Saya (Pernah) Ingin Bunuh Diri

By Erny Kurniawati - 20.01.00




"Kenapa ya orang-orang yang bunuh diri itu kok kepikiran bunuh diri gitu. Kaya nggak punya agama aja untuk pegangan." said a lot of people. Termasuk saya!

Beberapa hari ini info bunuh diri sedang hangat diperbincangan di berbagai lini media sosial. Mulai dari kematian Oka Mahendra Putra yang nggak lain adalah mantan Awkarin, kemudian disusul oleh berita kematian dengan gantung diri oleh vokalis Linkin Park Chester Bennington. Keduanya disebut-sebut mati dengan cara bunuh diri, sekalipun untuk kasus Oka, ayahnya sudah konfirmasi kalau putranya meninggal karena collapse by design.

Hasil dari baca-baca artikel sana-sini, saya sih memahami collapse by design sebagai kondisi orang yang sedang depresi lalu tak punya teman sehingga kondisinya semakin parah karena kesepian. Kalau belum pernah ngalamin depresi, pasti situasi itu nggak terbayangkan banget sih.

Dari berita-berita dan obrolan di berbagai media sosial yang semuanya membahas soal bunuh diri itu, saya sempat ikut-ikutan dengan temen-temen lain mempertanyakan, "kok bisa sih orang-orang itu kepikiran bunuh diri? Kayak nggak punya agama!" Pertanyaan saya ini seolah-olah wajar muncul, tapi kemudian saya terdiam dan merenungi pertanyaan tersebut seharian kemarin. Saya renungkan lagi pertanyaan yang sempat mampir di kepala saya itu setelah browsing sana sini mencari tahu pemicu kematian Oka dan Chester tersebut. Dari berbagai artikel yang saya baca, kematian mereka disebabkan oleh satu hal yang sama yaitu, depresi.

Kemudian saya mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana rasanya depresi yang pernah saya alami beberapa tahun silam. Satu hal yang begitu lekat diingatan saya soal depresi, kelam. Depresi itu benar-benar membuat metally ill dan tak punya harapan. Rasanya sejauh mata memandang, semuanya gelap. Masa kini gelap, apalagi masa depan.


Ingatan itu membuat saya sadar, kalau pertanyaan seperti di atas semestinya tidak terlontar, apalagi dari saya yang pernah ngalamin masa-masa sulit dan juga pernah ingin bunuh diri. Soalnya kita nggak pernah bener-bener tahu gimana sulitnya hidup orang lain kalau kita nggak pernah berdiri di posisi mereka.

Saya pun kembali mengingat-ingat penyebab saya depresi 8 tahun yang lalu. Saat itu saya masih kelas 3 SMP, tepatnya bulan Januari 2009. Menjelang try out UAN pertama, saya harus mengalami masa-masa sulit yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tanggal 10 Januari 2009 petang, bapak saya pulang ke rumah dengan mata merah dan basah. Bapak saya nggak pernah menangis dan sore itu, dia nggak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Sambil menahan air mata, bapak saya mengemasi baju-baju di lemari dan dimasukkan ke dalam travel bag. Sesaat setelah itu, bapak memeluh saya dan adik saya yang masih berusia 8 tahun. Kami menangis bersama-sama karena bapak bilang, mungkin hari itu hari terakhirnya serumah dengan kami dan bapak minta maaf nggak bisa lagi menjalani rumah tangga bareng ibu.

Sulit untuk saya mencerna kalimat pamitan bapak sore itu. Sejak saat itu, hidup saya berubah. Saya yang sebelumnya dibesarkan dalam keluarga serba kecukupan dari segi materi hingga kasih sayang, tiba-tiba harus dapet kenyataan  pahit begitu. Belum lagi sebagai anak pertama, saya harus jadi penguat untuk adik saya yang waktu itu masih kelas 2 SD. Saya harus menjelaskan kenapa bapak nggak balik ke rumah lagi, saya harus menguatkan adik setiap kali dia menangis karena dibully nggak punya bapak, sampai saya sendiri harus tutup telinga rapat-rapat karena lingkungan sekitar membuat gosip ibu saya selingkuh sehingga bapak minggat.

Masa-masa itu adalah turning point sekaligus masa tersulit dalam hidup saya. Nggak mudah menerima kenyataan orang tua berpisah disusul dengan lingkungan yang memojokkan ibu saya. Belum lagi, beberapa keluarga bapak menyalahkan saya dan adik karena memilih tinggal bersama ibu. Kondisi itu mengantarkan saya pada kondisi depresi.

