Lebaran dan Pernikahan

By Erny Kurniawati - 08.30.00


Temen-temen gimana lebarannya? Sudah dapet pertanyaan kapan nikah? 

Sebelum lebaran tiba hingga beberapa hari setelahnya, timeline di media sosial saya dipenuhi topik 'kapan nikah'. Untuk orang-orang seusia saya (re: mulai 22 tahunan ke atas) lebaran memang dihantui oleh pertanyaan kapan nikah. Sampai-sampai media online pun banyak yang mengangkat konten seputar itu demi pageview atau engagement yang tinggi! Termasuk tulisan saya kali ini *evil laugh*

Soal reaksi orang-orang dengan pertanyaan 'kapan nikah?' ada beragam. Ada yang galau, ada yang menghindar, tapi ada pula yang cuek, dan senang dapet pertanyaan tersebut. Kalau saya pribadi sih tipe yang cuek tapi senang. Cuek karena keputusan untuk menikah nggak bakal saya ambil hanya atas dasar komentar orang, senang karena nggak sedikit yang mendoakan saya supaya segera menikah. Tapi tetap, pertanyaan kapan nikah itu nggak punya andil besar dalam keputusan saya. Hehe. 

Justru ada beberapa hal lain yang membuat lebaran kali ini sedikit istimewa bagi saya. Ini masih ada hubungannya dengan persoalan menikah!

Lebaran kali ini saya nggak dapet banyak pertanyaan kapan nikah. Ada sih, tapi nggak banyak. Justru di lebaran kali ini saya harus mendengar kabar kurang menyenangkan dari teman-teman lama saya. Mayoritas dari teman masa kecil saya (di SD dan Majlis tempat ngaji) sudah menikah, tapi tidak sedikit juga yang rumah tangganya kurang bahagia. Perceraian pun tidak terelakkan. Perasaan saya saat tahu kabar itu tentu langsung sedih, ngilu, dan nyeri di hati. Bagi saya yang korban broken home, perceraian itu bencana terburuk dalam hidup. 

Bukan cuma teman, beberapa kerabat jauh saya juga mengalami hal yang sama. Rumah tangga nggak bisa dipertahankan. Dari sekian banyak kisah perceraian yang sampai di telinga saya, semuanya punya masalah yang berbeda-beda. Mulai dari yang tampaknya hidup berkecukupan sampai yang pas-pasan. Mungkin karena banyak kabar nggak sedap soal pernikahan ini yang membuat pertanyaan 'kapan nikah' nggak banyak diajukan kepada saya. 

Dari cerita-cerita soal pernikahan yang saya dengar selama lebaran ini, saya jadi banyak merenungkannya. Renungan itu sampai pada titik saya sadar kalau sebagai manusia kita memang harus mempersiapkan yang terbaik, tapi harus siap dengan kondisi terburuk. Begitu pun dalam hal menikah. 


Terus endingnya, saya malah merasa kepengen nikah. Lhah kok bisa? Kalau mungkin orang lain jadi mikir-mikir habis denger cerita peliknya hidup berumah tangga dan begitu sulitnya mempertahankan pernikahan, saya justru merasa siap. Ketakutan saya malah nggak muncul sama sekali saat tahu cerita yang kurang menyenangkan soal pernikahan tersebut. Perasaan takut yang tidak muncul itu membuat saya yakin kalau diri saya ternyata sudah mulai siap sekalipun belum 100%

Tidak berhenti di situ, lebaran kali ini saya seperti mendapat wejangan-wejangan yang membuat saya makin mantab untuk segera berpikir ke arah sana. Ada yang bilang kalau nemu pasangan seperti ini, ini, dan ini, maka jangan ragu buat dijadiin partner hidup. Alhamdulillahnya saya merasa sudah menemukannya. :')

Saya juga sempat ketemu beberapa stranger sebelum lebaran yang nggak tahu kenapa semuanya bapak-bapak dan ngomongin soal ciri lelaki yang menurut pengalaman bapak-bapak itu serius serta layak dijadikan bapak untuk anak-anak. Alhamdulillahnya saya berhasil ngasih checklist lagi ;)

Masih di momen lebaran ini juga saya ketemu banyak teman lama. Mulai dari temen SMA, temen Majlis saat ngaji, dan lainnya. Pertemuan tersebut membuat saya inget masalalu dan kemudian sadar kalau ternyata saya sudah berjalan jauh. Saya yang sebelumnya merasa stagnan dan merasa minim pencapaian tiba-tiba sadar kalau ternyata saya terus bergerak maju dari waktu ke waktu. Walau langkah yang saya buat tidak panjang, tapi bagi saya tetap maju itu termasuk pencapaian. Saya pun semakin sadar kalau sudah ada banyak perubahan ke arah lebih baik yang saya capai sejak sama-sama Dhimas. Begitupun ketika  mengingat-ingat bagaimana dirinya saat pertama ketemu saya dulu sampai sekarang. Ada perubahan yang tak kalah banyak!

Banyak pencapaian saya hingga titik ini yang nggak lain hasil dukungannya. Sampai di sini saya semakin disadarkan lagi kalau dukungannya yang seolah tak terlihat itu punya pengaruh besar dalam hidup saya. Karena terus didukung ini, saya merasa yakin kalau dia bukan sekadar pasangan tapi partner yang membantu mewujudkan satu persatu impian saya.

Perasaan yakin pun bertambah karena dukungan dari keluarga. Kalau keluarga saya sih nggak perlu ditanya. Perasaan mantap buat mikirin nikah itu muncul lantaran saya merasa sudah diterima dalam keluarganya. Semakin dibuat GR sama ibunya Dhimas yang tiba-tiba ngenalin saya ke tamu-tamu dan dianggap anak sendiri. Duh, habis itu saya yang tadinya baru 50% memikirkan pernikahan langsung melonjak jadi 70%. Kalau ada yang tanya kok baru 70%, jawabannya 30%-nya lagi saya sedang mikirin gimana caranya cepat wisuda dan dana nikah terkumpul! :D

Intinya sih lebaran tahun ini saya seperti ngumpulin puzzle yang bikin yakin untuk mikirin pernikahan. Kalau temen-temen mau tanya kapannya, mending diganti dengan doain saya supaya dana terkumpul dan finansial planning yang matang tersusun! Walaupun kondisi ekonomi nggak mutlak menentukan langgeng tidaknya suatu pernikahan, tapi saya tetap harus buka mata kalau data menunjukkan angka perceraian banyak disebabkan oleh faktor tersebut.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar