Career Story #5 | Pertimbangan-Pertimbangan Sebelum Resign

By Erny Kurniawati - 18.34.00


Sebelum saya menulis tentang Career Story saya pernah iseng-iseng update status di Facebook, saya nanya temen-temen kira-kira cerita tentang karir apa yang sebaiknya saya tulis. Banyak saran yang masuk dan salah satunya soal pertimbangan sebelum resign. Bab ini banyak juga yang bertanya kepada saya secara langsung saat ketemu. Banyak yang nggak nyangka saya bakalan resign dari kantor saya sebelumnya. Menurut mereka yang kaget, saya ini terlihat passionate sekali dengan pekerjaan saya sebelumnya. Saya memang passionate di bidang tersebut, tapi bukan berarti saya merasa cepat cukup di tempat tersebut. So, kali ini saya mau sharing soal pertimbangan-pertimbangan saya pribadi saat mau resign sekitar 5 bulan yang lalu. 

Saya banyak membaca artikel-artikel di Fast Company dan Tech in Asia selama ini. Terutama saat niat ingin resign itu mulai muncul. Seperti kita tahu ya, Fast Company memang sumber yang pas banget untuk kita cari tahu A-Z tentang dunia kerja. Sementara Tech in Asia saya jadikan sumber bacaan karena saya bekerja di digital company yang merupakan start up. Lagi-lagi seperti kita tahu, bahasan yang diangkat oleh Tech in Asia nggak jauh-jauh soal digital dan start up. Makanya, website yang satu itu pas buat saya menggali insight dan informasi, even soal pertimbangan sebelum resign. 

Inget banget alasan utama saya baca ini itu seputar pekerjaan, alasan kita perlu resign, menyiapkan resign, hingga bagaimana tempat kerja baru yang seharusnya saya dapetin adalah biar keputusan saya itu bukan aksi impulsif semata. Yes, saya orang yang overthinking, jadi keputusan resign itu nggak bisa saya ambil secara impulsif. Big no!

Dari hasil baca artikel ini-itu dan kontemplasi dengan diri sendiri, saya akhirnya mendapatkan beberapa pertimbangan sebelum resign. 

I am Bored!


Poin ini juga jadi poin pertama dalam artikel Fast Company. Walaupun terkesan bukan alasan yang jelas, tapi menurut saya kalau rasa bosan itu dateng tiap hari ya bakalan ngasih efek buruk ke produktivitas dan semangat kerja. Saat saya nangkep sinyal bosen dengan pekerjaan sehari-hari, saya nggak langsung mikir "wah waktunya resign". Nggak segampang itu. Saat itu saya mencoba tanya dulu ke diri saya sendiri maunya bagaimana, ekspektasi saya apa, impian saya apa, kenapa saya bosan, potensi saya berkembang dengan posisi saat ini apa, dan banyak pertanyaan lainnya. Saya biasanya bertanya ke diri sendiri setiap malem sebelum tidur. That's why saya suka insomnia. Tipikal golongan darah A, semua-muanya dipikirin detil!

Dari hasil komunikasi sama diri sendiri, saya pun ketemu jawabannya. Ternyata saya bosan karena saya passionate di bidang menulis, tapi saya nggak merasa berkembang di bidang ini ketika bekerja di kantor lama. Setelah nemu jawabannya, saya berusaha cari cara di luar pekerjaan kantor untuk memenuhi kebutuhan jiwa saya saat itu. Solusinya, saya meningkatkan aktivitas nulis blog. Waktu itu awal 2016, saya berjanji untuk lebih sering nulis di blog sebagai usaha mengurangi bosan dengan pekerjaan di kantor. Alhamdulillahnya dari nulis blog ini saya bisa memenuhi kebutuhan untuk diapresiasi. 

But, semakin hari saya nggak bisa bohong kalau saya masih merasa bosan dan semakin bosan. Puncaknya, akhir tahun 2016 saya merasa produktivitas menurun. Sense of bersaing sama temen di kantor nggak ada sama sekali (re: bersaing untuk kinerja yang lebih baik ya!). Saya merasa udah cukup segini aja effort-nya. Nggak perlu ngoyo dan sebagainya. Makin menjadi saat saya selalu merasa sedih pas bangun tidur dan inget harus berangkat kerja. Wah, ini sih udah nggak bisa dibiarkan!

Saya kembali menggunakan metode sebelumnya tentang bertanya ke diri sendiri maunya apa, pengennya gimana, sejauh mana usaha saya, dan segala pertanyaan yang kemudian jawabannya nggak lain bilang "You must let go!" and i do! 

Perasaan bosan terus menerus nggak membantu saya maju, pun nggak bikin prestasi saya di kantor membaik. Jadi, buat apa wasting time di sana kalau memang saya merasa sudah cukup berkembang. Egois? Mungkin, tapi pertimbangan ini sangat perlu saya perhatikan. 

Merasa Tidak Diapresiasi


Haus apresiasi? Saya rasa nggak. Tapi coba kita jujur ke diri sendiri, kita butuh diapresiasi nggak sih saat bekerja? Kalau saya merasa perlu. Saya selalu menjadi lebih bersemangat ketika mendapat apreasiasi dari atasan. Apresiasi ini nggak perlu dalam bentuk bonus atau kenaikan gaji. Bukan pula dipuji di muka umum. Cukup dibilang, "kinerjamu akhir-akhir ini meningkat ya?" atau "thanks ya sudah bertanggung jawab mencapai KPI (Key Performance Indicator or indikator keberhasilan) untuk campaign kemarin" secara personal dan saya pun sudah merasa diapresiasi. Hal-hal kecil seperti ini membantu saya merasa percaya diri dan semakin semangat untuk bisa mencapai target-target lain dalam pekerjaan.

Sebaliknya, bekerja dengan minim apresiasi itu perlahan membuat saya nggak percaya diri. Apalagi kalau apresiasi minim dan kritik/saran nggak ada juga. Wah, ini mah saya jadi bingung. Sebenarnya saya kenapa ya? 

Nah, berhubung saya tahu saya bakalan lebih cepet berkembang ketika diapresiasi, makanya saat di kantor saya nggak mendapatkan itu terus menerus saya pun mantap untuk resign. Lagi-lagi, pertimbangan ini harus diambil dengan kepala dingin dan nggak impulsif ya. Misalnya nih kita analisis dulu, kita nggak diapresiasi tuh karena apa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa mencari tahu sendiri seperti sejauh apa achievement kita untuk pekerjaan, sejauh mana usaha kita selama ini, dan berbagai pertanyaan yang mengandung pertimbangan lainnya. Sepengalaman saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat membantu lho. Saya juga nggak gegabah mengambil keputusan. Makanya untuk akhirnya saya mantab resign saya perlu waktu sekitar 8 bulan. Such a long time! Sebenarnya sih, lebih cepat lebih baik. Tapi, bagi saya pribadi saya nggak nyesel butuh berpikir lama begini.

Baca juga: How to Manage My Emotion


I'm Happier When I'm Outside


Tanda paling penting dari perjalanan saya menimbang-nimbang keputusan untuk resign adalah menemukan diri saya yang happy saat berada di lingkungan luar kantor. I don't know why, but I am happier when I'm outside. Bukan berarti saya nggak seneng ketemu temen-temen kantor, saya seneng toh beberapa di antara mereka sampai sekarang malah ada yang jadi temen terdekat saya. Tapi, saya nggak bisa bohong kalau waktu-waktu saya di luar kantor melakukan aktivitas lain saya malah happy. Saya merasa menemukan diri saya yang seutuhnya di luar dan sejak saya menyadari hal tersebut saya pun tahu kalau bekerja di tempat yang sama dalam waktu yang lebih lama justru akan menyiksa diri sendiri. 

 

No Space for Growth

 

Selain mendapat gaji untuk biaya hidup, bekerja juga harus membantu saya tumbuh lebih baik. Baik dari segi skill, self management, dan banyak hal lainnya. Intinya, bekerja yang ideal di mata saya itu bukan cuma mendapat gaji, tetapi juga memberi kesempatan saya untuk berkembang. Dan inilah alasan terbesar saya resign pada Februari lalu. Saya merasa sudah waktunya pindah kantor karena nggak lagi berkembang di tempat lama.

Keputusan tersebut saya ambil juga atas pertimbangan yang matang dan saya mengingatkan pada diri sendiri kalau saya lah yang bisa membawa perubahan dalam hidup saya sendiri. Kalau saya mau tumbuh lebih, saya pun harus berani ambil risiko dan saya mantap resign.

 

Suasana Kantor & Persaingan

 

Setuju nggak sih kalau suasana kantor dan persaingan di dalamnya punya pengaruh besar dalam hidup kita? Saya sih percaya. Khusus poin yang satu ini saya banyak belajar dari curhatan teman-teman. Kalau masih di lingkup Jogja sih persaingan masih cenderung rendah. Tapi, nggak menutup kemungkinan ada persaingan yang nggak sehat juga.

Bagi saya, suasana kantor yang sudah nggak mendukung impian kita untuk berkembang itu layak untuk jadi pertimbangan resign. Apalagi kalau kita udah nggak punya circle yang saling mendukung.  Wah nggak enak banget deh kerja, tapi cuma kental suasana persaingan dan minim suasana saling ngedukungnya.


Pertimbangan-pertimbangan untuk memutuskan resign setiap orang pastinya beda-beda ya. Kalau beberapa poin di atas itu pertimbangan ala saya dan hasil dengerin cerita temen-temen juga. Temen-temen yang pernah memutuskan pindah kantor, alasanmu kenapa sih? Share yuk!

Baca juga: Kuliah Sambil Kerja


  • Share:

You Might Also Like

18 komentar

  1. Jadi baca lagi career story mbak yg sebelum sebelumnya. Thanks for sharing mbaa cuco bets buat situasi saya terkini XD

    a-nisah.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anisah thanks for reading ya. Sungguh, seneng banget kalau tulisannya membantu :)

      Hapus
  2. Mba Erny,

    postingan ini ngena & pas ke hati aku. sampai aku baca berulang-ulang loh, biar gak ada satu pesan km yang aku miss.

    https://alsheilaaa.blogspot.co.id/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sheila lagi mau resign yah? Hehe, hope it helps you ya! Thanks juga udah mampir baca tulisan ini ;)

      Hapus
  3. Erny, mostly bener bgt nih poin-poin yang kamu sebutkan. Tapi kalo boleh nambahin, terlalu sering lembur (lembur disini gak hanya lembur di hari kerja. Tapi juga sabtu- minggu) dan tidak diberikan upah lembur juga bisa bikin seseorang nggak betah & memutuskan resign :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau itu mah nggak perlu disebut lagi. Itu namanya nggak memperhatikan kesehatan jiwa pegawainya. Iya kan? Soalny tuh ya kalau weekend kita sibuk kerja tuh so far aku ngerasa mood swing.

      Hapus
  4. Setuju banget, apresiasi yang layak dan memanusiakan manusia lah kalo aku yaa. Selama masih ngedapetin itu, aku bakal stay.

    Kalo nggak, ya kayaknya resign jalan terbaik.

    Sekarang udah dapet kerjaan baru ya Er?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess mbak, karena kan kita kerja bukan aksi sosial ya 😊 so fair lah kalau kita mestinya dimanusiakan gitu.

      Sudah mbak. Alhamdulillah hehe

      Hapus
  5. Bagi saya saat kita merasa worklife kita udah ga balance gara-gara kerjaan itu udah harus kita pikir lagi dan bertanya apa kita akan terus hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup? Apresiasi juga yang berani keluar dari zona nyaman kayak gini, keren Mbaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, setuju Mas! Kita hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup. Iya diberaniin mas mumpung tanggungan baru diri sendiri so, untuk keluar dari zona nyaman nggak nyusahin orang lain terutama keturunan :)

      Hapus
  6. Kalo lg di comfort zone agak susah juga yah Mbak. Hahaha.. ada perasaan bimbang dan takut juga. Padahal banyak yg blg kalo uda di zona nyaman uda harus lebih diperhatikan. Jadi bingung juga :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku sih kalau ada di Zona nyaman tapi kitanya tetep on the track mengalami kemajuan dari segi skill, passion, dan lainnya (sesuai goalmu) it's ok to stay. kita kerja kan emang pengen membuat hidup lebih nyaman kan? Hehe, bahkan resign itu salah satu mengejar kenyamaan juga menurutku hehe :D Ini in my opinion yah

      Hapus
  7. Aku terpaksa resign setelah kerja selama 8 tahun karena nggak ada apresiasi untuk kerja keras, tak ada eningkatan status dan nggak ada kenaikan gaji. Hehhe. Padahal aku nyaman banget karena dekat kantor. Tapi hidup memang harus diperjuangkan. Hehhee

    BalasHapus
  8. Waaaw 8 tahun tanpa peningkatan dan mbak betah? Aku amaze!

    BalasHapus
  9. Harusnya aku baca beberapa point ini sebelum 6 bulan lalu resign.
    Kalau aku resign karena situasi kantornya nggak kondusif yg ujung2nya ga ada lahan buat berkembang. Nyesek memang, padahal pekerjaannya yang saya idam-idamkan banget, tapi apadaya keluar memang jalan terbaik :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Desty, pas aku kerja di kantor sebelumnya juga aku suka sama kerjaannya tapi nggak tau kenapa aku kok merasa setiap hari itu berat banget, so i choose to leave. Dan beneran jadi better. So, menurutku nggak salah kok mengambil keputusan ky kamu gitu hihi. Semoga pekerjaan baru membawa faktor luck lebih banyak lagi yah!

      Hapus
  10. I feel you.. dulu say berhenti kerja karena alasan anak. Anak sudah mulai masuk SD dan butuh mamanya di rumah. Tapi sebenarnya ketika anak pertama lahir saya sudah pengen berhenti kerja, hanya keuangan keluarga belum cukup mantap kalau hanya satu orang yang bekerja. Alhamdulillah akhirnya pada satu masa saya bisa berhenti.. It feels so liberating, semua point kamu diatas saya rasakan semuanya... sekarang saya kerja dari rumah, doing my passion in social media and working with people who appreciate me better than my old job. Gajinya juga hampir mirip dengan kerjaan kantoran ku dulu.. lebih rendah, tapi cukup lah buat emak2 rumahan ini nabung buat traveling bersama keluarga.. jadi gaji suami bisa buat tabungan masa depan anak2 :D..

    BalasHapus
  11. sama mb, saya dulu juga butuh banyak pertimbangan untuk resign dari tempat kerja yang lama..

    BalasHapus