Saya tidak bisa bercerita kepada ibu tentang kekecewaan yang saya alami. Saya nggak bisa mengeluh karena kondisi keluarga yang carut marut. Saya justru harus kuat di hadapan adik saya. Saya ingat sekali, saat adik saya selalu tampak ceria di depan ibu, tapi sering menangis saat hanya berdua bareng saya. Masa-masa itu membuat saya menyalahkan keadaan. Saya protes kepada Alloh kenapa saya yang taat beragama, nurut orang tua, nggak neko-neko, tapi harus diuji dengan cara begini?

Tanpa saya sadari, ternyata saya mulai mengalami depresi. Saya mulai melepas jilbab dan pakaian tertutup saya. Saya sempat terpikir untuk hamil di luar nikah (padahal pacar aja nggak punya) dan bunuh diri. Saat itu, setiap kali saya melihat pisau saya kebayang untuk menyayat urat nadi di tangan. Beruntung saya punya sahabat sejak kelas 1 SMP yang membantu saya untuk tetap punya semangat hidup. Saya ingat betul, temen saya ini beberapa kali bilang, "jangan rusak dirimu please. Aku pernah merusak diriku lho dan aku nyesel, tapi aku nggak bisa ngembaliin hidupku. Jadi jangan rusak masa depanmu."

Ucapan itu masih terus terngiang di pikiran saya. Kalau tanpa dia, saya nggak tahu bagaimana kondisi saya saat ini. Depresi membuat saya begitu butuh orang lain sebagai teman. Karena setiap kali merasa kesepian, saya selalu kepikiran untuk melakukan hal-hal buruk. Belum lagi perasaan kesepian dan dipojokkan itu membuat saya merasa nggak ada gunanya hidup. Dulu saya pengen bunuh diri karena saya ingin memberi pelajaran kepada orang tua dan juga bentuk protes pada Alloh. Saya pengen bilang ke orang tua, "gara-gara keegoisan kalian kami menderita," dan protes kepada Alloh karena merasa jadi umat yang taat tapi kenapa diuji seperti ini.


But at the end saya sadar, kalau bener kata temen saya itu. Kalau saya sampai mengambil keputusan yang salah, bisa jadi saya bakalan lebih sakit. Belum lagi setiap melihat ibu, perlahan saya sadar siapa sih yang mau bercerai? Nggak ada pasangan suami istri yang pengen begitu, tapi kadang realita berkata lain. Saya pun perlahan menerima kenyataan itu walau dengan susah payah. Caranya, setiap kali depresi itu memburuk saya tidur di rumah temen tadi. Kalau ada waktu luang, saya gunakan untuk baca novel dan nguatin perasaan adik. Saya yang sempat lepas jilbab, enggan mengaji, dan kecentilan cari perhatian perhatian pun perlahan berubah seperti semula. Saya cerita ini karena saya ingin orang lain tahu bahwa depresi dan pikiran bunuh diri itu bisa menghinggapi siapa saja. Nggak lihat dia orang yang secara agama kuat atau nggak, nggak lihat juga anaknya baik-baik atau nggak. Intinya, saat seorang depresi itu kesepian dan semakin terhimpit oleh judgement lingkungan, pikiran untuk mati itu semakin besar.

Tulisan kali ini saya buat setelah saya kaget melihat reaksi temen-temen di Instagram sesaat setelah saya upload insta-story tentang pengalaman saya yang pernah ingin bunuh diri. Balasan mereka membuat saya tahu kalau ternyata bukan cuma saya yang ngalamin depresi sampai ingin bunuh diri, ternyata banyak yang membalas story saya dengan cerita hidup mereka yang tak jauh berbeda dari saya. Nggak sedikit juga yang bilang kalau mereka suka takut bercerita ke orang lain soal depresinya karena takut dihakimi dan berakhir semakin menyakiti diri sendiri. Dari sinilah depresi itu semakin menjadi-jadi. 

Padahal apa yang dibutuhin oleh orang yang sedang depresi itu adalah teman pendengar. Mereka nggak selalu menuntut diberi solusi atas masalahnya, yang terpenting dia nggak merasa kesepian. Siapapun yang menjadi pendengarnya, orang yang sedang depresi cuma butuh suntikan semangat dan sugesti kalau mereka worth to life. Soalnya saat orang ini mengalami putus asa ya semua yang ada di pandangannya itu gelap. At least, itu yang saya alami beberapa tahun lalu. 


