakah ekspektasi kita didasarkan pada hal-hal logis atau didasarakan pada "kayaknya anak ini pinter jadi kerjanya pasti bagus". 

Sampai detik ini saya juga masih belajar mengelola ekspektasi. Sejauh ini yang terasa saya lebih legowo dan nggak gampang marah. Setiap kali ekspektasi saya nggak terpenuhi, saya justru jadi mikir mungkin saja saya yang nge-lead-nya salah. 

4. Belajar dari Pengalaman

Pengalaman itu guru terbaik. Saya sangat setuju dengan statement itu. Dalam hal mengatur emosi, pengalaman punya andil banyak sebagai guru. Coba deh diingat-ingat hal apa yang membuat kita merasa nggak nyaman saat bekerja, hal apa yang kita benci dari kerjaan kita, hal apa yang membuat kita bahagia dengan pekerjaan kita, hal apa yang membuat kita semangat bekerja, dan banyak lainnya. Saya pernah berada di satu titik berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tujuannya nggak lain untuk memetakan apa yang paling tidak saya sukai dari bekerja. Hal-hal yang termasuk di dalamnya akan saya jadikan pedoman supaya nggak melakukannya kepada partner kerja saya. Lalu hal-hal yang membuat saya bahagia dan merasa dihargai saya simpan untuk stok saat down sehingga saya enggan menyerah. 

Selain keempat cara itu, sebenarnya masih ada banyak cara lain. So far, keempat hal itu yang paling sering saya aplikasikan dalam mengatur emosi saat bekerja. Entah saya sebagai bawahan atau atasan, cara saya mengatur emosi kurang lebih sama. Kalau kamu punya cara lain, share yuk di kolom komentar. I will be happy to read your experience!

  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. nice tips. thx for sharing :)

    BalasHapus
  2. Aku pernah beberapa kali meluapkan emosi secara eksplosif karena saking lamanya aku pendem. Bukannya lega, tapi malah jadi ngrasa makin bersalah. Harus belajar lebih sabar dan telaten lagi dalam ngasih tau orang lain kalo emang nggak suka.

    Btw, bibir mecucumu membuat diriku terkekeh kekeh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah kalau emosi terpendam emang dahsyat sih kalau pas meluap huhu. Kalau aku emang dasarnya orangnya ceplas ceplos han. Jadi ya kalau misal sama partner kerja aku bakal jelasin di awal. Aku kayak gini, aku tipenya gini, aku ceplas ceplos gini, gitu2 deh so far mereka paham hehe :D

      Hapus
  3. makasih sharing tipsnya mbk. Dari keempat itu ada beberapa yg juga aku terapin, walau kadang gk selalu berhasil hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak papa mbak kalau nggak berhasil hihi saya pun masih sering gagal. kan ini soal belajar terus ya. Masalah emosi susah susaah gampang

      Hapus
  4. so nice. Aku juga kadang punya masalah sm emosi, sudah di kontrol sih cuma ada perasaan yg gak puas kalau g dikeluarin, tp akunya sadar kalau dikeluarin nnt malah nyakitin orang lain, ada saran g ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saran dari aku sih cuma exhale inhale saat kita marah dan tanemin dalam diri kalau marah itu nggak sehat hehe :). Terus kalau kita udah agak tenang, coba pikirkan kalau kita meluapkan emosi dgn ekspresi A, apakah kita kalau jadi orang lain bakalan terima dikasih ekspresi A? Kalau iya, ya gapapa. menurutku, kontrol emosi itu soal keseimbangan juga mbak hehe. kalau kamu mau disakiti ya kamu menyakiti masih bisa dimaklumi. Tapi lebih baik jangan. itu dari perspektifku :)

      Hapus