So, kalau ada temen atau siapapun di lingkunganmu yang sedang putus asa, depresi, or whatever you name it, sebisa mungkin jadilah pendengar untuk mereka. Once again, mereka nggak perlu diberi solusi setiap kali curhat, cukup puk-puk dan berikan sugesti positif, setidaknya itu membuat dia nggak merasa hidup sendiri. 

Anyway, pernah ada yang punya pikiran bunuh diri? Let's share with me! Yuk, sama-sama nguatin!

  • Share:

You Might Also Like

24 komentar

  1. Akhirnya kamu share juga er. Yaa, depresi memang sangat sulit kalau sendiri. Parahnya lagi, sebenernya nggak pengen sendiri, tapi juga bingung mau pergi ke tempat siapa, mau cerita ke siapa. Nggak mau ketemu orang tapi nggak mau sendirian. Thanks udah share err

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena takut dijudge ya Bel? Atau gimana? Kalau aku personally karena males cerita takut orang lain nggak nanggepin :)

      Hapus
  2. "Once again, mereka nggak perlu diberi solusi setiap kali curhat, cukup puk-puk dan berikan sugesti positif, setidaknya itu membuat dia nggak merasa hidup sendiri."

    Ini aku setuju banget. Peluk virtual untukmu, Erny! Kadang aku juga sering pendam aja, karena ngga ingin dijudge, yang justru malah bikin tambah depresi. Alhamdulillah, aku juga ada satu teman yang bisa dipercaya, dan selalu bisa saling menguatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yass! Makasih ya :') beruntung ya kita punya temen yang menguatkan. Alhamdulillah aku udah bener2 kelar dengan masalah di atas, jadi udah enteng hidup ini hehe :D

      Hapus
  3. Aku juga suka sebel deh yang bilang kalo orang mau bunuh diri karena enggak deket sama Tuhan-lah, enggak punya agama-lah, padahal sebenernya enggak selalu begitu kaan. Thanks for sharing yaaa.. Rasanya aku pun jd ingin berbagi pengalaman terkait depresi yang sempat aku alami juga. Hugsss buat Erny! :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berbagi!!!! aku tunggu tulisanmu :') makasih ya :* See you di Jogja!

      Hapus
  4. Aku nggak pernah sih, kepikiran untuk bunuh diri (semoga nggak akan pernah).. Tapi aku pernah punya temen yang ingin bunuh diri, sampai dia menyayat tangannya, terus kirim fotonya ke aku. Padahal kalau aku liat, si temanku ini kelihatannya oke-oke aja. Karier mapan, keluarga oke, agama bagus, dsb.. Aku mengerti itu depresi. Depresi itu bukan hal remeh kok emang. Akhirnya aku bujuk si teman untuk ke psikolog dan alhamdulillah skrg sembuh dan nggak ada pikiran bunuh diri lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah mbak kalau temenmu udah baikan. Alhamdulillah :')

      Hapus
  5. Kadang orang depresi suka pintar menyembunyikan, jd kalau ngga cerita keluarga & temen2nya ngga akan tau.. #pengalaman semua orang bisa kena depresi, masalahnya apakah dia bisa bangkit dari keterpurukan atau tidak, tergantung kekuatan mental org tersebut. Alhamdulillah Erny bisa bangkit lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Sandra. Kayaknya ibuku sampai sekarang juga nggak tahu. Waktu SMA temen-temenku juga nggak pada tahu hehe. Iya alhamdulillah termasuk beruntung saat itu

      Hapus
  6. Aku jadi pengen cerita tapi bingung harus mulai darimana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puk-puk, aku pernah juga bingung ceritanya dari mana. Cerita di tulisan ini bahkan cuma secuil banget dari jalan panjangnya huhu.

      Hapus
  7. Kalau aku sejak kecil keluarga udah kayak kapal pecah. Bahkan aku kepikiran bunuh diri pas kelas 5 SD saat masih di Jakarta. Kumat lagi pas masuk SMP model model nyayat tangan lah, cari perhatian lah dll. Dan aku ngerasa lho perlakuan mengucilkan orang sekitar, sampai guru BK pas SMP bukannya melindungi malah menjudge yang gak-gak. Sejak itu semua perlakuan orang-orang selalu aku buat cambuk buat diri sendiri. Dan memang terbukti, orang yang dulu mencela, sekarang balik ke dirinya sendiri. Dan memang gak semua depresi berujung bunuh diri, kembali lagi ke dirinya masing-masing, mau berusaha atau mau menyerah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener Kak Niet. Sekolah pun kadang malah mengucilkan orang-orang yang kena depresi. Lucky you bisa berusaha terus dan sampai sekarang. Sama-sama menguatkan ya!

      Hapus
  8. Sejauh ini belum pernah, dan jangan sampai.
    Tapi aku pernah lho gara gara putus sama pacar yang udah 4th nikah malah depresi buka jilbab dan centil gitu wkwkwk.
    kadang kalau di-liat liat sekarang sih, kok ya bodoooooooooh gitu kan?
    Kepikiran apa?

    Tapi waktu itu ya bener kata kamu sih er, depresi itu bisa datang kesiapa saja.
    Beneran.
    Ga peduli se-sepele apa masalahnya.

    Kalau di ingat2 mungkin aku keliatan bego banget.
    Tapi ya gimana, itu reflek ketika kecewa sama yang udah bertahun2 memberikan harapan lalu putus dan seminggu kemudian jadian sama yang lain, yang sepertinya menyebabkan hubungan itu retak.

    Yhaaa kenapa aku jadi curhat?
    WKWKWKW
    yha mungkin masalahku yang bikin depresi waktu itu gak seberat kamu er.
    Tapi bener sih, waktu itu yang aku butuhin cuma temen sebenernya.

    Dulu waktu punya pacara yang itu, aku kemana mana sama doi sampe jarang punya temen.
    Giliran putus.
    Nah
    Gaada temen deh
    Itu yang bikin depresi.

    Untung sih ada temen yang mau denger.
    Meskipun gaada solusi.
    At least, ada yang mau denger.
    Dan aku pun dikuatkan.
    Dan pikiran ku kembali sadar.

    Yes aku masih berharga kok.
    Ngapain nangisin yang gak mungkin peduli lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salahhhhhhhhhhhhhh kenapa ada nikahnya WKWKWK
      4th pacaran maksudnya.

      Bweeeeeeeeh *kurang FOKUS* WKWKWKWK

      Hapus
    2. Nah, mungkin karena dari pacaran udah kurang sehat ya (i mean, kalau kita pacaran tapi terlalu sering sama pacar dan nggak deket lagi sama temen itu nggak sehat) Jadinya giliran temenmu satu2nya which is pacarmu ngecewain kamu, kamu jadi depresi gitu.

      Hapus
  9. This is what people don't understand sometime. Kalau aku lihat di kolom komentar berita-berita tentang depresi yang lead ke bunuh diri, komentarnya pada ngebercandain.

    SO FUCKING INSENSITIVE. BODO AMAT MISUH, AKU UDAH NGGAK TAHAN.

    Aku sendiri pernah ngalamain depresi. Ciri-cirinya nggak mau ngapa-ngapain, nggak mau ketemu siapapun, di kamar terus, tidur buat ngelupain, bangun inget lagi, tidur lagi.

    Tapi cerita ke siapapun rasanya muspro, nggak guna. Nge judge semua dan bilangnya "gitu doang". Maybe it's time to be more sensitive and care for others problems, esp when they tell us their stories.

    Thank you Erny udah sharing tulisan ini. Let's be stronger :'))

    BalasHapus
  10. Aku pernah ngalamin hal yang sama kaya mba erny. Sejak kelas 1 SMK aku mau coba bunuh diri karena ibuku nikah lagi, bahkan pas aku dijauhin temen gara2 serjng bikin status dj facebook dan bbm. Dan sampai sekarang aku masih melakukan hal yang sama karena mereka nggak suka dengan kehidupanku di dunia maya dan nyata bahkan aku kalo nggak punya pasangan hidup aja mau bunuh diri. Aku emang kurang sosialisasi dama temen2 lain disebabkan aku orangnya sensitif

    BalasHapus
  11. Akupun pernah depresi:") sebelas dua belas kasusnya sama aku. Mangkanya kalau ada orang depresi rasanya pengen aku peluk, aku temenin.

    limlimzi.blogspot.co.id

    BalasHapus
  12. Ya Allah Er,

    aku mewek looooh baca ini :(

    Peluk jauh :) Terimakasih untuk ceritanya

    BalasHapus
  13. Erny hebat banget, aku bacanya cuma bisa bilang salut luar biasa :".
    Aku gak bisa berkata-kata, bisa peluk virtual aja dari jauh :")

    BalasHapus
  14. salut banget kk bisa mengatasi rasa depresinya sekarang, perpisahan orang tua memang menyakitkan meskipun aku belum dan gak mau mengalaminya tapi aku ngerti.. sedih banget bacanya, rasanya sakit meskipun bukan aku yang mengalami.. semangat terus ya kak.. :`(

    BalasHapus
  15. Tulisan yang sangat baik. But, mungkin memang benar hidup bukan untuk semua orang.

    BalasHapus